Koran Jakarta | January 18 2018
No Comments

Rekaman Penghancuran Buku dalam Lintasan Sejarah

Rekaman Penghancuran Buku dalam Lintasan Sejarah
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Penghancuran Buku dari Masa ke Masa

Penulis : Fernando Baes

Alih Bahasa : Lita Soerjadinata

Penerbit : Margin Kiri

Tahun : Mei, 2017

Tebal : 410 hlm

ISBN : 978 979 1260 68 8

Jumlah buku rusak, hancur, atau hilang dari dulu sampai sekarang tidak ada rujukan. Namun dari catatan sejarah, penghancuran buku terjadi terus-menerus sepanjang masa, dulu hingga kini, di mana pun.

Secara garis besar, buku yang ditulis dalam waktu 12 tahun plus enam tahun untuk mengoreksinya dapat dibagi ke dalam dua bagian. Pertama, data pembakaran buku dari masa ke masa. Kedua, penyebab penghancuran buku. Dalam buku ini dikemukakan, penghancuran terjadi di Timur Tengah, Mesir, Yunani, Israel, Tiongkok, Romawi, Spanyol, Jerman, Inggris, Meksiko, Italia, Amerika Serikat, dan sejumlah tempat lain.

Buku pertama muncul di wilayah kering Sumeria, dulu Mesopotamia (sekarang Irak Selatan) sekitar 5.300 tahun lalu. Sejak kehadirannya, buku sering dihancurkan. Saat itu, buku cepat menghilang. Sebagian mungkin karena materialnya tidak begitu kuat karena terbuat dari tanah liat. Sebagian lagi karena bencana alam seperti banjir, atau tangan manusia yang meremukkan. Di Mesopotamia tidak ada yang tahu jumlah buku hancur. Namun bisa mencapai 100.000 (hal 27).

Pembakaran buku juga terjadi di Mesir. Akhenaton, pelopor monotoisme, menjadi salah satu orang pertama yang membakar buku. Dia menyuruh naskah-naskah rahasia dihancurkan agar agama yang dianutnya unggul (hal 41). Orang Indian juga menghancurkan banyak karya tulis. Misalnya, Itzcoal, raja Astec keempat, memerintahkan pembakaran (hal 148).

Di Yunani antara tahun 500 hingga 200 SM ada 2.000 lebih karya teater yang dibuat, tetapi hanya sekitar 46 yang bisa kita baca saat ini. Serbuan dan pendudukan Jepang membumihanguskan 224.000 buku di Institut Teknologi Heipei dan sebanyak 200 ribu buku lenyap dari Universitas Nasional Tsinghua, China (hal. 255). Perpustakaan Kota Madya Zadar yang dibangun tahun 1857 dengan koleksi 60.000 buku, dibom pada tanggal 9 Oktober 1991. Koleksi partitur dan buku-buku sekolah musik rusak parah (hal 277).

Ada berapa sebab terjadinya penghancuran buku. Kebakaran dan gempa bumi telah memusnahkan teks-teks Yunani dalam jumlah yang tidak terhitung (hal 77). Perang adalah sumber utama kehancuran buku. Blade mengemukakan, penyebab kehancuran buku atara lain api, air, gas, panas, debu, penelantaran, kecerobohan, kedengkian, kutu, ngengat, anak-anak, dan pelayan (hal 204).
Menurut sejarawan Charles Schefer, pada saat koleksi Pineli, humanis Italia dikirim ke Napoli saat berada di antara Venesia dan Ancona, bajak laut Turki, mengira kapal-kapalnya mengangkut emas atau batu-batuan berharga. Mereka membajak dan menggelamkan satu kapal yang membawa 33 peti buku antik (hal 182-183). Hilang dan musnah kerap kali sulit dibedakan dalam sejarah buku karena kadang sebuah karya hilang dimusnahkan. Lain kali karena memang hilang. Yang jelas, teks-teksnya sudah tidak ada lagi.

Mengenai pelaku pembakaran, buku ini menyajikan data yang cukup bertolak belakang dengan anggapan selama ini terhadap filsuf. Filsuf selama ini seringkali diindentikkan dengan kearifan dan kebebasan berpikir. Namun dalam buku ini dikemukakan, Plato mungkin sekali membakar buku. Ada cukup alasan untuk meyakini bahwa Plato memberangus kebebasan bicara yang tidak sejalan dengan kebenaran (menurut sistemnya). Bahkan Plato juga tidak memandang banyak manfaat buku-buku. Plato mengemukakan, tulisan akan berakibat diterlantarkannya ingatan manusia (hal 51).

Karya Aristotles saat ini hanyalah catatan-catatan yang dikumpulkan dan dilestarikan para penggila buku atau murid-muridnya. Dialog-dialog, berbagai tulisan, surat, dan puisi pertama Aristotles lenyap (hal 59). Kaisar Caracalla (hal 118) yang saat gilanya sedang kumat memerintahkan pembakaran buku-buku Arisototles karena menganggap telah meracuni Iskandar Agung (hal 75). Ketidaksukaan atas sebuah pemikiran menjadikan buku hilang dari peredaran atau dimusnahkan.

Namun, penghancuran tidak menjadikan penerbitan buku berkurang atau hilang. Sekalipun ada yang harus mempertaruhkan jiwa raga kelahiran buku baru tidak pernah terbendung. Penerbitan buku dari waktu ke waktu tetap eksis sekuat apa pun tenaga mengadangnya. n
Diresensi Dr Binoto Nadapdap, Dosen Pascasarjana UKI

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment