Koran Jakarta | April 21 2019
No Comments
Penanganan Wabah - Program Dokter Terbang Segera Dijalankan

Presiden Perintahkan TNI-Polri Atasi Wabah di Asmat

Presiden Perintahkan TNI-Polri Atasi Wabah di Asmat

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

TNI bersama Polri segera membentuk satuan tugas gabungan untuk mempercepat dalam mengatasi kasus wabah penyakit campak dan gizi buruk di Asmat.

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerin­tahkan jajaran TNI-Polri agar segera menangani wabah pe­nyakit campak dan gizi bu­ruk yang melanda Kabupaten Asmat, Papua. Untuk itu, TNI bersama Polri akan mem­bentuk satuan tugas (Satgas) gabungan.

“Presiden memerintahkan Panglima TNI dan Kapolri (Jen­deral Pol Tito Karnavian) un­tuk segera menangani masalah wabah penyakit di Papua,” kata Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto pada acara pem­bukaan Rapim TNI-Polri, di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (23/1).

Menurut Marsekal Hadi, TNI dan Polri mengerahkan tenaga medis, termasuk para dokter spesialis untuk mena­ngani para korban. Itu semua masih ditambah dengan me­masok logistik dan obat-oba­tan serta mengerahkan tenaga medis.

“Yang paling penting kami juga akan menerbangkan dok­ter terbang. Apakah wilayah itu terjangkit penyakit atau tidak, tetap akan kami datangi secara periodik dengan tenaga-tenaga dokter dan tenaga medis lain­nya,” ujar Hadi.

Selanjutnya, dalam kegiatan tersebut, Satgas akan berkoor­dinasi antara Asisten Operasi Panglima TNI dan Asisten Op­erasi Kapolri. “Untuk berbicara secara teknis dan tak terlalu lama segera diterjunkan ke lapangan. Apa yang disampai­kan Presiden perintahnya jelas dan kami siap melaksanakan tugas sesuai perintah Presi­den,” ujar Hadi.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyatakan siap untuk melaksanakan perintah Presiden Jokowi yang meng­inginkan TNI dan Polri lebih berperan dalam menanggu­langi masalah kesehatan di daerah pedalaman, seperti di Asmat, Papua.

Awasi Berkala

Tito mengatakan Satgas TNI-Polri ini ke depannya akan ber­tugas mengawasi secara berkala terhadap wilayah-wilayah yang masyarakatnya berpotensi dan rentan mengalami gangguan kesehatan. “Untuk diawasi dan segera dilaporkan, segera ber­tindak sebelum menjadi wa­bah,” kata Tito.

Kejadian luar biasa (KLB) campak dan gizi buruk terjadi di Kabupaten Asmat sejak Sep­tember 2017. Hingga kini dila­porkan terdapat 61 anak dan balita yang meninggal dunia akibat terserang campak dan gizi buruk. Sejumlah bantuan pasokan makanan bergizi dan obat-obatan telah disalurkan, baik oleh instansi pemerin­tah dan swasta sejak kasus ini mengemuka di pemberitaan berbagai media.

Gubernur Papua, Lukas En­embe mengatakan Presiden Jokowi memanggil dua bupati di wilayahnya yakni Bupati Kabupaten Asmat dan Nduga untuk dimintai penjelasannya terkait kasus KLB wabah cam­pak dan gizi buruk di daerah tersebut. Presiden Jokowi ingin mendengar langsung penje­lasan dari kedua bupati terkait kasus kematian puluhan anak akibat gizi buruk dan wabah campak.

Enembe menemani Bu­pati Asmat dan Nduga untuk menghadap langsung Presiden Jokowi dan menjelaskan kondi­si daerah yang terkena campak dan gizi buruk. “Meninggalnya puluhan warga terjadi bukan hanya di Asmat saja, namun daerah seperti Kabupaten Ya­hukimo, Nduga, Deiyai, Dogi­yai, dan Pegunungan Bintang juga pernah terjadi hal yang sama,” kata Enembe.

Enembe mengatakan pihaknya menjelaskan secara rinci kepada Presiden Jokowi mengenai kondisi masing-ma­sing daerah, agar dapat dicari­kan solusi sehingga ke depan tidak terjadi hal serupa. Secara garis besar kebijakan ang­garan di Papua sudah benar, di mana 80 persen dana oto­nomi khusus di dalamnya ada 15 persen yang diperuntukkan untuk kesehatan. Selain itu ada juga KPA sebesar 20 persen dari provinsi, kemudian dari bidang keagamaan 10 persen.

Mungkin program kerja bu­pati berhasil, tambah Enembe, tapi bisa saja stafnya yang tidak pernah ada di lapangan seh­ingga terjadi hal seperti ini.

n fdl/eko/Ant/N-3

Tags
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment