Koran Jakarta | August 20 2018
No Comments
Mendagri Tjahjo Kumolo tentang Strategi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Seluruh Daerah

Perlu Inovasi dan Konektivitas Antardaerah

Perlu Inovasi dan Konektivitas Antardaerah

Foto : ANTARA/Nova Wahyudi
A   A   A   Pengaturan Font
Permasalahan mengatasi dan mengelola sampah tak boleh diremehkan, perlu inovasi dan terobosan serta yang tak kalah penting, antarpemerintah daerah harus saling dukung.

Diperlukan konektivitas antardaerah dalam pengelolaan sampah. Jika berjalan sendiri- sendiri, masalah sampah akan jadi bom waktu karena terkait dengan daya dukung lingkungan.

Untuk mengupas itu, Koran Jakarta berkesempatan mewawancarai Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, seusai dia menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga, di Jakarta. Berikut petikan wawancaranya.

Ada yang menilai pengelolaan masalah sampah, misal seperti di Jakarta masih semrawut?

Yang penting masih ada sinergi. Kalau Jakarta, lahannya sementara ini di Bantar Gebang milik Bekasi. Saya kira perlu ada sinergi, termasuk kontribusi anggarannya juga. Makanya kalau sampah di Jakarta, saya kira harus ada sinergi dengan Bekasi, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan. Karena kan pembuangan sampah. Kalau nanti mau diolah menjadi energi juga daerah harus ada kontribusi mendapatkan hasil keuntungan.

Kalau penekanan dari pusat ke daerah?

Kalau kami memang sampah ini menyangkut bagian dari lingkungan. Perlu segera ada gerakan sampah. Daerah yang mendapatkan Adipura juga masih berceceran sampahnya. Tolonglah misalnya kayak pasar, terminal, mal-mal, perkantoran minimal ada tempat-tempat yang buang sampah. Apalagi kalau sudah sistem yang ada di Singapura yang kertas, plastik dan sebagainya. Ini saja masih belum fokus dalam perencanaan anggaran maupun kebijakan strategis daerah pun. Juga masalah lingkungan sampah itu belum masuk. Sampah masuk sampah limbah, ini yang kompleks adalah masalah sampah. Tapi contoh hotel saja hancur mengganggu pariwisata. Kerja sama antara Kota Denpasar dan Badung, misalnya.

Jangan hanya melulu masalah urusan kesehatan, pendidikan, infrastruktur, sanitasi, dan air minum. Melayani masyarakat yang bersih dan sebagainya, juga penting. Tapi, mulai positif dari 10 daerah yang percontohan itu sudah mulai bagus, misal Bandung bagus, Bogor bagus, Jakarta sudah mulai tertata. Minimal di trotoar ada tempat-tempat sampah dalam radius yang meter itu aja. Dengan intensif dan serius, saya kira akan menjadi percontohan buat semua daerah.

Daerah lain yang layak jadi contoh?

Kami juga mengapresiasi Kota Makassar yang masalah sampah, kemudian ada gerakan sampah itu sudah mulai tiap-tiap RT gerakannya. Ini juga tidak bisa dikerjakan sendiri oleh pemda. Tapi harus melibatkan seluruh organisasi kemasyarakatan dan tokoh-tokoh masyarakat, perguruan tinggi termasuk pemerhati masalah sudah jadi strategi kebijakan nasional.

Tapi para aktivis lingkungan hidup selalu mengkritik?

Para LSM selalu mengkritisi bagaimana Indonesia mengurusi sampah saja tidak bisa tepat, seperti Singapura, Jepang. Menurut Singapura, ini negara kecamatan, mudah, cepat dengan teknologi dengan cukup bagus. Negara kita ini begitu besar, begitu banyak masyarakatnya. Kesadaran untuk masalah sampah saja belum semuanya. Contoh kalau kantor-kantor instansi pemerintah dan swasta, tempat pariwisata, di perbanyak tempat sampahnya. Ini belum.

Soal inovasi pemerintah daerah?

Saya kira kerja sama dan kemitraan, banyak kepala daerah yang inovasinya kurang. Jangan malu mencontoh tukang sampah, lebih baik datang ke Makassar, Surabaya. Jakarta saja urusan sampah sampai sekarang masih masalah. 

 

agus supriyatna/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment