Koran Jakarta | October 22 2017
No Comments

Rahasia Sukses Pendidikan Finlandia

Rahasia Sukses Pendidikan Finlandia

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Teach Like Finland

Penulis : Timothy D Walker

Penerbit : Grasindo

Terbit : Juli 2017

Tebal : 198 Halaman

ISBN : 978-602-452-044-1

Dalam penyelenggaraan Programme for International Student Assessment (PISA) perdana pada 2001 meliputi keterampilan kritis matematika, sains, dan membaca, sebuah negara mungil berhasil mengejutkan dunia. Dia memperoleh skor tertinggi ketika siswa-siswanya masih berumur 15 tahun. Dialah Finlandia, yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya. Jagat dunia pendidikan gempar, bagaimana mungkin negara dengan porsi jam pelajaran pendek, PR sedikit, dan ujian yang tidak terlalu terstandardisasi bisa sukses mencetak murid-murid berprestasi.

Buku Teach Like Finland mengupas metode pembelajaran Finlandia. Penulis buku hijrah dari Amerika ke Helsinski atas saran istrinya, warga setempat. Di Arlington, Masachussets, tugas sekolah sangat banyak. AS menerapkan sistem pendidikan dengan jam kerja sangat panjang. Finlandia malah sangat pendek.

Sistem pendidikan Finlandia tidak lepas dari lima kunci utama: kesejahteraan, rasa memiliki, kemandirian, penguasaan, dan pola pikir. Kesejahteraan menempati posisi pertama karena pembelajaran tidak akan terlaksana andai murid dan guru miskin. Salah satu tip yang diterapkan untuk mencapai kesejahteraan, adanya jadwal istirahat otak.

Cara ini membuat anak-anak tetap fokus dengan menyegarkan otak. Daniel Lavitin, profesor psikologi, behavioral neuroscience (ilmu syaraf tentang kebiasaan) dan musik di universitas McGill, percaya bahwa memberikan otak waktu beristirahat teratur mengarah pada produktivitas dan kreativitas lebih besar (hal 11).

Pembelajaran juga tidak akan terjalin harmonis, tanpa rasa memiliki (sense of belonging). Caranya mengenali setiap anak, tidak sekadar nama dan wajah. Tapi juga memahami kebutuhan psikologisnya. Sebelum naik kelas V, siswa didampingi guru kelas selama empat tahun. Di awal tahun ajaran baru, ikatan siswa-guru kelas sangat kuat. Banyak murid kelas V tertawa dan memeluk guru kelas sebelumnya. Di semua sekolah dasar Finlandia, praktik seorang guru tetap dengan sekelompok murid selama lebih dari satu tahun ajaran adalah pemandangan wajar (hal 59).

Negara nordik ini juga menanamkan sikap mandiri kepada anak didik. Guru-guru Amerika selalu mengantar siswa hingga pintu keluar (bahkan sampai tempat naik bus atau tempat orang tua menjemput). Tidak demikian dengan Finlandia. Di Helsinki, murid pulang sendiri-sendiri, bahkan berlaku untuk kelas I.

Ada siswi kelas II berjalan dari rumah ke sekolah sekitar satu kilometer. Dia sering tidak ada orang di rumah ketika tiba. Alih-alih menunggu, dia menyelesaikan pekerjaan rumahnya (jika ada) dan membuat sendiri snack (hal 90).

Penguasaan menjadi tip selanjutnya. Menguasai pembelajaran dilakukan dengan mengajarkan dasariah secara santai dan ringan menggunakan buku pegangan. Kemudian, memanfaatkan teknologi, memasukkan musik dalam pembelajaran, menjadi pelatih dengan menerapkan learning by doing.

Pendekatan terakhir yang diterapkan di Finlandia menanamkan pola pikir yang baik. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap rekan guru Finlandia, beberapa pendekatan di antaranya mencari flow (aktivitas menyenangkan yang mengalir begitu saja). Berkulit lebih tebal (ketegaran mental), saling berkolaborasi, mengundang para ahli, melepaskan diri untuk berlibur, dan jangan lupa bahagia (hal 170). Masih banyak rahasia kesuksesan pendidikan Finlandia yang dipaparkan dalam buku ini. 

Diresensi Nurul Yaqin, Guru SMPIT Cikarang Timur, Bekasi

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment