PHEV Solusi Antara Mesin Konvensional dan Listrik | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 25 2020
No Comments
Teknologi Penggerak

PHEV Solusi Antara Mesin Konvensional dan Listrik

PHEV Solusi Antara Mesin Konvensional dan Listrik

Foto : ist
A   A   A   Pengaturan Font

Hibrida yang irit dan ramah lingkungan menjadi batu loncatan sebelum mencapai kendaran listrik murni. PHEV menawarkan efisiensi tanpa khawatir kehabisan tenaga baterai saat di perjalanan.

Teknologi hibrida pada mobil diterapkan untuk mendapatkan efisiensi bahan bakar juga emisi gas buang yang rendah. Namun demikian hibrida juga sering disebut sebagai batu loncatan sebelum mencapai teknologi listrik murni yang masih memiliki keterbatasan pada jarak jangkau dan infrastruktur pengisian daya listrik. Saat ini terdapat dua teknologi mesin hibrida yaitu jenis Hybrid Electric Vehicle (HEV), dan Plug-in Hybrid Electric Vehicles (PHEV).

HEV adalah perpaduan antara mesin berbahan bakar fosil dengan motor listrik guna meningkatkan efisiensi bahan bakar. Bateri mobil HEV akan diisi dari dinamo yang digerakkan mesin konvensional, maupun energy kinetic saat pengereman. Selanjutnya setelah beterai terisi motor listrik akan mengganti peran mesin dalam menggerakkan roda. Sementara PHEV menggunakan mesin bakar konvensional dan juga baterai untuk menghasilkan listrik.

Perbedaannya dengan HEV adalah baterai mobil PHEV bisa diambil dari sumber listrik di rumah maupun kantor atau stasiunstasiun pengisian khusus, sehingga lebih fleksibel. Renault merupakan salah satu pabrikan yang mengembangkan mobil PHEV, selain Mitsubishi, dan juga Toyota sebagai pelopornya. Merek asal Perancis ini rencananya akan menggunakan model Megane untuk dipasangi mesin hibrida ini.

Dengan PHEV diharapkan mobil kategori hatchback ini dapat digunakan untuk perjalanan jauh tanpa khawatir kehabisan energi. Mesin Megane E-Tech PHEV demikian dinamakan, menggunakan kubikasi 1.600cc, empat silinder yang ditambah baterai berdaya 9,8kWh. Baterainya sanggup dipakai untuk menjelajah sejauh 50 kilometer, dengan kecepatan masimum 136 km per jam.

Saat mobil kehabisan daya baterai maka pengemudi bisa mengaktifkan mesin bensinnya. Renault sendiri pada awalnya hanya memasang teknologi PHEV pada model Megane Estate saja, tapi selanjutnya menerapkan juga teknologi ini pada model lain seperti Megane Hatchback, Megane RS, dan Megane Trophy. Melalui laman resminya disebutkan, Megane E-Tech PHEV dari sisi interior menawarkan sistem informasi digital yang canggih.

Dengan layar 9,3 inci dan 10,2 inci perangkat ini menawarkan kemampuan seperti ponsel pintar. Sebelumnya pada ajang Los Angeles Auto Show 2019, Hyundai juga telah menghadirkan SUV PHEV, dengan menerapkan bahasa desain Sensuous Sportiness dari Hyundai Design Center.

“Sensuous Sportiness menawarkan sisi emosional kepada konsumen,” kata Senior VP of Hyundai Global Design Center, SangYup Lee. Tidak seperti mobil listrik Hyundai,

SUV PHEV masih memiliki tampang seperti mobil konvensional. Hyundai SUV PHEV ini akan dibekali lampu utama tersembunyi dan dipadu gril unik yang mereka sebut sebagai Parametric Air Shutter.

Selain untuk estitika, desain mampu mengoptimalkan aerodimanika. Sang Yup Lee menambahkan dengan PHEV Hyundai ingin menunjukkan fokus produk mereka memiliki perhatian pada gaya hidup ramah lingkungan.

SUV dari Hyundai di pasar akan berhadapan model dari Mitsubishi. Pada Tokyo Motor Show ke-46 tahun lalu, Mitsubishi menghadirkan mobil konsep dari SUV PHEV, sama seperti yang digunakan pada Outlander PHEV namun dalam skala lebih kecil.

SUV mungil ramah lingkungan itu menggabungkan elektrifikasi dan teknologi terkini yang menghubungkan tenaga ke semua roda penggerak.

“Sebuah SUV listrik yang memberikan kesenangan berkendara di semua medan, MMC akan menawarkan nilai-nilai baru yang menggabungkan SUV, PHEV, dan 4WD,” demikian keterangan Mitsubishi Motors Corporation.  hay/R-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment