Koran Jakarta | October 18 2019
No Comments
Polusi Udara l Minggu, Kualitas Udara di Jakarta Tidak Sehat

Perluasan Ganjil-Genap Efektif Kurangi Polusi Udara

Perluasan Ganjil-Genap Efektif Kurangi Polusi Udara

Foto : ANTARA/M Risyal Hida
Udara Buruk I Kabut polusi udara menyelimuti kawasan Jakarta, Sabtu (14/9). Berdasarkan laman resmi US Air Quality Index (AQI) tercatat kualitas udara Jakarta berada di kategori tidak sehat
A   A   A   Pengaturan Font

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan tidak bisa menjamin kualitas udara Jakarta lebih baik, karena banyak faktor yang mengaruhi kualitas udara.

JAKARTA – Kebijakan pem­batasan kendaraan bermotor lewat plat nomor kendaraan berdasarkan angka atau ganjil-genap yang sejak Senin (9/9) diperluas diklaim efektif men­gurangi kemacetan lalu lintas dan polusi udara di Jakarta.

“Oh iya, tentu efektif dampaknya. Paling sederhana lihat statistik yang menunjuk­kan perubahan positif,” kata Anies, di Jakarta, Sabtu (16/9).

Salah satunya, perluasan aturan ganjil-genap kendaraan bermotor di Jakarta juga ber­dampak pada peningkatan pengguna transportasi umum.

“Jumlah penumpang trans­portasi umum meningkat sampai satu juta, kemarin. Itu artinya, masyarakat kita memang berpindah dari kend­araan pribadi ke kendaraan umum. Kita ingin ini bertahan terus, kalo itu bisa bertahan te­rus, maka insya Allah kondisi kemacetan di Jakarta akan me­nurun,” ucap dia.

Terkait dengan polusi udara, Anies mengatakan banyak faktor yang mempengaruhi se­hingga ia tak bisa menjamin kualitas polusi udara DKI Ja­karta akan membaik.

“Begini, polusi udara itu fak­tornya banyak. Bahkan, di pagi hari (dini hari) tidak ada lalu lintas pun polusi udara bisa tinggi, padahal harusnya ko­song,” tegas Anies.

Menurut dia, dalam men­gukur dan menilai kualitas po­lusi udara, termasuk di Jakarta juga, tak bisa dalam satu waktu saja. “Mengukur polusi udara itu cukup unik. Jadi kalau men­gukur itu bukan hanya satu waktu, jam sekian kemudian dikatakan baik-buruk, itu rata-ratanya,” ujarnya.

Anies mencontohkan seperti di wilayah Jakarta Selatan yang bukan daerah perkantoran, ternyata polusinya tinggi. “Arti­nya angin berpengaruh, banyak faktor yang terjadi,” ucapnya.

Dia menjelaskan bahwa ke­bijakan sistem ganjil genap ini hanya untuk mengurangi ting­kat kendaraan pribadi di wila­yah Jakarta, namun jika terus dilakukan, efektivitas itu akan terus terasa lantaran sumber-sumber polutan terus berkurang dan tentunya akan meningkat­kan kualitas udara di Ibu Kota.

Sebelumnya, Anies men­geluarkan Instruksi Gubernur nomor 66 tahun 2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara. Salah satu instruksinya ialah melakukan perluasan kawasan ganjil genap di Ibu Kota.

Perluasan ganjil genap de­ngan disertai penindakan, te­lah berlaku pada 9 September 2019 lalu di 25 ruas jalan.

Ganjil genap diterapkan dua sesi yakni pagi pukul 06:00-10:00 WIB dan petang pada pukul 16:00-21:00 WIB, kecuali Sabtu-Minggu serta hari libur nasional.

Kualitas Udara

Sementara itu, pada Min­ggu, DKI Jakarta berada di pe­ringkat ketiga dari total 89 kota besar di dunia berdasarkan parameter kualitas udara yang dirilis AirVisual

Tepat pukul 06.30 WIB, kua­litas udara DKI berada pada level tidak sehat dengan pa­rameter Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index/AQI) di angka 161 atau berkategori ti­dak sehat.

Karena itu, disarankan un­tuk menutup jendela, memi­nimalisir kegiatan luar rumah, menggunakan pemurni udara dan menggunakan masker jika berkegiatan di luar rumah.

Angka itu terpaut 23 poin lebih rendah dari Kuching, Ma­laysia yang menduduki pering­kat pertama kota dengan kuali­tas udara terburuk (204) yang disebut AirVisual terkategori sangat tidak sehat dan Hanoi, Vietnam, yang menduduki pe­ringkat kedua kota terpolutan di dunia dengan angka indeks 185. pin/Ant/P-5

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment