Koran Jakarta | September 19 2019
No Comments

Perhatian Gereja terhadap Integrasi Bangsa

Perhatian Gereja terhadap Integrasi Bangsa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Panggilan Hidup Menggereja dalam Hidup Berbangsa

Editor : Yon Lesek

Penerbit : Obor

Cetakan : 2018

ISBN : 978–979- 565-818-4

Perebutan kekuasaan dalam ranah politik telah banyak mempengaruhi keharmonisan bangsa yang heterogen ini. Jika tidak segera diwaspadai, Indonesia akan mengalami disintegrasi. Buku ini mencatat, penyebab disintegrasi karena nilai-nilai Pancasila tak dihayati. Sosialisasi Pancasila di masa Reformasi memang kurang.

Euforia Reformasi dengan kesalahan memahami hakikat demokrasi mendorong kegaduhan. Pancasila mulai diabaikan sebagai dasar penyelenggaraan negara dan pemerintahan. “Ia dikalahkan pragmatisme politik sesaat, di mana berbagai aturan dan kebijakan lahir sebagai kompromi banyak pihak yang memiliki kepentingan tertentu,” tulis buku ini (hlm 9).

Disintegrasi bangsa juga disebabkan masifnya ideologi dan paham kontra Pancasila yang disemai lewat teknologi informasi. Ia kemudian melahirkan gerakan radikalisme, hasrat mengubah ideologi Pancasila hingga obsesi untuk membentuk negara berdasarkan agama tertentu.

Kondisi ini semakin parah ketika krisis keteladanan dari pemimping bangsa. Mereka yang semestinya menampilkan kepribadian pancasilais, justru mencederainya dengan korupsi, membohongi publik, dan mengeluarkan pernyataan yang bikin resah. Mereka juga mengadu domba warga dan lebih mengedepankan kepentingan pribadi serta golongannya.

Gereja sebagai bagian dari bangsa Indonesia tentu tidak tinggal diam. Walaupun diakui sebagai kawanan kecil di tengah beragam golongan plural, peran aktifnya untuk turut memikirkan dan memperbaiki bangsa adalah bagian integral ajaran Tuhan sebagaimana termaktub dalam Mazmur 133, “Sungguh, alangkah baik dan indahnya apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.” Mazmur ini mengajak untuk hidup rukun agar damai (hlm 15).

Pemimpin sangat menentukan kemunculan kerukunan. Menurut Alkitab, pemimpin harus berkomitmen memperbaiki bangsa. Dia harus sudah selesai dengan urusan dirinya sendiri. Kekuasaan di tangan bukan media melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Pemimpin juga mesti bertindak menurut hati nurani (bdk Rm 12). Dia juga harus berkompetensi dan berkarakter.

Warga Gereja melihat nilai-nilai Pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai Kerajaan Allah. Berjuang dan mengamalkan Pancasila juga merupakan tuntutan iman. Sebab itu, tidak ada pemisahan antara urusan manusia dan ilahi serta urusan dunia dan agama. Keduanya satu padu. Menjaga bangsa setali dengan merawat agama itu sendiri.

Dalam tataran praktis, Gereja hadir membuka dialog dengan umat beragama lain. Gereja berpartisipasi aktif dengan menggunakan hak politiknya secara bijak. Gereja melakukan tindakan amal yang bebas dari motivasi tidak sehat seperti sebagai sarana memikat orang untuk mengikuti paham atau agama tertentu.

“Masyarakat juga diajak untuk waspada terhadap berbagai tindakan amal kasih, yang ditunggangi propaganda politik dan provokasi sosial untuk tujuan menghancurkan bangsa Indonesia,” tulis buku ini (hlm 33). Buku ini merupakan langkah strategis yang dilakukan umat Katolik guna merespons, mengantisipasi, dan memecahkan persoalan yang sedang dihadapi bangsa. Tidak soal sekecil apa pun sumbangsih positif yang dilakukan. Sebab bukan mustahil dia menjadi teladan yang akan diikuti kelompok atau umat beragama lain, sehingga terjadi perubahan besar. 

Diresensi Lailatul Qadariyah, Alumna Universitas Trunojoyo Madura

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment