Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
Pertemuan Tokoh - Jokowi Terbuka Bertemu dengan Siapa Pun

Persatuan Nasional Tak Boleh Ditawar Lagi

Persatuan Nasional Tak Boleh Ditawar Lagi

Foto : ANTARA/PUSPA PERWITASARI
UCAPKAN SELAMAT - Presiden Joko Widodo menyambut Presiden ketiga RI BJ Habibie di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (24/5). Selain mengucapkan selamat atas terpilihnya kembali Presiden Joko Widodo untuk periode 2019-2024, BJ Habibie berpesan agar proses pemilu tidak membuat bangsa pecah dan menghambat pembangunan.
A   A   A   Pengaturan Font
Para tokoh sepakat bahwa persatuan bangsa Indonesia, stabilitas nasional, proses pemerataan, dan masa depan bangsa Indonesia tidak ada tawar-menawar.

 

JAKARTA – Guna mencapai pemerataan pembangunan dan memajukan Indonesia, bangsa Indonesia mesti bersatu. Untuk itu, pe­mimpin yang terpilih melalui pemilihan umum merupakan pemimpin bangsa Indonesia yang bersatu, bukan pemimpin golongan atau yang memilihnya saja.

Hal itu disampaikan Presiden ketiga Indo­nesia, BJ Habibie, usai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Jumat (24/5).

Menurut Habibie, persatuan di Indonesia sudah harga mati. “Dalam hal ini, kita sepakat juga bahwa mengenai persatuan dan kesatuan bangsa Indo­nesia, stabilitas, proses pe­merataan dan masa depan bangsa Indonesia tidak ada tawar-menawar. Itu kartu mati,” katanya.

Habibie lalu menjelaskan kedatangannya ke Istana untuk bertemu Presiden Jokowi.

“Saya datang kemari, pertama untuk mengucap­kan selamat kepada Bapak Presiden bahwa rakyat telah menentukan agar supaya karya-karya yang beliau te­lah laksanakan bisa berke­lanjutan dan diamankan untuk generasi penerus,” ucap Habibie.

Habibie lalu menyebut sosok Presiden Jokowi sebagai ujung tombak untuk generasi penerus bangsa Indonesia. “Sia­pa saja yang nanti akan memimpin dan sedang memimpin, dia tidak memimpin yang memilih­nya. Dia memimpin seluruh bangsa Indonesia,” tegas Habibie.

Habibie menjelaskan tidak dibenarkan se­orang pemimpin hanya mengayomi orang yang memilihnya saat pesta demokrasi berlangsung. “Kita tidak dibenarkan, tiap lima tahun, kita ada pemilihan presiden. Apa tidak mengambil risiko menghambat pembangunan? Mengam­bil risiko bahwa kita bisa diadu domba, pecah, tidak ada itu?” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Habibie ikut me­nyoroti ada kericuhan saat aksi di Bawaslu usai pengumuman hasil Pilpres 2019 oleh KPU. Me­nurut dia, apa yang terjadi beda dengan aksi pada 1998. “Kalau disamakan dengan keadaan waktu tahun 1998, its not true. Banyak laporan, Anda tahu sendiri, tidak ada,” tegas Habibie.

Habibie menambahkan, bahwa terdapat tiga generasi Indonesia. Generasi yang dimaksud yak­ni generasi 1945, generasi peralihan, dan generasi penerus. “Generasi 45 yang jiwanya penting, yang menjadikan kita begini, dan generasi peralihan adalah saya. Peralihan itu definisinya kerja sama dengan generasi 45 dan kerja sama dengan gene­rasi penerus. Anda ini anak dari cucu intelektual semua,” tutup Habibie.

Terbuka Bertemu

Sementara itu, Presiden Jokowi mengata­kan urusan persatuan dan persaudaraan antar-anak bangsa memang tak boleh ditawar lagi. “Urusan persatuan dan kesatuan bangsa tak boleh ditawar-tawar lagi,” katanya.

Presiden pun menjelaskan bahwa dirinya sangat terbuka dalam men­jalin kerja sama dengan sia­pa pun dalam membangun bangsa Indonesia. “Sudah saya sampaikan berkali-kali, saya terbuka untuk siapa pun bersama-sama bekerja sama untuk memajukan ne­gara ini, untuk membangun negara ini, siapa pun,” tegas Presiden yang didampingi oleh Menteri Sekertaris Ne­gara, Pratikno.

Terkait pertemuan de­ngan calon presiden (ca­pres) nomor urut 02, Prabowo Subianto, Jokowi mengatakan hal itu akan mendinginkan suasana di tengah masyarakat yang lu­mayan memanas usai peng­umuman hasil Pilpres 2019. “Dilihat baik oleh masyara­kat. Akan dilihat baik oleh rakyat. Mendinginkan suasana bahwa elite-elite politik rukun-rukun saja. Nggak ada masa­lah. Saya kira paling penting itu. Kalau elitenya rukun, baik-baik saja, di bawah akan dingin, akan sejuk,” ucap Jokowi.

Namun, lanjut Presiden, hingga saat ini ma­sih belum bisa bertemu. Padahal, hambatan juga tidak ada. “Yang jelas, setelah coblosan saya sudah menyampaikan inisiatif untuk ber­temu, tapi sampai sekarang belum ketemu. Su­dah jelas kan,” jelas Presiden.

Presiden pun mengaku akan bertemu de­ngan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang lebih da­hulu bertemu dengan Prabowo. “Kemarin, Pak Wapres sudah ketemu. Saya belum ketemu Pak JK. Harusnya tadi, siang tadi. Tapi, ada acara lain, jadi belum ketemu,” kata Jokowi saat di­mintai hasil yang telah dibahasnya.

Saat ditanya mengenai inisiatif siapa per­temuan Wapres dengan Prabowo, Presiden mengatakan inisiatif dirinya dan juga Jusuf Kalla. “Ya, nanti kalau Pak Wapres sudah me­nyampaikan ke saya, baru saya bisa bicara. Be­lum ketemu. Harusnya tadi pagi dengan Pak Wapres, tapi karena beliau ada urusan, saya juga. Jadi waktunya saja. Kalau sudah ketemu, saya sampaikan,” tutup Presiden. fdl/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment