Koran Jakarta | October 20 2018
No Comments

Perjuangan Melawan Diskriminasi yang Belum Usai

Perjuangan Melawan Diskriminasi yang Belum Usai
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Martin Luther King, Jr

Penulis : Roger Bruns

Penerbit : Basabasi

Cetakan : Januari 2018

Tebal : 356 halaman

ISBN : 978-602-6651-78-5

Sejak usia 6 tahun, Martin Luther King, Jr mulai menyadari, sistem sosial sekelilingnya diskriminatif. Ini terjadi saat seorang teman kulit putihnya tiba-tiba menghilang dari kehidupannya karena dilarang keluarganya untuk berteman dengan orang berkulit hitam. Sejak itu pula, dia diajari untuk tidak menyesuaikan diri dengan sistem tersebut. Jangan menerima prasangka, konvensi sosial, dan hukum tidak adil yang menekan ras kulit hitam di Amerika Serikat (hlm 23).

Lahir 15 Januari 1929, di Atlanta, dengan nama Michael King, Jr, Martin tumbuh di keluarga kelas menengah yang religius, menyenangkan, serta menghargai hubungan antarmanusia. Ayahnya, pendeta Michael King, Sr, mengenalkannya demokrasi Kristiani yang penuh cinta, kesetaraan, dan keterbukaan. Pendidikan di Morehouse College membawa King bertemu Benjamin Mays dan George E. Kelsey. Dia kemudian mengadopsi nama “Martin Luther” dari nama seorang pemimpin spiritual agama dari Jerman. Keduanya membuka kesadaran, masalah ras adalah dilema moral terbesar Amerika saat itu. Pendidikan salah satu kekuatan pembebasnya.

Resmi dilantik sebagai pendeta pada 1948, King memperdalam peran agama untuk tujuan sosial. Dengan menjadi pendeta, dia mencoba membuat perubahan sosial politik. Dia mengecam penindasan, kemiskinan, dan diskriminasi. Filosofi sosial dan religius Mahatma Gandhi dalam mengubah tatanan sosial dan politik juga menginspirasi suami dari Coretta Scott ini. “Gandhi, dengan memotong rantai kebencian telah mengangkat etika cinta Kristus menuju kekuatan sosial yang efektif. Filsafat antikekerasannya adalah satu-satunya pendekatan logis dan bermoral sebagai pemecahan masalah ras Amerika Serikat,” kata King (hlm 62).

Biografi ini menguntai kisah pergerakan lulusan doktoral dari Boston University bersama aktivis hak-hak sipil di berbagai kota terutama di wilayah Amerika Serikat bagian selatan ini untuk melawan superioritas warga kulit putih dalam bidang ekonomi, sosial, dan politik. Seperti peristiwa pemboikotan bus di Montgomery tahun 1955. Aksi berbulan-bulan dilakukan untuk mendukung Rosa Parks, wanita kulit hitam yang ditangkap karena menolak memberikan tempat duduknya di bus kepada orang kulit putih.

Pemboikotan menjadikan King sebagai fokus kebencian komunitas kulit putih. Mereka mencoba segala cara untuk menantang cara hidup mereka. Tokoh-tokoh kulit hitam ditangkap. Rrumah dan gereja dibom. Dia minta warga kulit hitam untuk tidak membalas dengan kekerasan. “Senada dengan seruan Yesus selama berabad-abad: cintailah musuhmu. Jalan yang kita ambil menghadapi kebencian dengan cinta,” kata Martin (hlm 105).

Southern Christian Leadership Conference (SCLC) kemudian dibentuk bersama pendeta-pendeta dari 10 negara bagian. Tujuannya mendorong gerakan massa dalam menghadapi politik segregasi di AS bagian selatan dengan rangkaian kampanye teratur, terstruktur, dan damai. Perjuangan pemenuhan hak-hak sipil kemudian berlanjut seperti di Little Rock, Birmingham, Albany, Detroit, dan Selma. Aksi pawai hingga insiden dalam Freedom Rider dan Bloody Sunday setidaknya dapat memaksa pemerintah untuk menegakkan hukum. Di antaranya dengan disahkannya “Civil Rights Act” dan “Voting Rights Act.”

Penerima Nobel Perdamaian di usia 35 tahun tak kenal lelah selalu mendapat reaksi keras. Pada 4 April 1968 di Memphis, Tennesee, untuk mendukung pekerja sanitasi kulit hitam, dia mendapat perlakuan lebih baik. Namun, simbol aktivis kulit hitam ini terpaksa menyerah. Ia tewas di tangan James Earl Ray saat memperjuangkan hidup berdampingan tanpa diskriminasi seperti dalam pidato legendarisnya “I Have a Dream.” 


Diresensi Anindita Arsanti, Alumna UPN Veteran Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment