Koran Jakarta | August 21 2019
No Comments
Aksi Korporasi - Kencana Energi Lestari Tbk Memiliki 3 Proyek PLTA di Sumatera dan Sulawesi

Perusahaan PLTA Sasar Dana IPO 400 Miliar Rupiah

Perusahaan PLTA Sasar Dana IPO 400 Miliar Rupiah

Foto : Koran Jakarta/M. Fachri
PAPARAN PUBLIK - Direktur Utama PT Kencana Energi Lestari Tbk, Henry Maknawi (kedua dari kanan) bersama (dari kiri): Komisaris Utama Albert Maknawi, Komisaris Jeanny Maknawi, dan Komisaris Independen Sim Idrus Munandar usai paparan publik rencana penawaran umum perdana (Inital Public Offering/IPO) di Jakarta, Jumat (19/7).
A   A   A   Pengaturan Font
Harga saham IPO yang ditawarkan PT Kencana Energi Lestari Tbk senilai 250–420 rupiah per lembar sehingga dana yang bisa dihimpun sebesar 244,42–410,62 miliar rupiah.

JAKARTA – Guna mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) atau hydro power plant, PT Kencana Energi Lestari Tbk melepas saham ke publik melalui penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) sebanyak 977,68 juta saham.

Nantinya, Perseroan akan mengalokasikan sekitar 55 persen dana IPO untuk mendukung pengembangan usaha hydro power plant dan energi terbarukan lainnya, 25 persen untuk modal kerja, dan sekitar 20 persen untuk belanja modal. Bertindak sebagai penjamin emisi efek, PT RHB Sekuritas Indonesia, PT Bahana Sekuritas dan PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Masa penawaran awal (bookbuilding) dilaksanakan sejak 17 Juli 2019 hingga 30 Juli 2019. Perseroan berharap mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah mendapatkan Persetujuan Otoritas Pasar Modal.

Direktur RHB Sekuritas Indonesia, Iman Hilmansah, mengatakan harga IPO ditawarkan sebesar 250–420 rupiah, sehingga dana yang bisa dihimpun sebesar 244,42–410,62 miliar rupiah. Valuasi pembentukan harga IPO mencerminkan Price Earning Ratio (PER) sebesar 5,9–10 kali dan Price Book to Value (PBV) sebesar 0,7–1 kali.

“Pembentukan harga IPO ini tentunya telah memperhatikan banyak hal, seperti mengambil contoh industri di negara luar juga. Lalu, melihat kondisi pasar domestik juga untuk PER-nya seperti apa. Apalagi jenis dari industri ini lebih stable. Kita tidak bisa melihat semua faktor secara kombinasi, sehingga bisa ketemu di angka itu,” ungkapnya, di Jakarta, pekan lalu (19/7).

Sementara itu, Associate Director PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Mukti Wibowo Kamihadi, menjelaskan dari sisi investor selalu ada pasar bagi perusahaan-perusahaan yang melakukan IPO. Diharapkan dalam IPO ini animo dari masyarakat baik investor institusi dan ritel cukup besar, sebab secara industri sangat menarik.

“Tentunya investor akan melihat lagi industri dari perusahaan itu sendiri. IPO ini pun akan menjadi sangat menarik dan menjadi pilihan bagi investor untuk sektor renewable energy. Kita baru mulai bookbuilding dari tanggal 17 Juli 2019 dan kita akan lihat demand-nya seperti apa,” jelas dia.

 

Pasok Listrik PLN

 

CEO dan Chairman Kencana Group, Henry Maknawi, menyatakan Perseroan menjalin kerja sama dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) selama kurun waktu 20 hingga 30 tahun melalui power purchase agreement (PPA). Sedangkan pembangunan dan pengoperasian aset pembangkit tenaga listrik dilakukan dengan pola BOO (Build-Own-Operate) maupun BOOT (Build-Own- Operate-Transfer).

Konsep kerja sama ini dinilai samasama memberikan keuntungan bagi PLN dan Perseroan sebagai Independent Power Provider (IPP). Dalam hal ini, PLN mendapatkabn kepastian penyediaan daya listrik guna distribusi kepada masyarakat dan untuk IPP adalah stable revenue stream dan cashflow sepanjang periode konsesi.

“Perseroan bermitra dengan PLN untuk konsisten mengembangkan skala usaha yang lebih besar dengan cara pembangunan PLTA-PLTA baru dengan metode konsesi dan kontrak penyediaan listrik PPA yang serupa dengan kontrak-kontrak yang saat ini telah dimiliki,” kata Henry.

Hingga saat ini, Perseroan telah memiliki tiga proyek PLTA di Pulau Sumatera dan Sulawesi dengan total kapasitas produksi sebesar 49 MW. Dari jumlah tersebut, Proyek PLTA Pakkat berkapasitas 18 MW telah beroperasi di Sumatera Utara, Proyek PLTA Air Putih berkapasitas 21 MW yang saat ini sedang menunggu Commercial Operation Date (COD) yang dijadwalkan pada bulan Agustus– September 2019 dan yang berlokasi di Bengkulu, serta Proyek PLTM Madong berkapasitas 10 MW yang saat ini sedang dalam tahap persiapan konstruksi dan berlokasi di Sulawesi Selatan.

Salah satu proyek PLTA yang saat ini sedang difinalisasi Proyek Salu Uro dan Proyek Kalaena dengan total kapasitas mencapai 170 MW. 

 

yni/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment