Koran Jakarta | October 16 2018
No Comments

Pergulatan Batin Rohaniwan Mempertahankan Panggilan

Pergulatan Batin Rohaniwan Mempertahankan Panggilan
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Romo Rahadi

Penulis : Y Wastu Wijaya

Tebal : 383 halaman

Tahun : 2018

Penerbit : PT Kanisius

ISBN : 978-979-21-5159-6

 

Bagi seorang awam, raga kurang penting dibanding roh. Namun, tanpa raga, roh tak ada tempat. Tanpa roh, raga hanyalah gumpalan daging dan tulang-belulang. Bagi seorang rohaniwan atau pemuka agama mana pun, beriman benar saat bisa meninggalkan segala hasrat ragawi. Tapi, bagaimanapun, seorang rohaniwan juga insan dengan sifat-sifat manusiawi seperti awam lain.

Y Wastu Wijaya atau Romo Mangun Wijaya menarasikan pergolakan batin Romo Rahadi, seorang rohaniwan saat menghadapi “ujian” iman dalam novel Romo Rahadi (2018). Sebagai anak bungsu, Rahadi banyak dimanja kakak-kakak perempuannya. Ia lahir dari keluarga Katolik harmonis. Saat remaja, Rahadi berteman lekat dengan Rosi, yang juga dicintai. Saat Rahadi masuk Seminari, mesti mengambil jarak dengan Rosi.

Tahun-tahun berlalu, Rahadi yang telah ditahbiskan menjadi imam bertugas di Jerman. Pada satu misa sangat pagi, datang seorang perempuan, Hildegarad, yang minta tolong. Mulanya dia hanya diam menghadapi permintaan tolong Hildegard. Saat mereka berjumpa lagi dan berbincang di kedai kopi, Rahadi telah berketetapan hati untuk menolong perempuan berjiwa rentan itu.

Hildegard lahir di Vietnam saat perang. Dia merasa tidak pernah selesai dengan dirinya. Hari-harinya hanyalah penderitaan dan pencarian tanpa henti. Rahadi pun mengakui, sejak bertemu akan mudah menyayanginya. “Hildegard datang tanpa kuundang. Ini termasuk tugas panggilanku juga. Bahaya yang mengancamku akan terkena asmara pada kewanitaannya sudah kuketahui. Ia cakap dan tubuhnya indah. Menolong jiwa wanita sering tidak lepas dari konsekuensi mendekap tubuhnya. Hal itu sering tidak bisa dielakkan,” (hal 55)

Hildegard dan Rahadi pun berteman karib, sampai mereka mesti berpisah. Rahadi pulang ke Indonesia, sedang Hildegard lari ke berbagai belahan dunia pula untuk melupakan Rahadi. Sampai suatu ketika, langit memutuskan menjumpakan mereka kembali di sebuah pesawat Dakota bobrok tujuan Papua. Rahadi yang sedang goyah ditugaskan “beristirahat” di rumah Mas Swan, kakak iparnya, seorang anggota TNI. Hildegard dalam misi antropologis menuju belantara Papua bersama rombongan peneliti Jerman.

Di sela kegembiraan atas pertemuan kembali, mata Rahadi tak bisa menghindar pada raga yang ada di hadapannya. Di pesawat, dua orang merindu itu saling menggenggam tangan. Tapi mata yang ragawi memerosokkan hati Rahadi pada permenungan (hal 58). Peristiwa ragawi menjadi pengantar pada pemaknaan rohani. Di buah dada perempuan, ada keheningan kudus, tempat kehidupan manusia bermula dan berpulang.

Di Papua, Hildegard dan rombongan diculik sebuah suku. Mereka dibawa ke pesta orgi (seks). Raganya mengalami siksaan paling pedih sebagai perempuan. Rahadi dan rombongan TNI menempuh ratusan kilometer untuk mencari dan menyelamatkan. Perjalanan panjang ditempuh dengan helikopter dan berjalan kaki. Rahadi, sang rohaniwan itu bergolak lagi. Kala merasa ragalah yang lebih dibutuhkan untuk menerabas belantara sampai melukakan diri guna sampai ke Hildegard. “Begitukah pandangan umum tentang tugas rohaniwan? Semacam dukun dan penghafal mantra-mantra yang tidak tahu apa-apa selain ayat rohani? Betapa agung pangkat rohaniwan. Tetapi betapa hampa terasa dalam saat-saat seperti ini,” kata Rahadi.

Saat Hildegard berhasil diselamatkan, raga itu telah lebur. Ia tak mampu bertahan. Tapi dalam kehancuran tubuh, Hildegard menemui damai yang selama ini dicari. Rahadi mesti mengikhlaskan. Ia pun merasa dalam raga yang mengalami hinaan paling pedih pun, terdapat kedalaman rohaniah (hal 260–261).

 


Diresensi Na’imatur Rofiqoh, ilustrator buku anak

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment