Pertumbuhan Ekonomi RI Bakal Tak Capai Target | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 30 2020
No Comments
Dampak Virus Korona I Masalah Domestik Sebabkan Ketidakpastian Ekonomi RI

Pertumbuhan Ekonomi RI Bakal Tak Capai Target

Pertumbuhan Ekonomi RI Bakal Tak Capai Target

Foto : Sumber: BPS – Litbang KJ/and/ones
Tiongkok kali ini menghadapi masalah berat, tidak sekadar faktor ekonomi teknis, melainkan juga faktor psikologis.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Merebaknya virus korona di Tiongkok bakal memukul ekonomi dunia lebih keras daripada dampak epidemik Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) tahun 2002–2003. Sebab, posisi Tiongkok sangat vital sebagai pemasok kompanen dan berbagai material banyak perusahaan di dunia.

Gangguan produksi yang cukup lama di Tiongkok sangat mengganggu sistem produksi banyak produk di dunia yang terjalin dalam sistem global supply chain (rantai pasokan global). Hal itu disampaikan ekonom senior Faisal Basri saat dihubungi di Jakarta, pekan lalu (7/2).

Faisal mengatakan tekanan terhadap perekonomian dunia bertambah berat karena pertumbuhan ekonomi Tiongkok terus mengalami kecenderungan menurun sejak tahun 2008.

“Tahun ini diperkirakan pertumbuhan ekonomi Tiongkok memasuki zona lebih rendah baru, lima persenan,” katanya. Faisal menjelaskan, tahun lalu pemerintah Tiongkok masih mampu meredam perlambatan ekonomi lewat pelonggaran kebijakan moneter.

Tapi, kali ini yang dihadapi jauh lebih berat, tidak sekadar faktor ekonomi teknis, tetapi juga faktor psikologis. “Oleh karena itu, bisa dimaklumi ada prediksi pertumbuhan Tiongkok tahun ini berpotensi di bawah lima persen,” jelasnya.

Terkait dengan perekonomian Indonesia, Faisal Basri mengatakan target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen tahun ini, sebagaimana tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 dan Rancangan Pembangunan Jangka Menengah 2020–2024 hampir bisa dipastikan tidak akan tercapai. “Bisa tumbuh lima persen saja seperti tahun 2019 sudah sangat bagus,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengatakan banyak negara kehabisan amunisi dan kekurangan strategi dalam menghadapi pelemahan ekonomi global. Kondisi tersebut terefleksi dari kebijakan negara yang kurang akomodatif terhadap kondisi pelemahan ekonomi global.

“Pada 2019, tercipta pertumbuhan paling lemah, salah satunya karena negara kehabisan strategi dalam menghadapi pelemahan ekonomi global dan ini mengkhawatirkan,” kata Sri Mulyani.

Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 hanya tumbuh 5,02 persen. Pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan 2018 yang sebesar 5,17 persen (lihat infografis).

Kepala BPS, Suhariyanto, menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 berada dalam tren yang tidak baik disebabkan tekanan ekonomi global. “Ini (pertumbuhan ekonomi) situasinya enggak gampang. Jadi secara kumulatif hanya tumbuh 5,02 persen,” terang Suhariyanto.

 

Masalah Dalam Negeri

 

Sementara itu, pengamat ekonomi, Bambang Haryo Soekartono, mengatakan melambatnya pertumbuhan ekonomi menunjukkan pemerintah tidak mampu mengatasi masalah domestik, meskipun sudah memacu pembangunan infrastruktur dan investasi. “Pemerintah selalu menyebut ketidakpastian global memukul ekonomi Indonesia, padahal penyebab terbesarnya adalah masalah di dalam negeri,” katanya.

Masalah domestik yang menyebabkan ketidakpastian, antara lain inkonsistensi regulasi, upah minimum yang berbeda-beda di setiap daerah, fluktuasi bahan pokok dan energi, pungutan liar, korupsi, serta kerusakan infrastruktur.

Dia menilai ekonomi turun sangat tidak beralasan sebab pemerintah sudah meluncurkan 16 Paket Kebijakan Ekonomi, membangun infrastruktur 2–3 kali lipat tiap tahun dari pemerintahan sebelumnya, serta mengucurkan kredit usaha rakyat (KUR) hingga 190 triliun rupiah dan Dana Desa 74 triliun rupiah per tahun.

“Kalau pemerintah tidak mampu mengatasi masalah domestik, ya keterlaluan,” ujarnya. Tak hanya itu, Indonesia memiliki sumber daya melimpah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, baik dari sektor riil, pariwisata, pertambangan, pertanian, perikanan, maupun sumber daya manusia termasuk TKI di luar negeri. 

 

Ant/uyo/AR-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment