Koran Jakarta | September 16 2019
No Comments

Rasakan Gemericik Air saat Kemping

Rasakan Gemericik Air saat Kemping

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Kembali ke alam masih banyak menjadi andalan pengusaha destinasi-destinasi wisata untuk menarik pelancong. Hal ini diyakini tetap masih laku dijual terutama untuk turis dari kota-kota besar yang perlu penyegaran fisik dan rohani. Kembali ke alam bisa menjadi salah satu cara menimba energi kembali setelah penat bekerja sepekan.

Kombinasi alam dan aliran air sangat digemari para wisatawan kota besar yang berekreasi ke daerah-daerah. Sekarang perjalanan air di sungai besar atau aliran air yang mengalir dalam parit-parit atau sungai-sungai kecil semakin langka. Gemericik air kini makin diburu pelancong.

Namun, tidak demikian di area kemping Grand Cempaka Resort and Convention (GCRC), Cipayung, Bogor. Suara perjalanan air Kali Ciliwung dan aliran air dalam parit-parit yang melintas di area kemping tersedia sepanjang tahun. Ini menjadi daya tarik tersendiri wisatawan.

“Ini memang menjadi jualan kami. Area kemping belakangan sangat diminati wisatawan, terutama keluarga, anak sekolah, dan kelompok perkantoran. Di sini bisa mendengarkan pergerakan air kali Ciliwung dan air yang mengalir di parit-parit,” kata Direktur Utama Jakarta Tourisindo (Jaktour), G Jeffrey Z Rantung, MBA, CHA.

Suasana GCRC secara keseluruhan merupakan area yang nyaman untuk menjadi destinasi wisata liburan baik perorangan, keluarga, maupun rombongan. Tempat ini juga pas untuk marketing gathering, meeting kantor, seminar atau training-training karena suasana alam yang asri, nyaman, tenang, dan segar. Perlengkapan baik dalam maupun luar ruang sudah komplet.

Walaupun GCRC dibangun sudah sejak akhir delapan puluhan, tetap masih bisa menjadi alternatif destinasi. Hanya, Jeffrey mengakui, banyak yang harus diperbarui fasilitasnya agar dapat bersaing dengan resort-resort baru yang memiliki fasilitas modern. “Kami sudah ada rencana strategis untuk memperbaiki, seperti membangun water park bekerja sama dengan Ancol. Ada anggaran 74 miliar rupiah yang dialokasikan,” ujar dia. Jadi, menurut dia, fasilitas sekarang masih bisa dipakai, tapi tidak optimal.

Konsep Baru

Hal serupa disampaikan Executive Assistant Manager GCRC, Uray Mauritzio. Katanya, ini bagian dari konsep baru. Belakang wisata kemping sangat diminati, baik keluarga, pelajar, maupun kelompok lain. “Alamnya dapat. Refreshing-nya juga diperoleh. Pernah mencapai 70 tenda yang disewa,” kata pria asal Sambas, Kalbar ini.

Memang suasananya sangat fantastis. Di tengah perkemahan ada parit yang mengalirkan air dari ketinggian, sehingga bunyi kemericiknya asyik didengarkan sambil tiduran di dalam atau depan tenda. Di bagian pinggir juga ada parit. Aliran paling bernilai jual adalah arus Kali Ciliwung. Walau saat-saat sekarang tengah musim kering, air tetap lumayan besar. “Kalau malam, kan sepi. Suara air benar-benar enak untuk dinikmati,” tambah GM GCRC, Riyana Wahyudi (Yudi).

Menurut Yudi, semua masih ditata untuk mengembangkan konsep baru. Misalnya, bibir Kali Ciliwung nanti dirapikan, dibuat bertangga, sehingga bisa menjadi latar depan kemping. Hanya masalahnya, kalau banjir, air masih naik ke kawasan resort. Uray menjelaskan, banjir Ciliwung yang terakhir malahan pasir kali terbawa naik ke bagian belakang resort.

Untuk bisa berkemah, wisatawan tak perlu membawa peralatan karena semua sudah tersedia seperti tenda yang telah dilengkapi dengan spon untuk alas. Tak perlu takut kedinginan karena tenda bisa ditutup rapat. Untuk paket juga bisa disesuaikan dengan permintaan, misalnya, perlu bakar ikan pada malam hari atau kambing guling.

Sepertinya perlu dicoba kemping di resort ini. Tinggal di bungalo-bungalo yang tersedia di resort mungkin enak juga, tetapi ada sensasi tersendiri kemping di resort. Apalagi keadaannya seperti berada di tengah hutan karena tenda-tenda diposisikan di antara puluhan pohon jati kebon. Nanti kalau jati kebon sudah besar-besar, suasana tentu bakal tambah mengasyikkan.

Keuntungan lain berkemah, anak-anak bisa diajak bermain di Kali Ciliwung. Hanya, tentu dengan pengawasan agar tidak cedera. Bermain air, mencari kerikil yang indah, atau malahan bisa mandi karena saat ini airnya tengah bening.

“Kadang, anak-anak sekolah saya ajak lintas alam, naik turun perbukitan, menyeberang kali. Mereka puas sekali. Lumayan menjelajah hutan pagi-pagi, masih segar udaranya sehingga menyehatkan,” ujar Uray. Memang di sekeliling masih cukup ada perbukitan hijau meski tidak lebat. Perjalanan seperti itu tentu membuat ceria tak hanya bocah-bocah, tapi orang dewasa juga. wid/G-1

Destinasi Relaksasi yang Menantang

Suasana tenang dan teduh dari beragam jenis pohon menjulang serta udara sejuk khas puncak menjadi pilihan tepat untuk rekreasi di Grand Cempaka Resort and Convention (GCRC).

Letak resort yang telah berdiri sejak tahun 1982 itu di lingkup Kali Ciliwung dan Sungai Ciratin membuat para pengunjung bisa berelaksasi dengan menikmati suara air dan burung.

Selain dapat beristirahat, turis juga bisa menikmati beragam wahana bermain seperti paint ball atau wahana air di kolam renang. Bagi pengunjung yang senang berolahraga, ada lapangan futsal, basket, dan tenis. Salah satu kegiatan yang menantang dan banyak diminati adalah tubing. Wahana menantang pengunjung mengarungi arus Kali Ciliwung menggunakan ban. Ini tantangan khususnya untuk pemula karena jalurnya tidak terlalu panjang dan arusnya saat ini tidak terlalu deras.

Wisatawan juga tidak perlu takut kehabisan kamar. Resort yang merupakan bagian dari Jaktour ini menyediakan 130 bungalow dengan berbagai pilihan kamar mulai dari satu sampai empat kamar tiap bungalow. Turis yang ingin lebih dekat dengan alam, tersedia camping ground yang luas tepat di pinggir Kali Ciliwung dan Ciratin.

Selain menyediakan paket lengkap untuk berlibur, daya tarik lain terletak pada lanskap. Letaknya yang diapit dua sungai jarang dimiliki resort maupun hotel lain. “Persaingan resort di Puncak itu soal lanskap. Kita punya sungai yang tidak dimiliki resort atau hotel lain. Jadi itu kita maksimalkan untuk memikat dan menarik pengunjung,” ujar Executive Assistant Manager, Uray.

Selain berlibur, GCRC pilihan tepat bagi pemerintahan maupun swasta untuk mengadakan kegiatan-kegiatan seperti pendidikan dan latihan bagi calon pekerja negeri sipil pemerintah provinsi DKI Jakarta. Terdapat aula besar dan lapangan luas tempat beragam kegiatan bias dilaksanakan. Dengan suasana dan wahana yang tersedia, kegiatan berlangsung leluasa dan menyenangkan.

Selain untuk pegawai pemerintah, banyak juga dipilih untuk kegiatan-kegiatan sekolah. Dengan adanya camping ground dan berbagai wahana, kegiatan-kegiatan sekolah bisa dilakukan di satu tempat. “Bahkan, kami juga menyediakan susur alam ke area sekitar untuk anak-anak sekolah,” jelas Uray. Soal harga, bisa disesuaikan dengan fasilitas yang diminta.

Lokasinya mudah diakses. Setelah keluar Tol Ciawi, lurus ke arah Puncak. Jika lancar dari lampu merah depan Kampus Danamon, hanya 10 menit.

Menyesuaikan

GCRC sendiri telah berdiri lebih 37 tahun. Selama waktu itu, dunia perhotelan telah mengalami kemajuan teknologi. Furnitur-furnitur serta fasilitas lain juga sudah berubah. Maka, GCRC mesti menyesuaikan agar dapat bersaing.

Beberapa bungalo sudah direnovasi, sehingga tampilannya lebih menawan menarik. Pengelola juga melakukan kerja sama dengan swasta. Nantinya akan ada beberapa wahana baru seperti water boom dan mini zoo. Kebetulan sepanjang jalur Cipayung ini belum ada wahana air yang lengkap. “Kalau ke atas, terlalu dingin. Di Cipayung masih lumayan,” kata Uray.

Tantangan lain, pegawai-pegawai sudah memasuki usia tak produktif. Ada beberapa pegawai yang bahkan telah bekerja di GCRC mulai beroperasi. Tidak hanya secara usia, tenaga 104 pekerja masih kurang untuk mengurus area seluas sembilan hektare. “Idealnya 120- an,” tambah dia.

Untuk menanggulangi masalah tersebut, diatasi dengan memaksimalkan tenaga-tenaga magang dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Mereka diberi pelatihan dan sertifikat. Ini juga menjadi cara mencari calon tenaga. Pemagang yang terbaik, kelak direkrut. ruf/G-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment