Koran Jakarta | June 23 2018
No Comments
Perada

Perjalanan dan Peran Devisa Pelancongan

Perjalanan dan Peran Devisa Pelancongan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Sejarah Pariwisata
Penerbit : Obor Indonesia
Cetakan : 2O17
Tebal : 257 halaman
ISBN : 978-602-433-437-6

Sejak revolusi industri, pariwisata menjadi eksklusif karena alat transportasi semakin memadai sehingga orang tambah mobile. Wisata semakin mudah dan cepat. Stasiun, hotel, dan restoran dibangun guna melengkapi fasilitas pariwisata.

World Economic Forum merilis devisa pariwisata sebesar 6 persen dari penghasilan kotor dunia. Di Indonesia, pada tahun 2010, jumlah wisatawan asing baru tujuh juta dengan pendapatan 10, 74 persen dari APBN. Ini jauh lebih tinggi dari kunjungan tahun 2009 yang hanya 5,5 juta wisatawan. Pendapatan sektor wisata berada pada level ketiga setelah minyak bumi dan hutan. Kelak sektor wisata diestimasi menjadi produk unggulan karena minyak bumi, hutan, gas, dan kelapa sawit akan menurun.

Pariwisata sudah ada sejak dulu sezaman dengan pergerakan manusia nomaden. Pariwisata dari Sanskerta yang berarti mengunjungi suatu tempat untuk melihat, mendengar, menikmati, dan belajar (hlm 3). Orang Yunani kuno mengunjungi suatu tempat untuk belajar. Orang Sumeria untuk berniaga. Orang Romawi atas alasan politik, sedangkan orang sufi untuk mencari dan menyebarkan pencerahan spiritual. Pariwisata zaman klasik masih sangat sederhana dan sama sekali tidak diformat dalam bingkai bisnis.

Namun, sejak revolusi industri, pariwisata menjadi eksklusif karena alat transportasi semakin memadai sehingga orang tambah mobile. Wisata semakin mudah dan cepat. Stasiun, hotel, dan restoran dibangun guna melengkapi fasilitas pariwisata. Pada tahun 1840, Thomas Cook pertama kali mendirikan biro perjalanan yang terus berkecambah di Eropa. Bisnis pariwisata menyebar seiring kolonialisasi negara-negara Eropa (hlm 12). Belanda yang menjajah Indonesia mendirikan biro perjalanan Vereiniging Turisten Verkes pada tahun 1910.

Tahun 1913, Guide Book perjalanan diterbitkan. Setelah itu majalah Tourism dicetak untuk mempromosikan destinasi wisata Indonesia. Awalnya, wisata hanya dilakukan orang berduit. Saat ini, dilakukan banyak kalangan. ”Diawali dari kegiatan yang semula hanya dinikmati segilintir orang kaya pada awal abad ke-20, kini telah menjadi bagian hak asasi manusia,” kata John Naisbitt, futorolog kenamaan (hlm 73). Jovistik merumuskan ilmu pariwisata, turismologi karena pariwisata merupakan composite phenomena.

Ia harus dipahami dari berbagai sudut ilmu sosiologi, ekonomi, psikologi dan antropologi. Dengan ilmu khusus yang membahas pariwisata akan dengan mudah merancang konsep pengembangan priwisata terarah. Turismologi ini jelas tidak hanya bersifat teoritis dan ilmiah, namun juga menjadi pisau ampuh untuk membedah rumus bisnis pariwisata yang lebih prospektif. Indonesia kaya destinasi alam, budaya, dan sejarah. Ini harus didukung eksplorasi tempat wisata baru demi memenuhi varian peminatan para turis yang juga terus bertambah.

Buku ini menekankan arti penting kerja sama antara pemerintah, swasta dan masyarakat demi tercipta basis pariwasata yang prospektif. Pemerintah diuntungkan dengan bertambahnya devisa dan masyarakat merasakan dampak serupa karena adanya peningkatan ekonomi. Kemudian terjadi juga kelestarian alam, budaya, serta nilai sosial. Karya mereka makin diapresiasi.

Diresensi Asnawi Susasto, Anggota Wahana Lingkungan Hidup Indonesia

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment