Koran Jakarta | November 23 2017
No Comments
JENAK

Puncak

Puncak

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Hari Sabtu ini, saya akan ke Puncak, bersama keluarga besar—14 orang termasuk cucu, menantu, dan pembantu tak dihitung. Sabtu ini menjadi keputusan, setelah sekian lama mencocokkan hari yang bisa disepakati. Tidak mudah mengatur waktu. Dari cucu saja, ada yang mahasiswa, ada yang masih satu tahun. Kebutuhannya berbeda. Anak dan menantu punya jadwal sendirisendiri.

Lebih dari itu, menjaga diri agar kondisi fit. Jangan sampai keluarga ini tidak full team. Karena bisa mengurangi “kebersamaan”. Dan itu sudah diingatkan—saling mengingatkan, dalam seminggu terakhir ini. Termasuk di dalamnya mengingatkan perlengkapan apa yang harus dibawa—atau tak perlu dibawa, Termasuk persiapan hawa dingin atau bahkan dress code.

Walau hanya satu malam bermalamnya, tingkat persiapannya bisa melelahkan—dan atau menyenangkan karena sama-sama mengharapkan. Bisa terbayangkan lalu lintas komunikasi antar- WA group, frekuensinya sangat tinggi. Boleh dibandingkan dengan persiapan menyambut gubernur baru—setelah melepas gubernur lama.

Di tengah persiapan yang selalu cek & recek, mendadak cucu yang sekolah menengah pertama melontarkan pertanyaan: apakah Puncak aman? Apakah kepergian bersama ini batal? Cucu memiliki alasan bertanya karena ia melihat adanya keruwetan di sekitar Puncak. Persisnya di daerah Ciloto, Cipanas.

Ada kengerian dalam suasana yang ribut itu. Termasuk ada visual api— dan tentu saja kemacetan, dan juga teriakan kemarahan. Keributan itu terjadi karena adanya penertiban bangunan liar dan lapak pedagang kaki lima di kanan kiri jalur Puncak, Bogor, hingga perbatasan Cianjur, Jawa Barat. Daerah yang melegenda dengan segala kenangan.

Ada saatnya wilayah itu dikenang sebagai “Puncak 70”—yang dimaksudkan Puncak sekitar tahun 1970. Masih dingin, masih romantis, menjadi tujuan utama piknik, pacaran, atau melewati dengan mesra karena makan jagung bakar— sebelum melanjutkan menuju Bandung. Puncak adalah komunitas, adalah identitas, apalagi tol ke Bandung belum ada.

Kegiatan ekonomi dan budaya—dengan segala aspeknya yang positif maupun negatif, ada di situ. Juga sekarang ini walau ada beberapa perubahan. Dan di jalanan daerah wisatawan itulah—dengan kemacetan atau jalur model “buka tutup”—akan diperlebar menjadi tujuh meter. Sesuatu yang direncanakan lama, namun agaknya belum terlaksana juga.

Sampai kemudian dipastikan tahun depan sudah dilaksanakan. Dalam proses itulah, penggusuran atau penataan kembali, atau apa pun istilahnya membuat peristiwa bertabrakan. Para tergusur seperti biasanya mengaku kurang diberi tahu, sementara pihak keamanan mengatakan sudah lama ada sosialisasi. Mereka yang rebut adalah yang menempati tanah negara—dalam arti menempati secara ilegal.

Sampai kemudian ada pemberitaan yang menegaskan bahwa peristiwa keributan itu terjadi Rabu, dan bukan Kamis. Dan sudah diatasi. Sampai di sini kecemasan telah menguap. Namun, dalam saat-saat yang kritis ketika terjadi keributan dan informasi menyebar lewat media sosial, yang biasanya bersahut- sahutan, penuh komentar dan tambahan, benar-benar terasa gawatnya.

Termasuk kemungkinan batal melintas. Dan ini tidak hanya kami yang merasakan, melainkan siapa pun yang berencana, atau setiap kali melewati lintasan Puncak. Satu catatan yang agaknya perlu mendapat perhatian. Barangkali sekarang ini sudah bukan zamannya lagi pelebaran jalan, atau penertiban, menimbulkan kerusuhan, juga kecemasan.

Karena lebih dari rencana piknik keluarga, proyek besar seperti ini direncanakan lebih lama, lebih saksama, lebih rinci. Mana jalan yang diperlebar, mana tanah yang direlakan, dan terutama bagaimana menyelesaikannya. Dengan ganti rugi atau ganti untung, dan bagaimana penerimaaannya. Ribut karena kurang komunikasi sudah tidak “musim”.

Sudah harus diakhiri, terutama karena hal kecil bisa menjadi besar, dan digoreng menjadi lebih besar, dan makin besaaaar, sehingga menjadi pemicu kasus-kasus lain, merembet ke mana-mana. Negara juga butuh piknik— merasakan kegembiraan dan menikmati hasil kerja keras, bukan terus-menerus dilibatkan dalam ketegangan. Negara, di satu pihak, perlu lebih tegas, dan berkabar dengan benar. Dan cepat.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment