Koran Jakarta | May 25 2019
No Comments
Kinerja Ekonomi 2019 - Perang Dagang Bakal Pangkas Pertumbuhan Global 0,8 Persen

Perang Dagang Jadi Ancaman Serius Ekonomi Global

Perang Dagang Jadi Ancaman Serius Ekonomi Global

Foto : Sumber: DJPPR, Kemenkeu-Litbang KJ/and
A   A   A   Pengaturan Font

>>Kebijakan ekonomi yang terfragmentasi menambah kerentanan global.

>>RI mesti bersiap-siap menghadapi kemungkinan buruk krisis ekonomi.

 

JAKARTA - Dampak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, serta berlanjutnya normalisasi kebi­jakan moneter di negara maju, khusus­nya AS, bakal menjadi ancaman serius bagi pertumbuhan perekonomian glo­bal termasuk Indonesia. Bagi Indone­sia, dampak tersebut terutama tecermin pada volatilitas nilai tukar rupiah.

Ekonom Universitas Islam Indonesia (UII), Suharto, mengemukakan fakta yang harus dihadapi Indonesia adalah peruba­han portofolio keuangan pasti terjadi. Dana murah semakin langka, sehingga pemerintah harus mampu mengelola ekonomi secara terukur dan hati-hati. Pertumbuhan ekonomi sulit diakselerasi karena efeknya pada pengetatan fiskal.

“Yang harus dijaga adalah stabilitas harga kebutuhan pokok masyarakat, ja­ngan sampai naik tak terkendali. Kemudi­an, pemerintah diharapkan mampu anti­sipasi penurunan harga komoditas utama dengan memberikan perhatian lebih pada industri manufaktur yang mengolah komoditas kita. Tax holiday, misalnya, ha­rus prioritas industri semacam itu,” papar dia, ketika dihubungi, Rabu (12/12).

Sementara itu, perubahan portofolio keuangan bakal memicu peralihan dana dari emerging market ke pasar negara maju yang dinilai lebih aman. Fenom­ena itu akan menimbulkan gejolak, terutama bagi negara yang mengandal­kan dana asing, seperti Indonesia.

Porsi kepemilikan investor asing yang men­dominasi Surat Berharga Negara (SBN) berpotensi memicu guncangan ketika terjadi pelarian modal atau capital out­flow.

Sebelumnya, Wakil Direktur Pelak­sana Dana Moneter Internasional (In­ternational Monetary Fund/IMF), David Lipton, mengungkapkan awan badai sedang berkumpul dan membayangi perekonomian global. Menurut dia, pemerintah dan bank sentral di dunia mungkin tidak cukup siap untuk meng­hadapi badai tersebut.

Lipton menilai bahwa pencegahan krisis belum lengkap selama lebih dari satu dekade sejak krisis sistem perbank­an global yang terakhir pada 2008. “Kita mesti mengatasinya, ‘perbaiki atap saat mentari bersinar’. Saya melihat awan ba­dai berkumpul, dan membayangi proses pencegahan krisis yang belum lengkap,” jelas dia.

Suharto juga menilai krisis keuangan global masih sangat mungkin terjadi, hal ini disebabkan oleh perubahan konstelasi politik ekonomi global. Sejak Presiden AS, Donald Trump, menyatakan perang da­gang serta merombak perpajakan, maka terjadi pelarian arus modal dari emerging market, Tiongkok, bahkan Eropa.

Prinsipnya, terjadi pengetatan uang global yang selama ini menjadi me­sin pertumbuhan global utamanya di emerging market. Untuk itu, Indonesia mesti terus bersiap menghadapi ke­mungkinan buruk krisis ekonomi terjadi di tahun terdekat.

Menurut Suharto, kebijakan uang longgar di beberapa negara, termasuk Tiongkok, telah dilakukan untuk meng­atasi mengetatnya uang global. Tapi, hal ini dapat menjadi ancaman krisis jangka pendek bila egosentrisme di antara ke­kuatan ekonomi global tidak kunjung mereda.

“Kenapa? Karena kebijakan ekonomi semakin terfragmentasi an­tarnegara, kawasan, bahkan industri keuangan. Ini menambah kerentanan ekonomi global,” tukas dia.

Sumber Bahaya

Sementara itu, IMF menyatakan sumber bahaya dari proyeksi ekonomi global tahun depan adalah konflik per­dagangan AS-Tiongkok yang dikhawatir­kan berdampak ke seluruh dunia.

IMF memperingatkan berlanjutnya perang dagang dapat memangkas per­tumbuhan global sebesar 0,8 persen.

“Ini sangat penting karena perda­gangan adalah mesin penting bagi per­tumbuhan,” kata Direktur Pelaksana IMF, Christine Lagarde, baru-baru ini.

Lagarde tidak melihat AS akan meng­alami resesi dalam waktu dekat, namun pertumbuhan akan melambat menjadi 2,5 persen pada 2019 dari 2,9 tahun ini. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok juga diperkirakan melambat 0,5 persen.

Wakil Presiden Dewan Perdagangan Luar Negeri, Jake Colvin, mengkhawatir­kan solusi perang dagang itu akan lebih buruk daripada sumber masalahnya. “Bea masuk telah berdampak buruk ter­hadap perekonomian riil,” ujar dia.

Terkait dengan gencatan senjata perang dagang, petinggi perusahaan otomotif AS menyatakan Gedung Putih menyampaikan kepada produsen mobil bahwa pemerintahan Trump optimistis Tiongkok akan memangkas tarif impor mobil buatan AS, dari 40 persen menjadi 15 persen. ahm/SB/YK/AFP/SCMP/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment