Koran Jakarta | October 18 2019
No Comments
Tumbuhan Langka

Raflesia Patma di Kebun Raya Mekar Ke-14 Kalinya

Raflesia Patma di Kebun Raya Mekar Ke-14 Kalinya

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Tumbuhan lang­ka Bunga padma atau Raflesia patma mekar di Kebun Raya Bogor untuk keempat belas ka­linya sejak pertama kali mekar pada 2010.

Dari total 12 knop atau bakal calon yang ada, tiga knop di­perkirakan akan mekar. Hara­pannya, ketiganya bisa mekar bersamaan dan memunculkan bunga jantan dan betina sekali­gus supaya bisa dibantu proses penyerbukannya.

“Proses penyerbukan yang diawali bau busuk akan terjadi bila ada serangga yang membantu mengangkut ser­buk sari dari bunga jantan ke bunga betina,” kata peneliti Raflesia patma di Pusat Pene­litian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI, Sofi Mursidawati, dalam keterang­an tertulis diterima di Jakarta, Sabtu (14/9).

Ia menjelaskan, bau inilah yang mengundang kehadiran lalat sebagai hewan penyerbuk agar terjadi proses pembuahan. “Hanya lalat jenis tertentu saja yang dapat melakukan penyer­bukan. Bunga ini mekar hanya dalam hitungan hari. Biasanya dua sampai tiga hari saja, ke­mudian akan layu dan mati.

“Rentang waktu inilah ke­sempatan membantu penyer­bukan bisa dilakukan. Itu pun bila bunga jantan dan betina ada dan mekar bersamaan,” ujar dia.

Sofi mengungkapkan, Raf­lesia patma merupakan tum­buhan endemik asal Pangan­daran yang bersifat parasit. “Dia hidup dan berkembang biak dalam jaringan tubuh inangnya sejenis anggur hutan atau menempel pada tumbu­han Tetrastigma,” kata Sofi.

Tumbuhan parasit yang merupakan bunga terbesar di dunia ini berstatus terancam punah. Flora ini tidak memiliki daun sehingga tidak mampu berfotosintesis.

Persentase pembuahan sa­ngat kecil karena bunga jantan dan bunga betina sangat jarang bisa mekar bersamaan dalam satu minggu, itu pun kalau ada lalat yang datang membuahi.

Secara terpisah, Kepala Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI, R Hendrian, mengatakan ancaman terbesar kepunahan secara permanen spesies Rafle­sia patma di Indonesia datang dari kerusakan habitat akibat aktivitas manusia.

“Ancaman terhadap kepu­nahan spesies akibat aktivitas manusia sangat nyata karena Raflesia bukan komoditas ko­mersial, sementara pengeta­huan tentang kehidupan spe­sies ini masih sangat terbatas,” kata Hendrian. Ant/P-5

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment