Koran Jakarta | October 24 2018
No Comments
Perdagangan Global - Kenaikan Bunga Bebani Negara dengan Utang Besar

Perang Dagang Berpotensi Memicu Krisis Keuangan Lagi

Perang Dagang Berpotensi Memicu Krisis Keuangan Lagi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

>>Efek perang dagang dan penguatan kurs dollar AS telah membebani pasar keuangan.

>>Solusinya, perbaiki struktur ekonomi dengan dorong pemulihan sektor industri dan ekspor.

 

JAKARTA - Sejumlah kalangan menilai perang dagang Amerika Serikat (AS)-Tiongkok bukan hanya akan memangkas perdagangan dan pertumbuhan ekonomi global, tapi juga berpotensi memicu terjadinya kembali krisis keuangan.

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, mengatakan meningkatnya ketegangan perdagangan global dan tumbuhnya kebijakan dagang protektif menjadi risiko yang dapat membahayakan pertumbuhan ekonomi kawasan dan global.

“Proteksionisme menyebabkan biaya lebih tinggi bagi dunia usaha, harga yang lebih mahal untuk konsumen, upah yang lebih rendah, dan hilangnya pekerjaan,” ujar dia, di Jakarta, Kamis (12/7). Bhima menjelaskan banyak perusahaan di negara berkembang yang tidak mampu bersaing, akhirnya melakukan efisiensi.

“PHK (pemutusan hubungan kerja) perusahaan yang gulung tikar menjadi indikator memburuknya sektor manufaktur,” imbuh dia.

Menurut dia, indikasi menuju krisis antara lain terlihat dari defisit perdagangan Indonesia yang sepanjang Januari–Mei tahun ini mencapai 2,83 miliar dollar AS. Dalam lima bulan, neraca perdagangan mencatat defisit empat kali.

“Pertumbuhan konsumsi dan manufaktur tak mampu mencapai lima persen. Beberapa perusahaan swasta mengalami revisi credit rating akibat kinerja keuangan memburuk,” kata Bhima.

Guna mencegah agar krisis ini tidak menjalar ke banyak sektor, lanjut dia, solusinya adalah memitigasi krisis dimulai dari perbaikan struktur ekonomi, yakni mendorong pemulihan sektor industri dan ekspor.

“Seluruh fokus kebijakan harus di kedua sektor itu. Selain itu, perlu juga relaksasi pajak, bea keluar. Kemudahan mendapatkan bahan baku kuncinya,” tukas Bhima.

Sementara itu, mantan Executive Chairman Franklin Templeton Investments, Mark Mobius, memprediksi perang dagang tak hanya membuat arus perdagangan global tersendat, tapi efeknya bisa lebih dahsyat, yakni memicu krisis finansial.

Apalagi, lanjut dia, AS berencana menetapkan tarif baru sebesar 10 persen terhadap impor barang dari Tiongkok senilai 200 miliar dollar AS.

Pada awal Juli ini, AS juga mengenakan tarif impor senilai 34 miliar dollar AS. Menurut Mobius, efek perang dagang dan penguatan kurs dollar AS terhadap hampir seluruh mata uang dunia telah membebani pasar keuangan.

Hal itu ditambah lagi dengan likuiditas yang lebih ketat karena Bank Sentral AS, The Federal Reserve, dan Bank Sentral Eropa melakukan normalisasi kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga.

Kenaikan suku bunga membuat era pendanaan murah berakhir. “Tidak diragukan lagi, kita akan melihat krisis keuangan cepat atau lambat.

Harus diingat kita telah keluar dari era pendanaan murah,” kata Mobius yang kini mengelola Mobius Capital Partners LLP.

Dia mengungkapkan akan ada tekanan nyata bagi perusahaan yang selama ini bergantung pada pendanaan murah untuk menjaga kelangsungan bisnis.

Bukan itu saja, kenaikan suku bunga bisa menjadi kontra- produktif bagi negara yang memiliki utang tinggi. Faktorfaktor itu yang akan membebani pasar finansial terutama di emerging market.

Kalah Terbesar

Sedangkan bank investasi UBS mengungkapkan perang dagang menyebabkan pasar saham global jatuh lebih dari 20 persen, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global akan turun sebesar satu persen, dan inflasi akan naik sebesar 0,3 persen.

Nantinya, pihak yang menderita kekalahan terbesar adalah pelaku utama perang dagang, yakni AS dan Tiongkok.

PDB kedua negara itu akan turun drastis, masing-masing 2,5 persen dan 2,3 persen. AS dan Tiongkok juga akan terpukul dengan lonjakan inflasi.

“Bahwa dampak negatif pada pertumbuhan AS lebih besar daripada negara lain mungkin berlawanan dengan intuisi, tetapi itu adalah fungsi dari pertempuran di banyak front perdagangan yang berbeda dan hambatan besar yang datang dari harga minyak,” tulis UBS.

Di pasar keuangan, Mobius memperkirakan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Emerging Markets bakal turun 10 persen dari level saat ini pada akhir 2018.

Mata uang negara berkembang juga berada di bawah tekanan, tecermin dari indeks mata uang MSCI Emerging Markets yang telah turun sekitar enam persen dari level tertinggi tahun ini pada akhir Maret 2018.

“Itu memaksa bank-bank sentral negara emerging market, seperti Turki, Argentina, dan Indonesia menaikkan suku untuk menjaga mata uang mereka tak makin jatuh,” papar dia. AFP/SB/ahm/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment