Koran Jakarta | April 21 2019
No Comments
The Modest Heritage of Indonesia

Pesona Wastra Indonesia di Museon Den Haag

Pesona Wastra Indonesia di Museon Den Haag

Foto : dok kbri den haag
A   A   A   Pengaturan Font

Wastra Indonesia (kain tradisional) kembali menunjukan tajinya di Negeri Kincir Angin, yang dikemas dalam peragaan busana.

Para model melenggang mengenakan busana berbahan wastra atau kain tradisional Indonesia dalam peragaan busana bertajuk The Modest Heritage of Indonesia yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag bersama Pelangi Wastra Indonesia di Museon, museum budaya dan ilmu pengetahuan Den Haag, Belanda, pekan lalu.

“Kreasi enam perancang busana, seorang perancang sepatu dan perancang tas ditampilkan dalam acara yang dihadiri sekitar 200 tamu,” ungkap Renata Siagian, Minister Counsellor Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Den Haag.

Desainer Leny Rafael menampilkan rancangan berbahan tenun Badui, Adelina Willy Suryani memamerkan busana berbahan sutra Garut, Rizki Permatasari menampilkan kain khas Sumba, dan Dwi Lestari Kartika mengangkat kain batik Bekasi dalam peragaan busana itu.

Sementara perancang Gita Orlin membawa batik Trenggalek, Melisa A. Bermara menampilkan karya yang terinspirasi oleh burung Enggang khas Kalimantan, Lala Gozali menampilkan kain lurik Jawa, dan Putri Permana membawa tas Jepara.

Duta Besar RI untuk Belanda, Wesaka Puja, dalam sambutannya pada acara itu mengemukakan bahwa The Modest Heritage of Indonesia merupakan bagian dari upaya untuk mempromosikan kekayaan dan keragaman budaya Indonesia lewat kain-kain tradisional.

“Indonesia terdiri atas ribuan pulau dan ratusan suku bangsa dengan latar belakang etnis, bahasa, dan budaya yang berbeda-beda, termasuk tekstil uniknya yang sudah dikenal dunia, seperti batik,” katanya.

Ia berharap peragaan busana berbahan wastra Indonesia bisa memberikan gambaran mengenai kekayaan budaya dan industri kreatif yang makin berkembang di Indonesia.

Sebelum mengakhiri sambutan, Wesaka mengutip slogan rumah mode Cushnie et Ochs, “Life is too short to wear boring clothes” (Hidup terlalu singkat untuk mengenakan busana membosankan).

Acara peragaan busana berbahan wastra Indonesia itu diawali dengan acara bincang-bincang bertajuk “Wastra Indonesia, Timeless Sources of Inspiration” yang dipandu Yetty Haning dari Centre for Culture and Development Belanda (CCD-NL), yang tahun depan menggelar program “Binding with Ikat” dengan mengirimkan tiga desainer Belanda ke Kupang untuk mendalami teknik maupun desain tenun ikat.  pur/R-1

Makin Eksis di Afrika Selatan dan Bangladesh

Sementara itu, pada kesempatan berbeda, pada gelaran ATF Trade Exhibition 2018 di Afrika Selatan (Afsel), wastra Nusantara berhasil menarik perhatian dunia.

Dalam pergelaran tersebut, sejumlah perancang busana Indonesia memamerkan karyanya dalam kategori busana siap pakai, maupun gaun-gaun malam nan glamour dari material khas Indonesia, yaitu batik, tenun, songket, dan bordir.

Perancang Harry Ibrahim dan Eko Tjandra Olanye, yang membawa kain Indonesia tampil unggul dalam gelaran itu.

Berdasarkan keterangan dari KBRI Pretoria, Eko Tjandra menampilkan koleksinya yang berjudul Puspa Jati dan Swarna Ning Bhumi. Berupa serangkaian gaun malam berbahan dasar batik Bojonegoro. Sementara itu, Harry Ibrahim menampilkan tenunan khas Nusa Tenggara Timur pada rancangan gaun malam.

Dubes RI untuk Afsel Salman Al Farisi menyampaikan apresiasi atas keseriusan para desainer untuk mengusung nama Indonesia di Afsel.

“Diharapkan kegiatan itu juga meningkatkan kesepakatan bisnis antara pengusaha garmen dan alas kaki Indonesia dan Afsel,” ujar Salman.

Selain di Cape Town, para desainer Indonesia juga berkesempatan menampilkan karya-karyanya di Wisma Konsul Jenderal RI. Sebanyak 10 karya rancangan para desainer memukau para undangan yang terdiri atas korps konsuler, pengamat fesyen, dan desainer.

Tidak hanya di Afsel, potensi pemasaran wastra juga muncul hingga di Timur India, yakni Bangladesh.

“Produk-produk kain dan pakaian batik asal Indonesia mempunyai potensi yang baik untuk dipasarkan di Bangladesh. Orang-orang Bangladesh bangga memakai batik Indonesia karena mereka merasa seperti kaum ningrat,” kata Dubes RI untuk Bangladesh, Rina Soemarno.

Menanggapi minat positif dari Bangladesh, pihak KBRI Dhaka berupaya melakukan matchmaking antara pengusaha Indonesia dan Bangladesh. Upaya ini guna memuluskan rencana pendirian butik batik Indonesia di Bangladesh.

Sebelumnya, KBRI Dhaka juga telah menyelenggarakan acara “Indonesian Batik Festival” untuk mempromosikan produk batik Indonesia kepada para warga Bangladesh.

Dalam acara tersebut, KBRI Dhaka mengadakan beberapa kegiatan, seperti peragaan busana batik, talk show tentang batik, lokakarya membuat batik, serta pameran dan penjualan batik Indonesia.

Presiden Dewan Perancang Busana Bangladesh, Maheen Khan, yang hadir dalam acara tersebut menilai bahwa ada pasar yang potensial bagi produk batik Indonesia di Bangladesh.

“Indonesia memainkan peran penting dalam mempromosikan batik di pasar global. Para perancang Bangladesh sangat senang menggunakan batik karena terkait dengan budaya dan sejarah,” ucap Maheen.

Maheen berpendapat, bahwa Indonesia perlu mengadakan lebih banyak lokakarya dan pameran tentang batik untuk membuat orang-orang Bangladesh benar-benar memahami kompleksitas batik, dan pada akhirnya batik menjadi lebih terkenal di kalangan warga Bangladesh.

Sayangnya, meskipun pakaian batik asal Indonesia mampu memikat hati warga Bangladesh, potensi ekspor untuk pakaian jadi dari Indonesia belum menunjukkan hasil yang maksimal.

Berbanding terbalik, Indonesia impor pakaian jadi dari Bangladesh dengan nilai mencapai 31,19 juta dolar AS pada 2016. Trennya pun cenderung meningkat sepanjang 2012-2016, dengan persentase sebesar 34,57 persen.

Bicara soal wastra, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat pada 2016 telah ada sebanyak 101 sentra batik dan 369 sentra tenun di seluruh Indonesia.

Melirik dari sisi industrinya, berdasarkan data dari Kemenperin, industri tenun dan batik memberikan kontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional dengan nilai ekspor yang mencapai 151,7 juta dolar AS pada 2016.

Sedangkan untuk 2017, nilai ekspor khusus batik dan produk batik nasional menembus angka 58,46 juta dolar AS pada 2017 dengan tujuan pasar utama ke Jepang dan Amerika Serikat.

Diperkirakan, potensi perdagangan skala global bagi produk pakaian ready to wear berbasis batik mencapai 442 miliar dolar AS.  pur/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment