Koran Jakarta | August 20 2018
No Comments

PM Najib Bantah Jual Proton Karena Alasan Politik

PM Najib Bantah Jual Proton Karena Alasan Politik

Foto : AFP/Mohd RASFANMoon
Suntikan Dana I PM Malaysia, Najib Razak (dua dari kiri), berjabat tangan dengan ketua Zheijiang Geely Holding Group, Li Shufu (tengah), saat upacara penandatanganan kesepakatan antara pemegang saham utama Proton, DRB-HICOM Berhad, dengan Zhejiang Geely Holding Group di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 23 Juni lalu.
A   A   A   Pengaturan Font

KUALA LUMPUR – South China Morning Post edisi Senin (12/2) mewartakan pernyataan bantahan dari Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, atas beredarnya kabar bahwa alasan ia menjual saham perusahaan otomotif milik negara, Proton, kepada perusahaan otomotif Tiongkok, karena alasan politik.

“Itu semua adalah kebohongan,” kata PM Najib saat meresmikan pusat riset otomotif yang baru di Kampus Proton yang ada di Negara Bagian Perak, beberapa waktu lalu.

Pekan lalu, pemerintah Malaysia menjual 49,9 persen saham Proton kepada Geely Automobile Holdings. Penjualan itu dilakukan ditengah proses apakah pemerintah Malaysia akan memutuskan untuk menyuntikkan kembali dana segar pada perusahaan otomotif tersebut.

Sebelumnya beredar kabar bahwa alasan PM Najib menjual saham Proton karena perusahaan otomotif nasional itu merupakan salah satu ide proyek mercusuar mantan PM Mahathir Mohamad, yang sekarang jadi seteru PM Najib.

“Jika Proton ingin terus berkembang, mau tak mau harus memiliki mitra yang strategis,” ucap PM Malaysia itu. “Jika banyak orang mengatakan kami tak mau menolong Proton itu semua hanya kebohongan,” imbuh dia.

Saat PM Mahathir berkuasa, perusahaan Proton maju pesat. Pada 1993, dua pertiga mobil baru di Malaysia merupakan merek Proton. Namun seiring berjalannya waktu, kemajuan itu mulai melorot hingga pada 2016 lalu hanya 12,5 persen mobil baru di Malaysia merupakan buatan Proton.

Penurunan ini dikarenakan pemerintahan Malaysia pasca Mahathir melucuti beban bea tarif bagi kendaraan impor. Saat Mahathir berkuasa, beban bea tarif mobil impor mencapai 300 persen.

Kritik Pemerintahan

Selain Proton, pemerintah Malaysia juga bermasalah dengan maskapai milik negara, Malaysia Airlines, sebuah perusahaan transportasi yang juga ikon nasional Malaysia, karena minimnya keuntungan. Namun pemerintah pimpinan PM Najib tetap mempertahankan maskapai nasional ini agar tak jatuh ke tangan swasta.

Lepasnya Proton ini diperkirakan akan jadi isu politik yang akan ramai diperbincangkan jelang pelaksanaan pemilihan umum di Malaysia yang akan digelar pada 24 Juni mendatang. Isu lainnya yang masih terkait kasus lepasnya Proton yaitu kritik terhadap kinerja pemerintah saat ini yang membiarkan investor kaya Tiongkok dalam pengelolaan perekonomian di Malaysia.

Sejumlah investor Tiongkok beberapa waktu lalu banyak datang ke Malaysia apalagi setelah Beijing menggelontorkan dana bagi proyek infrastruktur pembangunan jaringan rel kereta dan pembangunan bandara. SCMP/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment