Koran Jakarta | September 16 2019
No Comments
Implementasi Pancasila - Sesama Warga Mestinya Saling Memotivasi

Publik Butuh Sosok Teladan

Publik Butuh Sosok Teladan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Pancasila sejak awal diinginkan menjadi sebuah ideologi harapan, di mana sesama warga mestinya saling mengapresiasi.

JAKARTA - Badan Pembi­naan Ideologi Pancasila (BPIP) akan memberikan apresiasi kepada 74 ikon yang dinilai berprestasi sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan dan kegiatan kes­eharian. Ini dilakukan karena kurangnya sosok-sosok teladan yang diangkat di ruang publik. Saat ini publik butuh banyak sosok teladan.

“Kami berharap apresiasi terhadap saudara kita yang berprestasi di bidang mereka masing-masing ini bisa ditela­dani. Mereka mulai dari olah­raga, sains, penggerak sosial, dan seterusnya itu bisa menja­di bagian dari upaya mengang­kat contoh-contoh yang positif di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Plt Kepala BPIP, Hariyono, di Jakarta, Se­lasa (13/8).

Dengan contoh-contoh yang positif dan patut diteladani ini, BPIP berharap masyarakat merasa punya harapan akan Pancasila. Apalagi melihat pem­beritaan yang muncul di masya­rakat saat ini justru adalah berita pesimisme akan Pancasila.

Menurut Hariyono, Pan­casila sejak awal itu diingin­kan menjadi sebuah ideologi harapan, ideologi yang bisa membangun kebangsaan yang sehat, di mana antar sesama warga tidak saling mendestruk­si elemen lain. Sesama warga mestinya saling memotivasi, mengapresiasi untuk menca­pai tujuan bersama ke depan.

“Dengan begitu kami bera­sumsi bahwa yang namanya orang Pancasilais bukan hanya orang yang mampu mencipta­kan toleransi, kedamaian, dan kerukunan saja. Seorang Pan­casilais juga orang-orang yang berprestasi, tidak hanya di bi­dang sosial tapi juga di semua bidang,” kata Hariyono.

Penelusuran Panjang

Deputi Pengendalian dan Evaluasi BPIP, Rima Agristina menambahkan pemberian apresiasi kepada 74 ikon presta­si Pancasila dalam kategori sains & inovasi, olahraga, seni budaya & bidang kreatif, dan so­cial entrepreneur, ini dilakukan setelah penelusuran yang pan­jang. Data para nominator dida­patkan dari beberapa pihak, Ke­menterian dan Lembaga serta ditelusuri jejak digitalnya.

“Jadi setelah kami buka database yang kami punya ke­mudian kami juga lihat dari be­berapa media yang ada. Kami bersurat kepada Kementerian/Lembaga (K/L). Bergotong-royong dan ada usulan-usulan dari K/L mencalonkan nomi­nator-nominator, sehingga me­nambah database yang kami miliki,” kata Rima.

Rima mengatakan peneri­ma dari 74 ikon prestasi Pan­casila, umur termuda didapat­kan atlit catur cilik, Samantha Edithso (11 tahun), sedangkan nominator tertua didapatkan oleh guru besar dan aktivis pe­rempuan, Saparinah Sadli (96 tahun). Menjadi inspirasi tiada batas usia untuk tetap berkarya bahkan menginspirasi genera­si-generasi muda Indonesia.

“Tadi dikatakan 11 tahun itu masih labil. Justru karena masih labil kok ini berprestasi. Ini bisa memberikan inspirasi yang lain. Pada usia labil pun bisa mem­berikan contoh bagi teman-temannya. Demikian juga yang usia mapan, 96 tahun tahun. Pada usia 96 tahun yang bi­asanya santai dengan keluarga fokusnya, ini masih tetap memi­kirkan Indonesia,” kata Rima.

Rima menjelaskan mereka yang memperoleh apresiasi ini akan ditindaklanjuti dan dilibat­kan dalam kegiatan-kegiatan yang bisa memberikan ketela­danan kepada masyarakat lain.

Perlu diketahui, pemberian apresiasi prestasi Pancasila ta­hun 2019 ini akan dilaksanakan di Tjolo Madoe, Karanganyar, Solo, Jawa Tengah. Tidak hanya pemberian apresiasi, terdapat rangkaian kegiatan di Solo dan sekitarnya pada 19-21 Agustus 2019.

ola/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment