Koran Jakarta | October 24 2017
No Comments

Perjalanan Nietzsche dalam Berfilsafat

Perjalanan Nietzsche dalam Berfilsafat

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul        : Gaya Filsafat Nietzsche

Penulis      : A. Setyo Wibowo

Penerbit    : Kanisius

Cetakan    : 2017

Tebal        : 440 Halaman

ISBN         : 978-979-21-5131-2

Dalam garis besar sejarah Filsafat Barat Modern, Friedrich Wihelm Nietzsche berada di ujung abad modern. Nietzsche lahir di Rocken (Saxe-Prussia) pada 15 Oktober 1844. Sebelum terjun ke dunia filsafat, filologi menjadi bidang keahilannya di Universitas Basel. Dibanding filsuf-filsuf abad pencerahan lainnya, Nietzsche hadir dengan sesuatu yang baru.

Kebaruan yang dibawa bukan semata pemikirannya, tetapi juga gaya berfilsafat yang provokatif dan penuh aforisme. Ini mengingat sebagian besar karya-karyanya ditulis dalam situasi peziarahan dari satu wilayah ke wilayah lain. Dia mencari iklim kondusif bagi tubuhnya yang sakit. Sebab pada 1879, Nietzsche mengakhiri kariernya dalam dunia universitas dan mulai hidup mengembara (hlm 45).

Secara keseluruhan, pemikiran Nietzsche berkutat pada kritik atas Idee fixe, sebagaimana ada dalam konsep, ideologi, Tuhan, kata, dan bahasa. Menurutnya, segala Idee fixe adalah bentuk antropomorfisme kebablasan yang menjadi ciri khas modernisme. Menanggapi semangat itu, Nietzsche mengajak kembali ke realitas dan menerima apa adanya.

Realitas di mata Nietzsche adalah plural dan selalu menjadi. Maksudnya tidak bersifat pasti (Ideefluxe). Oleh karena itu, menurut Nietzsche, seluruh konsepsi Idee fixe (misalnya oleh kaum metafisikus, agama, ateis, dan saintis) dipandang sebagai bahaya yang memenggal separuh realitas (hlm 25).

Nyatanya, peringatan Nietzsche tentang bahaya Idee fixe tidak main-main. Banyak kekerasan dimulai dari konsep atau Ideefixe. Contoh, konsep agama tertentu yang membuat orang rela menjadi martir dan pembunuh. Di sini, menurut Nietzsche, ada kaitan antara kepercayaan tertentu dengan kebutuhan untuk percaya dari subjek itu yang mengungkapkan kekuatan dan kelemahan.

Semua fanatisme yang meng-fix-kan ide tertentu adalah pengungkapan kelemahan manusia itu sendiri. Bukan hanya fanatisme agama, tetapi juga fanatisme dalam filsafat, patriotisme, bahkan dalam ateisme! Intinya, fanatisme bisa berbentuk apa saja, tetapi yang jelas ada sesuatu dalam diri manusia yang membutuhkan pegangan dan tuntutan yang memerintah dari luar diri (hlm 223).

Bahkan, dalam sains pun ada fanatisme yang mengklaim kebenaran satu-satunya. Fanatisme sains yang berstandarkan objektivitas telah mengabaikan subjektivitas dan mengorbankan keyakinan lainnya. Ambisi sains mencari kebenaran sebenar-benarnya ini, dilihat Nietzsche sebagai kehendak mati-matian akan kematian. Ini terungkap dari hasil kerja sains yang mematikan tatanan ekologis (hlm 231).

Fanatisme, menurut Nietzsche, lahir dari kebutuhan akan pegangan. Inilah genealogi Nietzsche yang berusaha mencari kaitan-kaitan antara ujaran metafisis tertentu dengan motivasi yang melandasinya. Lewat genealogi, kita diajak tidak terlalu mudah ditipu omongan-omongan tentang kebenaran, sehebat apa pun, sesaleh apa pun dan seilmiah apa pun.

Sebab semua lahir dari keloyoan orang-orang lemah yang butuh pegangan dengan meng-fix-kan suatu nilai tertentu. Ini agar hidupnya tetap eksis dan tertata di tengah kenyataan yang (menurut Nietzsche) ambigu, plural, dan selalu menjadi (tidak fiks) (hlm 242).

Lalu, sikap macam apa yang ditawarkan Nietzsche berhadapan dengan realitas? Baginya, realitas baik dan buruk, sekaligus tidak baik dan tidak buruk. Itulah sudut pandang Nietzschean yang immoral (melampaui moral) dengan menerima kenyataan apa adanya. Dan kehendak orang kuat adalah bukan kehendak eliminator (yang meniadakan yang lainnya).

Kehendak orang kuat secara paradoks digambarkan seperti bayi yang polos dan menerima semuanya, baik-buruk dan tidak baik dan tidak buruk, tanpa iya naif ataupun tidak radikal. Inilah sikap dan kehendak orang kuat yang sopan dengan mengambil jarak dihadapan realitas yang plural, khaostik, dan selalu menjadi (hlm 137).

Diresensi R Taolin, Mahasiswa STF Driyarkara

 

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment