Peringkat Kemudahan Berusaha Stagnan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
Iklim Investasi I Tingkatkan Kualitas Ekspor Tekstil

Peringkat Kemudahan Berusaha Stagnan

Peringkat Kemudahan Berusaha Stagnan

Foto : ANTARA/WAHYU PUTRO A
BERTEMU PENGURUS API I Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kanan), serta sejumlah menteri kabinet Indonesia Maju menerima pengurus Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Produsen Serat Sintesis dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) di Istana Merdeka Jakarta, Kamis (21/11).
A   A   A   Pengaturan Font
Presiden meminta upaya-upaya yang dijalankan oleh pemerintah harus dilakukan secara total.

 

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta jajarannya untuk mengidentifikasi persoalan-persoalan yang men­jadi penghambat kemudahan berusaha di Indonesia.

“Saya ingin para menteri mempelajari masalah-masalah yang ada secara detail di mana poin-poin kelemahan serta titik-titik yang menjadi penghambat dari kemudahan berusaha ini,” kata Presiden Jokowi saat mem­berikan pengantar rapat ter­batas Percepatan Kemudahan Berusaha, di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (21/11).

Presiden mengingatkan peringkat kemudahan berusaha di Indonesia dalam setahun terakhir ini stagnan. Padahal, lanjut Presiden, pada 2018, peringkat kemudahan berusaha Indonesia berhasil mengalami peningkatan yang signifikan dari peringkat 120 menjadi peringkat 72. “Kita ingin ada sebuah kenaikan peringkat lagi dalam kemudahan berusaha di Indonesia yaitu di peringkat 40–50 seperti yang kita ingink­an,” tutur Presiden.

Agar terwujud, Presiden meminta upaya-upaya yang dijalankan oleh pemerintah harus dilakukan secara total. “Solusi yang kita kerjakan tidak boleh sepotong-sepotong. Kita butuh sebuah reformasi struk­tural, membutuhkan deregula­si, dan debirokratisasi sehingga kemudahan berusaha betul-betul bisa kita potong, kita sederhanakan,” ucap Presiden.

Langkah Perbaikan

Presiden menginstruksikan Menteri Koordinator bidang Perekonomian serta Menteri Koordinator bidang Kema­ritiman dan Investasi untuk mengawal langkah perbaikan dan reformasi di semua titik agar upaya tersebut benar-benar membuahkan hasil.

“Reformasi pelayanan perizinan yang cepat dan terintegrasi dari pusat ke provinsi sampai ke kabupaten harus menjadi sebuah desain sehingga benar-benar kita bisa melihat, bisa mengontrol, dan bisa mengawasi proses-proses yang ada di mana berhentinya, di mana ruwetnya,” tutupnya.

Sekretaris Kabinet (Seskab), Pramono Anung, mengatakan bahwa Presiden memutus­kan kewenangan perizinan sepenuhnya dikembalikan ke­pada Badan Koordinasi Pena­naman Modal (BKPM). “Jadi, hal yang berkaitan dengan kemudahan berusaha sebena­rnya Seskab telah membuat su­rat resmi kepada BKPM terkait hal itu sesuai arahan Presiden,” kata Pramono saat memberi­kan keterangan pers usai ratas.

Pramono menuturkan, BKPM diberi target pada 2021 ranking kemudahan berin­vestasi berada di posisi 50.

“Tadi, Presiden mengin­struksikan kepada seluruh menteri sampai akhir Desem­ber sekurang-kurangnya men­cabut 40 permen yang diang­gap menghambat kemudahan investasi dan berusaha terma­suk perizinan tersebar di be­berapa kementerian,” ucapnya.

Pertemuan Lanjutan

Sementara itu, saat bertemu dengan pengurus dan anggota Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Produsen Se­rat Sintesis dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Presiden membicarakan tentang peningkatan ekspor dan kawasan industri tekstil terintegrasi. Menurut Presiden, pertemuan yang digelar kali ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya yang digelar pada 16 September 2019.

“Pertama, bagaimana kita bisa naikkan, baik nilai mau­pun kuantitas ekspor, kedua mengenai investasi yang dulu dibicarakan kira mulai siap­kan sebuah kawasan atau yang dulu ingin dibangun adalah apparel park atau sebuah ka­wasan dari mulai bahan baku sampai nantinya industrinya berada di satu tempat,” kata Presiden. fdl/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment