Koran Jakarta | November 22 2018
No Comments
Stok Pangan - Luas Panen Padi Tahun Ini Mencapai 10,9 Juta Hektare

Produksi Beras Surplus 2,85 Juta Ton

Produksi Beras Surplus 2,85 Juta Ton

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Surplus produksi beras yang tidak terlalu besar dinilai menyebabkan distribusi tersendat sehingga pemerintah akhirnya menambah pasokan lewat impor.

 

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, di Jakarta, Senin (22/10), mengatakan luas panen padi pada tahun ini mencapai 10,9 juta hektare dari lahan baku sawah yang mencapai 7,1 juta hektare.


Berdasarkan data yang disiapkan oleh BPS dan BPPT terdapat sekitar 54 persen lahan baku sawah yang mengalami panen hingga dua kali.


Ia juga menjelaskan hasil perhitungan BPS menunjukkan bahwa total produksi beras mencapai 32,4 juta ton saat ini.


“Itu sudah dihitung mulai dari beras dipanen, kemudian setelah dipanen jadi GKP (gabah kering panen), dari GKP ke GKG (gabah kering giling) susut dan hilangnya berapa sudah dihitung,” kata Darmin.


Di sisi lain, konsumsi beras tahun ini totalnya 29,6 juta ton atau sekitar 2,4 juta ton sebulan, sehingga dengan produksi mencapai 32,4 juta ton masih terdapat kelebihan produksi 2,85 juta ton.


Namun, angka surplus produksi tersebut masih di bawah angka sebelumnya yang bisa mencapai kelebihan hingga 20 ton.


“Sehingga memang pasokan di pasar tersendat, itu sebabnya di awal tahun kami sudah mulai melihat bahwa stok di Bulog kok rendah sekali.

Bahkan pada waktu Maret 2018 mengimpor itu, stok di Bulog 500 ribu ton, itu terlalu rendah,” kata Darmin.


Sering Meleset


Beberapa waktu lalu, Darmin sempat menyoroti data proyeksi produksi beras yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) karena sering meleset.


“Pihak yang punya instrumen untuk bikin data itu Kementan. (Data Kementan) meleset setiap tahun. Sudah dibilang betulkan, keluar lagi itu datanya,” kata Darmin.


Akurasi data menyangkut proyeksi produksi beras paparnya penting karena turut memengaruhi kebijakan pemerintah, misalnya terkait impor.


Data proyeksi produksi beras Kementan yang disoroti oleh Darmin yaitu sebanyak 13,7 juta ton dalam tiga bulan awal 2018.


Secara rinci, angka proyeksi produksi beras tersebut terdiri dari 2,5 juta ton pada Januari 2018, 4,7 juta ton pada Februari 2018, dan 6,5 juta ton pada Maret 2018.


Namun, ketika dilakukan rapat koordinasi membahas beras pada 19 Maret 2018, Darmin menyebutkan bahwa stok beras medium dan premium tinggal 590.000 ton, atau berkurang dari stok 903.000 ton per 15 Januari 2018.


Jumlah stok tersebut tidak terlalu banyak mengingat kebutuhan konsumsi beras sebulan secara keseluruhan mencapai 2,4 juta ton.


Kemudian, rapat koordinasi dilakukan kembali pada 28 Maret 2018 karena waktu panen raya sudah akan habis. Ketika itu, pemerintah memutuskan untuk impor satu juta ton sehingga total izin impor telah mencapai dua juta ton sepanjang tahun ini.


“Dibilang (Maret 2018) 6,5 juta ton proyeksi produksi. Memang stok naik menjadi 649.000 ton tetapi tidak ada apa-apanya. Panen raya mau habis, siapa yang percaya bahwa ini akan baik-baik saja ke depan,” kata Darmin. Ant/E-9

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment