Koran Jakarta | August 26 2019
No Comments
Kebijakan Moneter - Reformasi Struktural Perlu untuk Perkuat Sektor Domestik

Perang Dagang Diprediksi Berlanjut

Perang Dagang Diprediksi Berlanjut
A   A   A   Pengaturan Font
Risiko perang dagang dipastikan akan memengaruhi perekonomian global sehingga ekspor akan turun yang berimbas pada melemahnya konsumsi.

 

 

MEDAN – Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok diperkirakan masih berlanjut hingga tahun depan sehingga semakin membuat iklim perdagangan global kian tak menentu. Karena itu, Indonesia dinilai perlu memacu reformasi struktural dengan penguatan sektor domestik.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Dody Budi Waluyo, dalam perbincangan dengan media di Medan, Sumatera Utara, akhir pekan lalu, menyatakan perang dagang berpotensi meluas karena AS sedang mengkaji transaksi perdagangan dengan beberapa mitra dagang.

Misalnya, saat ini AS sedang mengkaji hubungan dagang dengan Vietnam. Bukan tak mungkin, AS menerapkan kebijakan perdagangan yang progresif untuk membalikkan posisi defiist perdagangan bilateral mereka.

“Kalau bisa mengerucut ke suatu titik, ini akan berhenti pada saat Pemilu. Itu adalah alat untuk Trump memenangkan Pemilu 2019. Kita bisa debat, tapi masuk akal bahwa artinya jika begitu akan panjang peluang perang dagang,” ujar Dody. Pandangan mengenai keberlanjutan perang dagang tersebut mengemuka dalam beberapa analisis pelaku pasar.

Hal itu juga yang menjadi salah satu pertimbangan beberapa lembaga keuangan internasional untuk memprediksi perlambatan perekonomian global akan berlanjut hingga 2020. Saat ini, AS menaikkan tarif dari 10 persen menjadi 25 persen terhadap 300 miliar dollar AS produk Tiongkok ke AS.

Sebaliknya, Tiongkok membalas dengan menambah 25 persen tarif untuk produk ekspor AS ke Negeri Panda itu senilai 60 miliar dollar AS. Dengan demikian, risiko perang dagang sudah bisa dipastikan akan memengaruhi perekonomian global, sehingga ekspor akan turun yang berimbas pada melemahnya konsumsi.

“Dampak berikutnya juga terlihat konsumsi tertahan karena pendapatan ekspor akan berkurang, terutama Indonesia ekspor sumber daya alam sudah pasti eksportir kita ekuivalen rupiah yang diterima menurun dan mengurangi kemampuan konsumsi. Dampak berikutnya permintaan produksi berkurang karena demand global menurun, dan ini membuat juga investasi melambat di negara maju, emerging, dan Asia,” kata Dody.

 

Perkuat Domestik

 

Sementara itu, Ekonom Senior dari lembaga kajian Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Hendri Saparini, mengatakan pemerintah harus melakukan reformasi struktural untuk memperkuat sektor domestik guna memperkuat daya saing Indonesia dengan negara lainnya. Adapun kondisi yang terjadi sekarang, kata dia, pertumbuhan ekonomi dunia lebih tinggi dari pertumbuhan perdagangan internasional.

Hal itu menunjukkan kegiatan ekspor dan impor tidak lagi menjadi penyokong utama pertumbuhan. “Semestinya Indonesia bukan mendorong global membaik, tetapi kita bergerak untuk memanfaatkan keadaan global. Kita harus menyiapkan industri dalam negeri untuk memanfaatkan peluang yang ada,” kata Hendri. 

 

bud/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment