Koran Jakarta | October 16 2018
No Comments

Perjuangan Seorang Imam Melestarikan Alam

Perjuangan Seorang Imam Melestarikan Alam
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Memahami Laudato Si’

Penulis : Sr Amelia Hendani

Penerbit : Obor

Cetakan : Mei 2018

Tebal : vii + 121 halaman

ISBN : 978 979 565 820 7

 

Kerusakan alam sudah akut. Kanibalitas topografi, biosistem, dan struktur geologis planet Bumi sudah berada pada tahap membahayakan. Fakta ini sudah jamak diketahui seperti busa, tapi kurang dianggap. Puluhan organisasi peduli lingkungan dibentuk dan bergerak. Sayang, respons masyarakat kurang antusias. Para pejuang lingkungan tersebut semata dianggap sedang memuaskan hobi. Bahkan, pihak yang kepentingannya terganggu kerap mengancam aktivis lingkungan.

Spirit pejuang lingkungan mendapat energi besar ketika Paus Fransiskus pada tanggal 18 Juni 2015 mengeluarkan ensiklik Laudato Si’ yang membahas tentang perang agama Katolik memulihkan kerusakan alam. Dokumen yang merupakan ajaran sosial Gereja ini salah satunya didorong pengalaman langsung Paus Fransiskus menyaksikan tragedi super taifun Yolanda di Filipina.

Ada empat juta penduduk kehilangan tempat tinggal dan 16 juta lainnya kehilangan pekerjaan. Taifun sebesar itu rentetan kausalitasnya disebabkan perubahan iklim ekstrem dampak pemanasan global lantaran ulah manusia. “Paus Fransiskus menggambarkan situasi Bumi sebagai saudari dan ibu yang menjerit karena kerusakan yang kita timpakan padanya,” tulis buku ini ( halm 9).

Buku ini fokus mengisahkan Thomas Berry, pejuang lingkungan paling efektif yang banyak mempengaruhi ensiklik Paus Fransiskus. Dia menulis beberapa buku dan ikut serta turun tangan mendirikan lembaga pendidikan lingkungan. Pengaruhnya yang luar biasa membuat Imam Katolik ini diundang Presiden Clinton dua kali ke Gedung Putih untuk memberikan pendapat tentang persoalaan lingkungan hidup. Pelopor The Great Work ini menjelaskan pentingnya meneguhkan hubungan spiritual antara manusia dan alam.

Pastor ini mendasarkan pada Korintus 12 ayat 12-27 bahwa kehidupan ini adalah satu tubuh integral sebagai Tubuh Kristus. Manusia hanyalah satu organ dari organ-organ alam lainnya. Keberadaannya untuk menjalankan satu peran sebagaimana tangan pada badan, sekaligus membutuhkan peran organ-organ lain guna menyempurnakan keberadaan alam secara keseluruhan.

Dia menjelaskan, di setiap ciptaan terdapat kehadiran Yang Ilahi. Ini mencakup semua yang ada di muka Bumi. Tidak wajar jika memandang alam semata-mata sebagai objek pemenuhan kebutuhan manusia. Dia hadir untuk dimanfaatkan merupakan bagian kasih-Nya, bukan stimulasi untuk mengeksplorasi, melainkan disyukuri. Dengan begitu, akan lahir apresiasi dan pemahaman sakralitas atas alam raya (hlm 98).

Thomas Berry menjelaskan, semua yang ada di alam raya merupakan communion atau persatuan yang tidak bisa dipisahkan karena saling terkait dan mendukung keberlangsungan. Hutan yang digunduli manusia, misalnya, akan mengakibat banjir, longsor, dan pemanasan global. Semua itu merusak mata rantai kehidupan makhluk lain, termasuk kehidupan manusia itu sendiri.

Sebagai Imam Katolik, dia mengatakan bahwa Ekaristi merupakan perayaan ritual yang mengajarkan persatuan antaranggora tubuh di dalamnya. “Ada peran air, sinar matahari, tanah, serangga, tangan manusia dan lain-lain bagi tersedianya roti dan anggur di meja perjamuan,” katanya (hlm 14).

Perjuangan menjaga kelestarian Bumi disadari sebagai perlawanan terhadap egoisme manusia yang cenderung rakus dan konsumtif. Watak demikian akibat kegagalan mencari kebahagiaan sejati. Begitu mereka galau, daya konsumsi meningkat sebagai katarsis. Kompetisi untuk menumpuk barang, mengonsumsi segala hal dan obsesi menjadi yang terkaya adalah kebahagiaan ilusif yang diburu.

Dia menyerukan agar agama-agama membelokkan kekeliruan ideologis tersebut. “Agama harus membangkitkan dalam diri kaum muda kesadaran mengenai fungsi dan peran dunia,” katanya (hlm 96).

Dalam buku ini terselip pengakuan, watak eksploitatif-destruktif manusia sudah sangat parah. Namun, Thomas tetap memiliki harapan besar, alam bisa kembali lestari saat kesadaran seluruh manusia tumbuh untuk melawan ancaman kerusakan alam yang mematikan.

 


Diresensi Muhammad Aminulloh, Alumnus STAI Buduran Sidoarjo

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment