Koran Jakarta | July 19 2018
No Comments

Puisi dan Nasihat saat Jatuh Hati

Puisi dan Nasihat saat Jatuh Hati
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Nasihat bagi Orang Jatuh Hati

Penerbit : Pagan Press

Penulis : Indra Tjahyadi

Cetakan : I, Maret 2018

Tebal : viii+130

ISBN : 876-602-0891-80-4

 

Puisi menjadi medium untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan. Keindahan jalinan kata, bahasa penuh metafora, serta keutuhan bait-bait yang padat, namun penuh makna bisa mewakili suara hati. Orang yang dibelenggu rasa cinta, diombang-ambingkan janji tak pasti, dirasuki rindu setengah mati sering kali tergerak menuliskan puisi. Jangan membayangkan, buku puisi berjudul Nasihat bagi Orang Jatuh Cinta ini berisi nasihat secara lugas. Buku ini lebih menyuarakan pesan secara simbolis.

Penyair Indra Tjahyadi menggambarkan sosok “aku” dalam buku kumpulan sebagai pribadi yang tengah mengarungi dinamika relasi dengan orang yang dicintai sekaligus dirindukannya, meskipun relasi itu sering penuh kemuraman dan tantangan. Sosok “aku” mengenali eksistensi dirinya dan seperti tengah terus melakukan pencarian jati dirinya dengan memaknai perasaan dan keinginannya.

Pertanyaan tentang sosok yang dicintai juga disampaikan untuk memastikan memang membawa cinta atau rasa fana saja. “Adakah kau sang pencinta atau hanya nostalgia yang tak habis dirundung dendam dan sedu,” (hlm 35).

Kekuatan puisi-puisi menyampaikan kesedihan, kemuraman, kerinduan, serta keinginan menyalurkan hasrat metafora-metafora yang kuat dengan diksi-diksi pas. Cara melebih-lebihkan ungkapan (hiperbola) yang disuguhkan terkait kerinduan bisa membuat pembaca turut merasakannya.

Orang jatuh cinta dan dipertemukan dengan kekasih mesti siap berhadapan kehilangan dan perpisahan. Suka dan duka seakan begitu tipis batasnya. Mereka yang tengah memadu kasih harus sadar akan risiko patah hati. Ada kutipan, “Tiada guna bersengsara karena cinta” (hlm 40). Nasihat singkat ini seperti merepresentasikan suara hati ‘aku liris’ dalam bait puisi lainnya yang tertulis, ”Aku tak ingin kembali jatuh sakit dan merasakan pedih merambati ulu hati” (hlm 110).

Dua sisi, hitam putih, suka duka, bahagia dan nestapa, merupakan kontradiksi puisi-puisi buku ini. Ia ingin menunjukkan hasrat-hasrat yang bisa tersalurkan dan harapan yang kandas. Betapa jatuh hati bisa mengombang-ngambingkan diri hingga Pablo Neruda mengatakan cinta itu pendek dan melupakan terasa panjang.

Gambaran-gambaran kontradiktif dalam puisi-puisi membawa pembaca pada kesadaran hidup ini memang dipenuhi oposisi. Meskipun berlawanan, oposisi itu seperti harus selalu ada untuk membuat hidup lengkap, seimbang dan penuh warna. Kenikmatan, kesakitan, kerinduan, pengkhianatan, kebisingan, keheningan dan opisisi lainnya berjalinan dalam puisi yang menghadirkan ketegangan-ketegangan.

Ungkapan penuh hasrat buku menunjukkan sebuah harapan yang tak mudah ditinggalkan. Meskipun kematian terasa membayangi, para pecinta tetap berusaha meraih keinginannnya. “Meski umur kian dekat pada kubur. Di Prabalingga kupeluk tubuhmu,” (hlm73). Maut dan hasrat memeluk seperti berkejaran.

Di bagian lain puisi-puisi memang banyak menarasikan kemurungan, kesuraman, dan keterasingan karena rindu cinta yang tak bisa diwujudkan. Derita direpresentasikan dengan alam muram seperti tanah senyap, kepulan asap, dan kabut. Kepergian (perpisahan) diumpamakan sebagai kekeringan. Jalan cinta memang penuh suka duka. Meskipun demikian fajar harapan kebahagiaan tetap tersirat.

 


Diresensi Yusri Fajar, Dosen Fakultas Ilmu Budaya

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment