Koran Jakarta | September 19 2019
No Comments
JEDA

Pidato Kenegaraan Presiden Konvensi Ketatanegaraan

Pidato Kenegaraan Presiden Konvensi Ketatanegaraan

Foto : KORAN JAKARTA/M FACHRI
DISKUSI SIDANG TAHUNAN | Dari kiri: Anggota Fraksi PKS MPR, Iskan Qolba Lubis, Pakar Komunikasi Politik Universitas Bengkulu, Lely Arrianie, dan Anggota Fraksi PAN MPR Saleh Partaonan Daulay menjadi pembicara dalam Diskusi Empat Pilar MPR di Media Center, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (12/8). Diskusi mengangkat tema “Optimalisasi Pelaksanaan Sidang Tahunan MPR RI”.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Pakar Komunikasi Politik Lely Arianie menilai pidato kenegaraan dari Presiden yang disampaikan pada forum sidang paripurna tahunan MPR RI pada tanggal 16 Agustus adalah konvensi ketatanegaraan yakni penyampaian kinerja dari lembaga-lembaga tinggi negara selama setahun.

”Pidato kenegaraan itu merupakan konvensi ketatanegaraan atau praktik ketatanegaraan yang sudah berlangsung rutin dan diatur dalam aturan perundangan,” kata Lely Arianie pada diskusi “Optimalisasi Pelaksanaan Sidang Tahunan MPR RI” di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Senin (12/8).

Menurut Lely Arianie, prosesi pidato kenegaraan itu adalah seremonial berbentuk sidang paripurna yang dihadiri oleh Presiden, Wakil Presiden, jajaran menteri kabinet, tamu undangan kehormatan, dan para anggota MPR RI yang meliputi anggota DPD RI dan DPD RI.

“Proses sidang paripurna tahunan MPR RI itu adalah mendengarkan pidato kenegaraan dari presiden, sehingga tidak ada interupsi. Kalau setelah pidato kenegaraan kemudian ada anggota MPR RI atau tamu undangan yang berfoto- foto, itu lumrah saja,” katanya. tri/Ant/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment