Koran Jakarta | April 19 2019
No Comments
Harbolnas 12.12

Pesta Belanja Online di Pengujung 2018

Pesta Belanja Online di Pengujung 2018

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) siap digelar pada 11 dan 12 Desember 2018. Harbolnas merupakan puncak dari berbagai pesta belanja online yang sudah digelar dari September.

Tak dipungkiri Harbolnas menjadi pesta belanja online pengujung tahun terbesar yang paling ditunggu masyarakat. Yang spesial pesta belanja online akan memasarkan ribuan produk lokal selama Harbolnas 2018, hingga 11 Desember 2018.

Ketua Panitia Harbolnas 2018, Indra Yonathan mengatakan seluruh kategori produk akan dipasarkan melalui lebih dari 300 e-commerce yang tahun ini mengangkat tema besar Belanja untuk Bangsa.

“Harbolnas sebagai festival belanja online terbesar di Indonesia berkomitmen untuk mempromosikan produk lokal dan mendorong lebih banyak UMKM agar dapat merasakan keuntungan dan manfaat lebih dari perdagangan digital,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

Melalui Harbolnas 2018 ini, lanjutnya, para produsen produk lokal dapat merasakan pengaruh bisnis dari kemeriahan acara Harbolnas beriringan dengan pemain-pemain e-commerce besar, sehingga para produsen lokal dapat lebih memahami kelebihan pemasaran dengan platform online.

Selain membantu mendorong peningkatan penjualan produk lokal, Harbolnas 2018 juga didukung tiga kementerian sekaligus, yakni Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian (Kemenperind), serta Kementerian Komunikasi dan Informasi. Bahkan untuk pertama kalinya Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA) juga memberikan dukungan penuh.

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto memberi dukungan penuh terhadap tema Harbolnas 2018 ini, dikarenakan selaras dengan misi dari Kemperind dalam mewajibkan e-commerce untuk memperjual belikan produk lokal.

“Pemberdayaan UKM secara digital merupakan salah satu program prioritas pemerintah dalam rencana roadmap Industry 4.0. Melalui Kemperind sudah ada sekitar 3.000 lebih pelaku UKM yang tercakup dalam sub program e-Smart UKM ini dan jumlah ini akan kami terus tambah,” papar Airlangga Hartarto.

Indra menambahkan untuk persoalan transaksi, pihak panitia telah menyiapkan kanal khusus yang akan menjadi pusat kegiatan pendukung Harbolnas 2018.

“Masing-masing ecommerce peserta Harbolnas 2018 akan mengirimkan perwakilan timnya pada kanal khusus ini, sehingga pemantauan pelaksanaan kegiatan ini nantinya akan lebih terpadu. Setiap notifikasi dari masyarakat terkait Harbolnas 2018 akan segera mendapatkan tanggapan,” jelasnya.

Adapun promo pada Harbolnas tahun ini, adalah potongan harga hingga 95 persen serta cashback hingga 120 persen. Bank Mandiri sebagai penyedia utama channel pembayaran non tunai menawarkan serangkaian promo menarik untuk kenyamanan saat berbelanja, khususnya pemegang Mandiri Debet dan Mandiri Kartu Kredit.

“Promo ini sebagai apresiasi kepada 19 juta nasabah yang telah bertransaksi di Bank Mandiri,” papar M. Haris Budiman, VP Credit Cards Group Bank.  ima/R-1

Terobosan e-Commerce

Sebenarnya banyak hal bagi perusahaan dagang digital menarik perhatian konsumen. Salah satunya yang mudah kita lihat adalah perang promo dan harga. Dalam riset MarkPlus, Inc brand tiga brand e-commerce besar di Indonesia Shopee, Lazada dan Tokopedia cukup melekat di benak masyarakat, karena memiliki variasi promo menarik yang ditawarkan.

“Strategi paling tepat untuk menjaring konsumen Indonesia adalah menawarkan harga paling terjangkau atau murah,” ujar Associate of High Tech, Property and Consumer Industry of MarkPlus, Inc. Irfan Setiawan, di Jakarta baru-baru ini.

Menurut risetnya itu, empat dari lima kelompok usia memilih Shopee sebagai brand e-commerce yang menawarkan harga paling terjangkau, di mana satu kelompok dengan konsumen berusia di atas 35 tahun memilih Tokopedia yang menawarkan harga paling terjangkau. Brand ecommerce yang menempati tiga posisi teratas dalam survei dari sisi usia ini adalah Shopee dengan dominasi 42,8 persen, Tokopedia 19,8 persen dan Bukalapak 17,5 persen.

Selain melakukan riset dalam dari sisi usia, secara domisili kategori harga paling terjangkau juga menjadi faktor yang penting. Survei domisili dilakukan di enam kota besar yaitu Medan, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan Makassar.

Irfan menjelaskan berdasarkan risetnya Shopee menjadi ecommerce yang paling mendapat perhatian konsumen. “Dari lima segmen usia dalam kategori ide iklan online offline, seperti kampanye Goyang Shopee dinilai lebih kreatif. Baru setelah itu ada Lazada, Bukalapak, dan Tokopedia diberbagai rentang usia tersebut. Jadi ketika masyarakat ditanya soal belanja online realitas platform dagang digital yang paling murah dan memiliki program kampanyenya menarik akan mendapat perhatian masyarakat, ini adalah realitas industri ecommerce,” tutup Irfan.  ima/R-1

Gairah Konsumen Milenial

Tren belanja online nyatanya juga mengubah cara-cara belanja offline di toko fisik. Kendati demikian, para pembisnis offline juga sudah banyak yang merambah ke online, khususnya pada platform sosial media.

Soeprapto Tan, Managing Director Ipsos Indonesia menjelaskan, migrasi pembisnis offline ke online juga merupakan realitas, tapi sebenarnya ini juga erat kaitannya dengan pengaruh konsumen milenial yang menurutnya anti-mainstream dalam hal berbelanja daring.

“Kita baru melakukan studi bersama Instagram, untuk melihat fenomena online shop di semua medium business enterprise. Berdasarkan survei itu, kebanyakan konsumen yang berbelanja melalui Instagram rata-rata milenial dan kebanyakan produknya berkaitan dengan fesyen. Kalau membeli produk elektronik baru mereka berbelanja lewat e-commerce,” jelas Tan.

Laporan ini dilakukan dengan cara wawancara online terhadap 3.012 Instagrammer berusia 13 tahun ke atas di Indonesia, serta 502 pengguna profil bisnis Instagram dari UKM. Selain itu, studi ini juga mewawancarai 102 pemilik/pendiri UKM. Studi ini dilakukan secara daring mulai 21 Agustus hingga 6 September 2018.

Kemudian kaum milenial memiliki peran penting dalam memajukan pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Menurut hasil studi Ipsos ‘E-commerce Outlook 2018’, rata-rata yang bebelanja melalui platform daring ini ialah konsumen milenial sebanyak 64 persen, di mana 37 persen berdomisili di Pulau Jawa. Sementara platform e-commerce yang menjadi favorit masyarakat ialah Tokopedia.

Tan menjabarkan, profil masyarakat yang berbelanja di e-commerce mayoritas kalangan ekonomi atas, memiliki pendapatan bulanan minimal Rp3 juta rupiah, itu artinya orang yang berbelanja online memiliki buying power untuk terus berbelanja secara daring.

“Yang menariknya lagi midset orang untuk belanja online sudah menguat, walaupun pernah memiliki pengalaman buruk. Apalagi kaum milenial yang sudah memiliki gaya hidup modern, mereka tidak ada lagi memiliki minat untuk keluar untuk belanja, melainkan sudah menikmati segala kepraktisan sekaligus keringkasan yang ada, dan itu hanya bisa dihadirkan platform dagang online,” tandas Tan.  ima/R-1

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment