Koran Jakarta | September 19 2019
No Comments
CAD Jebol I Misi Dagang Secara BIlateral Mesti Ditingkatkan

Perkuat Ekspor Kunci Perbaiki Defisit Transaksi Berjalan

Perkuat Ekspor Kunci Perbaiki Defisit Transaksi Berjalan

Foto : Sumber: Bank Indonesia – Litbang KJ/and - KJ / ONES
A   A   A   Pengaturan Font

>> Manfaatkan perang dagang, buat paket insentif untuk tarik relokasi industri dan ekspor.

>> Kualitas ekspor perlu ditingkatkan dengan memperbanyak komoditas bernilai tambah.

JAKARTA – Sejumlah kalangan me­ngemukakan pemerintah Indonesia ha­rus mampu memanfaatkan peluang dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok untuk memacu ki­nerja ekspor, guna memperbaiki defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).

Sebab, buruknya nilai ekspor merupa­kan salah satu penyebab melebarnya CAD pada kuartal II-2019 hingga menca­pai 8,4 miliar dollar AS atau 3,04 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Pada kuartal I-2019, CAD tercatat 6,97 miliar dollar AS atau 2,6 persen dari PDB.

Bank Indonesia (BI) menyatakan pembengkakan CAD itu dipengaruhi beberapa faktor seperti, repatriasi devi­den dan pembayaran bunga utang luar negeri, dampak perlambatan ekonomi dunia, serta penurunan harga komo­ditas di pasar global.

Pakar statistik dari ITS, Kresnayana Yahya, mengatakan pelebaran CAD kuar­tal II-2019 hingga mencapai rekor ter­buruk dalam lima tahun terakhir, selain akibat lemahnya ekspor juga disebabkan impor yang kebablasan.

Oleh karena itu, menurut dia, peme­rintah harus mengendalikan impor dan meningkatkan industri dalam negeri untuk mendorong ekspor yang berkua­litas agar dapat mengimbangi impor yang semakin besar. Industri dengan potensi ekspor harus cukup mendapat insentif, agar devisa yang dihasilkan ti­dak diparkir di luar negeri.

“Sudah tiga persen, balance of pay­ment kita akan terganggu. Nanti selalu ada defisit yang besar sehingga menu­tupnya terlalu berisiko walaupun untuk jangka pendek. Kata kuncinya adalah pengendalian impor dan genjot ekspor,” ujar dia, ketika dihubungi, Jumat (9/8).

Akan tetapi, Kresnayana mengingat­kan kemampuan ekspor RI bisa dikatakan stagnan. Padahal, saat ini tuntutan kuali­tas ekspor tinggi. Itulah sebabnya ekspor Indonesia kesulitan menembus pasar.

“Butuh pemikir-pemikir baru karena skema perdagangan global sekarang sudah banyak berubah. Kalau kita ma­sih mengandalkan ekspor bahan baku, tidak ada added value maka perlu pro­gram untuk menggenjot ekspor agar le­bih berkualitas,” tukas dia.

Strategi ekspor, imbuh Kresnayana, harus ditingkatkan dalam bentuk me­ningkatkan kualitas sektor manufaktur, terutama pada industri pertanian, pe­ternakan, dan perikanan.

Peluang Ekspor

Secara terpisah, Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengingatkan agar pemerintah menangkap peluang peningkatan vo­lume dan nilai ekspor dari adanya perang dagang. Buruknya nilai ekspor memang menjadi salah satu sumber tekanan me­lebarnya CAD di kuartal II-2019. “Misi-misi dagang dari pemerintah, dunia usaha, bisa secara bilateral meningkatkan hubungan dagang ke AS. Kita juga perlu menangkap peluang relokasi investasi dari Tiongkok ke Indonesia,” ujar Perry.

Sebagai gambaran, dalam neraca transaksi berjalan, terdapat empat kom­ponen pembentuk, yakni neraca tran­saksi perdagangan barang, neraca jasa, neraca pendapatan primer dan juga neraca pendapatan sekunder.

Jika membedah statistik Neraca Pem­bayaran Indonesia (NPI) kuartal II 2019, dari keempat komponen tersebut pos pendapatan primer adalah komponen yang paling menekan transaksi berjalan, diikuti pos perdagangan barang migas. SB/YK/suh/ers/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment