Koran Jakarta | August 26 2019
No Comments

Rasional Membangun Hunian Vertikal

Rasional Membangun Hunian Vertikal

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Jakarta sangat padat tapi pembangunannya melebar horizontal, membuat penggunaan lahan tidak efisien.

Program pemerintah terkait pembangunan sejuta rumah harus dirasakan masyarakat urban di wilayah perkotaan. Meski terkendala sempitnya lahan dan makin tingginya harga tanah, regulator dan pengembang perlu melalukan terobosan hingga makin banyak hunian yang dibangun.

Salah satu yang perlu dilakukan adalah membangun secara masif hunian vertikal atau rumah susun. Membangun hunian vertikal adalah langkah yang paling rasional untuk dilakukan.

Lembaga konsultan Jakarta Property Institute adalah salah satu lembaga publik yang mendorong agar pemerintah DKI Jakarta membangun hunian ke atas atau vertikal. Ini sebagai sebagai solusi mengatasi kepadatan ruang akibat perencanaan tata kota yang kurang efektif. “Jakarta sangat padat tapi pembangunannya melebar horizontal, membuat penggunaan lahan tidak efisien.

Jakarta perlu membangun hunian vertikal,” ujar Direktur Eksekutif Jakarta Property Institute Wendy Haryanto.

Wendy mengatakan pembangunan hunian vertikal itu juga untuk mengatasi mahalnya harga properti yang salah satunya disebabkan oleh lahan yang semakin terbatas.

Selain itu, mahalnya hunian di Jakarta juga disebabkan karena harga tanah yang tinggi, sehingga hunian terjangkau nonsubsidi yang dibangun pengembang sebagai program dari kebijakan sosial berakhir tak efektif.

“Dengan menambah ketersediaan ruang, maka semakin mungkin untuk menyediakan hunian terjangkau,” kata dia.

Menurut dia, masalah ketersediaan lahan strategis ini sebenarnya bisa diselesaikan apabila pemerintah mau melakukan terobosan. Salah satunya, menggandeng BUMN atau BUMD untuk mengoptimalisasi aset lahan mereka.

Saat ini banyak BUMN atau BUMD yang memiliki gedung satu atau dua tingkat di lahan yang cukup luas di Jakarta. Lahan tersebut punya potensi yang dapat dijadikan hunian vertikal mencapai sekitar 500 hektare.

“Cara ini bisa diterapkan seperti di terminal, pasar, dan stasiun. Lantai di bawah tetap berfungsi sebagai terminal atau pasar. Sementara di atasnya bisa digunakan untuk hunian terjangkau,” kata dia.

Wendy menambahkan kehadiran sarana transportasi seperti MRT dan LRT juga bisa jadi kunci pemanfaatan lahan yang lebih efisien, terutama bagi area dekat stasiun, yang dapat dikembangkan dengan lebih optimal.

“Kita punya 500 hektare itu industri di dalam Kota Jakarta. Itu akan di lewati LRT dan MRT, kenapa itu tidak dijadikan housing,” kata dia.

Lokasi MRT

Sementara, Lembaga Konsultan Properti Jones Lang LaSalle (JLL) mencatat geliat pemasaran hunian kuartal I 2019 di Jakarta semakin terlihat condong pada lokasi yang sejalan dengan proyek transportasi massal Moda Raya Terpadu (MRT).

Angela Wibawa, Kepala Pemasaran Jones Lang LaSalle (JLL) mengatakan ada wish list di antara para peminat hunian yang salah satunya adalah akses dengan lokasi MRT.

“Gedung ini akses dengan MRTnya seberapa jauh? Dalam arti, itu semacam contrengan (thick in box) dari mereka,” ujar Angela.

Menurut Angela, kalau menggunakan pembanding kemudahan dijangkau, skor hunian yang terdekat dari MRT akan lebih tinggi daripada properti yang tidak akses ke MRT itu.

Dengan adanya MRT, hunian wilayah Blok M juga diprediksi menunjukkan perkembangan menarik. Sebelum adanya MRT, wilayah Blok M sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat bahkan berangsur semakin sepi.

Tetapi hari-hari ini, dengan adanya MRT, pengunjung Blok M Plaza bisa mencapai 20 ribu hingga 25 ribu orang per hari. Jauh meningkat bila dibandingkan jumlah kunjungan sebelum adanya MRT yang hanya mencapai 8 ribu hingga 10 ribu orang per hari.

Selain di Blok M, daerah TB Simatupang di kuartal I 2019 juga menunjukkan grafik peningkatan di sisi hunian mencapai 79 persen dibanding 2018 yang hanya 66 persen.

Angela melihat geliat properti di seputaran MRT Jakarta ini akan berpeluang makin kencang di semester kedua 2019 ini.

Potensinya cukup besar di tengah pergeseran gaya hidup kaum milenial kota yang mengedepankan aksesibilitas dan kepraktisan beraktivitas kerja.

Peluang ini diperkuat dengan semakin kondusifnya situasi politik belakangan ini. Komitmen Presiden Jokowi untuk terus menggenjot infrastruktur di periode kepemimpinan berikutnya ikut memberikan harapan dan kepastian berusaha, yang siap mendongkrak sektor properti ke depannya. yun/Ant/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment