Koran Jakarta | November 22 2019
No Comments
Unjuk Rasa di Hong Kong

Polisi Tembak Peluru Karet ke Demonstran

Polisi Tembak Peluru Karet ke Demonstran

Foto : AFP/Anthony WALACE
Kembali Berdemo l Barisan demonstran berbaris menghadapi polisi saat terjadi unjuk rasa antipemerintah di Hong Kong pada Minggu (21/7) malam. Aksi unjuk rasa yang memasuki pekan ke-7 itu merupakan kelanjutan dari penolakan warga Hong Kong atas RUU ekstradisi.
A   A   A   Pengaturan Font

HONG KONG – Polisi Hong Kong pada Minggu (21/7) malam menembakkan peluru karet dan sejumlah peluru gas air mata ke arah para pengun­juk rasa antipemerintah yang menguasai jalanan di jantung kota itu setelah sebelumnya para demonstran itu melaku­kan aksi unjuk rasa.

“Kali ini polisi yang dileng­kapi masker dan perisai ben­trok dan mengejar para demon­stran yang kabur ke berbagai arah, tak jauh dari terminal feri di pulau utama Hong Kong,” demikian laporan pandangan mata oleh reporter AFP.

Sebelumnya dilaporkan pu­la bahwa sejumlah demon­stran bertopeng telah melaku­kan aksi vandalisme terhadap tembok yang ada di luar sebu­ah kantor perwakilan Tiongkok di pusat kota.

Hingga berita ini ditulis, be­lum ada laporan korban luka maupun demonstran yang di­tahan dalam kericuhan ini.

Aksi penembakan gas air mata dan peluru karet oleh polisi terakhir kali terjadi saat para pengunjuk rasa berha­sil merangsek masuk ke ge­dung legislatif kota dan insiden ini merupakan tantangan ter­berat sejak penyerahan kem­bali Hong Kong oleh Inggris ke Tiongkok pada 1997.

Sebelumnya sejak pagi ha­ri, aksi unjuk rasa antipemer­intah kembali terjadi di Hong Kong. Seperti aksi unjuk rasa sebelumnya, mereka menyu­arakan kemarahan atas kekua­saan Tiongkok terhadap otori­tas di kota yang jadi salah sa­tu pusat keuangan dunia itu. Beberapa unjuk rasa berujung dengan konfrontasi bentrokan antara polisi dan demonstran dan aksi vandalisme.

Unjuk rasa yang kali ini me­masuki pekan ke-7 itu, awalnya dipicu atas tuntutan dihenti­kannya rancangan undang-undang yang memungkinkan terlaksananya ekstradisi ke Tiongkok daratan. Karena lam­ban diantisipasi, tuntutan dari pengunjuk rasa kian meluas seperti meminta reformasi de­mokrasi, pemberlakukan hak asasi universal, penghentian pergeseran kebebasan serta pemilihan langsung oleh rak­yat terhadap pemimpin di wi­layah semiotonom itu.

Ulangi Tuntutan

Dalam aksi unjuk rasa kema­rin, para pengunjuk rasa berjanji akan terus menggerakkan mas­sa hingga tuntutan inti mereka terpenuhi, yakni pengunduran diri pemimpin kota, Carrie Lam, serta penyelidikan independen terhadap polisi, amnesti bagi demonstran yang ditahan, pe­narikan secara permanen RUU skstradisi, serta menyerukan hak pilih universal.

Demonstran pun dalam ak­sinya membacakan sebuah de­klarasi sebelum mereka turun ke jalan yang menggambarkan rasa frustrasi para demonstran. Kalimat yang mereka sampai­kan serupa dengan yang per­nah dibacakan saat penerobo­san ke gedung legislatif pada 1 Juli lalu.

“Sudah terlalu lama peme­rintah berbohong dan menipu dan menolak merespons per­mintaan rakyat meskipun se­jumlah demonstrasi massa ter­jadi dalam beberapa bulan ter­akhir,” demikian pernyataan demonstran. AFP/I-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment