Koran Jakarta | September 19 2019
No Comments
Listrik Tenaga Sampah - Pilihan Teknologi Mesti Disesuaikan Karakteristik Sampah

Percepatan PLTSa Butuh Dukungan Semua Sektor

Percepatan PLTSa Butuh Dukungan Semua Sektor

Foto : Sumber : Kemen ESDM - KJ/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

>> Perencanaan proyek pembangkit dinilai terburuburu, tanpa standar ketat.

>> Pemerintah pusat diharapkan memberikan koridor harga yang masuk akal.

JAKARTA – Sejumlah kalangan me­nyatakan pemerintah pusat mesti mengambil peran strategis guna mem­percepat pembangunan proyek Pem­bangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Indonesia.

Bahkan, semua sektor meliputi ke­menterian, lembaga negara, BUMN ter­masuk PLN, harus mendukung secara total. Pemerintah pusat bersama peme­rintah daerah (pemda) serta masyara­kat harus bekerjasama dan bersinergi mewujudkan PLTSa berkapasitas besar, modern, dan canggih.

Ketua Umum Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI), Bagong Suyoto, menilai lambatnya pengem­bangan PLTSa karena sejumlah hal, se­perti perencanaan yang terburu-buru, ditambah tidak ada standar ketat dalam perencanaan, monitoring, implemen­tasi, dan evaluasi. Contohnya, pada pro­yek PLTSa Bantargebang, Bekasi, Jabar.

“Kami memantau bahwa pemerintah belum membentuk tim nasional untuk Monev yang melibatkan berbagai ahli lintas disiplin dan lembaga guna mem­berikan masukan bagi perbaikan imple­mentasi proyek-proyek PLTSa di Indone­sia,” kata Suyoto, di Jakarta, Kamis (18/7).

Masalah lain, lanjut dia, berubah-ubahnya perencanaan dan pilihan tek­nologi. Pada awal sosialisasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyatakan bahwa PLTSa didu­kung oleh teknologi Jepang.

Akan tetapi, berdasarkan monitoring APPI dan laporan sejumlah lembaga, ternyata yang dipasang adalah tekno­logi India dan Indonesia. Itu berarti teknologinya belum siap. “Seharusnya teknologi yang dipilih disesuaikan de­ngan karakteristik sampah di Indonesia, seperti tingkat kebasahan, kalori, dan bentuk. Dan, teknologi itu siap pakai de­ngan kapasitas skala besar, 1.500–2.000 ton per hari per plant,” tukas dia.

Menurut Suyoto, pada pilot project PLTSa Bantargebang, kapasitas pro­duksi sekitar 50 ton per hari saat sosiali­sasi pada awal 2018. Lalu, dalam per­jalanannya diklaim meningkat menjadi 100 ton per hari.

Seharusnya pada akhir 2018, proyek tersebut sudah beroperasi total. Ter­nyata, hingga diresmikan pada 25 Maret 2019, pilot project PLTSa Tempat Peng­olahan Sampah Terpadu (TPST) Ban­targebang belum siap dioperasikan.

Saling Terkait

Pakar kebijakan dari Unair, Gitadi Te­gas, menambahkan ada dua persoalan saling terkait yang menjadi kendala pengadaan PLTSa, yakni kesadaran ma­syarakat dalam memilah sampah, dan komitmen PLN dalam mengadopsi PLT­Sa sebagai sumber energi terbarukan.

“Skala dan kapasitas PLTSa yang ada masih sangat kecil dibanding dengan kebutuhan listrik yang ada, sehingga beberapa masih bersifat simbolik,” jelas dia, Kamis.

Menurut Gitadi, soal penentuan harga oleh PLN dan Pemda atas PLTSa adalah masalah klasik. PLN ingin mem­beli semurah mungkin, sedangkan ka­pasitas PLTSa terbatas. “Dibutuhkan ke­bijakan elite di pusat dengan memberi koridor harga yang masuk akal. Harus ada kemauan afirmatif dari PLN untuk membeli dari PLTSa sehingga gayung bersambut,” kata dia.

Gitadi menilai dalam jangka panjang, dukungan PLN akan mendorong ke­sadaran masyarakat untuk memilah sam­pah. Sebab, selama ini kesadaran yang rendah dalam memilah sampah juga ma­sih jadi kendala untuk pasokan PLTSa.

“Bila masyarakat merasakan manfa­atnya, ketika sampah diubah menjadi listrik, maka akan tergerak untuk memi­lah sejak awal. Karena selama ini konsep 3R, yakni reuse, reduce, dan recycle be­lum jalan, meskipun sudah disediakan tempat sampah terpisah.Jika ada hasil akhir yang nyata, tentu akan mengubah pola bersikap warga,” tutur Gitadi.

Sebelumnya, pakar konversi energi dari ITS Surabaya, Bambang Sudarmanta, mengemukakan pengembangan PLTSa di Indonesia sangat potensial untuk meng­atasi dua persoalan penting sekaligus, yakni masalah lingkungan dan energi.

“Potensinya cukup besar karena sam­pah pada dasarnya adalah bagian dari aktivitas kehidupan. Setiap kegiatan me­nyisakan sampah, dan kemudian jadi ma­salah lingkungan,” ujar dia, Rabu (17/7). ers/SB/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment