Koran Jakarta | September 16 2019
No Comments
Muktamar - Jokowi Berhasil Hilangkan Kesakralan Lembaga Kepresidenan

PKB Perkuat Basis di Bali

PKB Perkuat Basis di Bali

Foto : ANTARA/FIKRI YUSUF
TIBA DI MUKTAMAR PKB - Presiden Joko Widodo menghadiri Pembukaan Muktamar V Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Nusa Dua, Badung, Bali, Selasa (20/8). Muktamar V PKB diselenggarakan pada 20-22 Agustus dengan mengusung tema “Melayani Ibu Pertiwi”. PKB bakal memilih ketua umum untuk periode 2019–2024 di muktamar ini. Sejumlah isu strategis juga akan dibahas dalam Muktamar V PKB ini. Salah satunya peran PKB di pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin lima tahun ke depan.
A   A   A   Pengaturan Font
Jokowi mengenakan udeng yang merupakan penutup kepala khas masyarakat Bali.

NUSA DUA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri Muktamar V Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Nusa Dua Bali. Saat berpidato, Jokowi sempat melemparkan canda menyindir Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan mengingatkan PDI-P tentang makna muktamar di Bali. Kalau PDI Perjuangan punya alasan kuat kenapa kongres diadakan di Bali, memang basis terkuat PDI Perjuangan di Bali.

“Terus kalau PKB muktamar di Bali itu pasti juga ada alasannya. Saya tidak tahu alasannya apa, saya hanya menebak, jangan-jangan PKB juga ingin memperoleh suara besar di Bali. Hati-hati Pak Gub, hati-hati, hati-hati, hati-hati,” kata Jokowi mengingatkan Gubernur Wayan Koster, dan disambut tawa hadirin dalam sambutannya di Muktamar V PKB, di The Westin, Kawasan Wisata Nusa Dua, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, Selasa (20/8).

Jokowi hadir di lokasi Muktamar pada pukul 19.20 WITA. Jokowi masuk ke lokasi acara didampingi Ketum PKB, Muhaimin Iskandar. Jokowi mengenakan udeng yang merupakan penutup kepala khas masyarakat Bali. Dia memakai atasan hijau tua serta sarung hijau muda.

Pejabat partai politik dan menteri Kabinet Kerja yang turut hadir, di antaranya Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri, Ketum NasDem Surya Paloh, Sekjen Gerindra Ahmad Muzani, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, dan Mendagri Tjahjo Kumolo.

Ada juga Menristek Dikti M Nasir, Menpora Imam Nahrawi, Menkum HAM Yasonna Laoly, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri UMKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, dan Gubernur Bali Wayan Koster. Jokowi mengatakan sudah sewajarnya apabila PKB yang identik dengan kalangan Nahdliyin ingin memperkuas jangkauan suaranya di Bali.

Ia mengatakan PKB yang identik dengan kalangan Nahdliyin yang memiliki kedekatan dengan para pemeluk agama Hindu dengan prinsip pluralisme. “Dan tujuan akhirnya untuk persatuan dan kebangkitan bangsa,” kata Jokowi. Presiden sempat ber-selfie bersama para kader PKB asal Papua Barat saat meninggalkan area muktamar.

Jokowi meninggalkan area muktamar sekitar pukul 21.00 WITA. Saat itu, kader asal Papua Barat sempat meneriakkan soal Papua damai. “Papua, damai! Papua, damai! Papua, damai,” teriak mereka. Aksi mereka pun mendapat perhatian dari Jokowi. Jokowi yang melintas pun lalu menghampiri para kader ini dan menyalami satu per satu. Jokowi sempat mengobrol dengan kader asal Papua itu.

Namun, tidak terdengar jelas apa saja yang dibicarakan. PKB bakal memilih ketua umum untuk periode 2019–2024 di muktamar kali ini. Sejumlah isu strategis juga akan dibahas dalam Muktamar V PKB di Nusa Dua, Bali. Salah satunya peran PKB di pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin lima tahun ke depan.

 

Bangsa Besar

 

Sementara itu, Ketum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin optimistis terhadap nasib bangsa ke depan. Dia yakin di bawah pemerintahan Jokowi, bangsa ini punya peluang menjadi besar. “Melalui pemerintah Pak Jokowi, kita punya peluang jadi bangsa besar,” kata Cak Imin.

Cak Imin menyebut Presiden Jokowi telah mampu menghilangkan kesakralan (desakralisasi) lembaga kepresidenan. Langkah itu menurutnya menghilangkan jarak antara penguasa dengan rakyat. “Kebersamaan kita dengan pemerintah ini juga menjadi bagian kebanggaan PKB. Kemajuan demi kemajuan yang telah dibangun pemerintah diikuti semangat yang hebat dalam semangat melayani,” kata Cak Imin.

Cak Imin mengatakan pemerintahan Jokowi tidak menampakkan wajah kesombongan. Dia menyebut negara hadir ketika rakyat butuh. “Wajah kekuasaan yang tidak sombong, tapi ngemong. Tidak memukul, tapi merangkul. Negara hadir sangat terlihat langsung menangani persoalan yang dihadapi. Contohnya, kasus Baiq Nuril beberapa waktu yang lalu,” katanya. 

 

Ant/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment