Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments
Pengamat Politik CSIS , Arya Fernandes, tentang Persiapan Pilkada Serentak dan Pemilu Serentak

Peran Parpol dalam Pilkada dan Pemilu Masih Dominan

Peran Parpol dalam Pilkada dan Pemilu Masih Dominan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Pilkada 2018 serentak sebentar lagi akan digelar, setelah itu menanti hajat besar pemilu serentak 2019 yang akan menggabungkan pemilu legislatif dan pemilu presiden.

 

Dalam rentetan kegiatan kontestasi itu, peran penyelenggara yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawasan Pemilu atau Bawaslu sangat vital. Kedua institusi itu harus berkordinasi dan bersinergi agar seluruh kontestasi berjalan demokratis dan menghasilkan pemimpin yang kredibel.


Untuk mengupas hal itu, Koran Jakarta berkesempatan untuk mewawancarai pengamat politik dari lembaga Center for Strategic and International (CSIS), Arya Fernandes, di kantornya. Berikut petikan wawancaranya.


Bagaimana Anda melihat kesiapan KPU?


Saya melihat kesiapan yang dilakukan oleh KPU sudah sangat bagus. Apalagi mereka (KPU) mengeluarkan mekanisme pendaftaran melalui aplikasi Sistem Informasi Partai Politik (SIPOL) yang didasari untuk membantu proses verifikasi administrasi dan faktual partai politik (Parpol)

sehingga memudahkan para calon peserta pemilu 2019 untuk mengisi dokumen-dokumen terkait, tanpa harus repot bolak-balik ke KPU. Dan KPU juga sering kali melakukan rapat dengan Bawaslu untuk membahas proses pelaksanaan pemilu.


Dari sisi peserta pemilu yakni parpol, bagaimana Anda melihatnya?


Tentu peran parpol sangatlah besar untuk memenangkan para calonnya dalam pemilukada dan pemilu, sebab di dalam tubuh parpollah terbentuk kader-kader yang mempunyai kapabilitas untuk menjadi pemimpin negara.

Dan di dalam parpol itu terdapat strategi-strategi politik yang tentu tujuannya untuk mencapai kekuasaan di dalam tubuh pemerintahan. Jadi menurut saya, peran parpol dalam pemilukada dan pemilu sangatlah besar dan penting.


Untuk partai baru, bagaimana peluangnya nanti?


Jika melihat dalam sejarah electoral partai-partai baru, sangat sulit partai baru menembus suara sebesar 5 persen, artinya peluang partai-partai baru dalam pemilu 2019 nanti sangatlah berat. Apalagi syarat parliamentary threshold sangatlah tinggi sebesar 4 persen.

Tentu ini akan menjadi tantangan bagi mereka (parpol baru) karena harus bertarung dengan parpol besar yang sudah ada selama ini. Ditambah, parpol baru belum mempunyai basis dukungan yang besar, juga belum ditemukannya kader-kader parpol baru tersebut yang sudah berpengalaman lama di dunia politik.


Kalau dari sisi partisipasi pemilih, prediksi Anda?


Partisipasi politik pada pemilu 2019 nanti akan dilihat dari sosok figur yang akan dicalonkan nanti. Dan juga sosialisasi dan interaksi yang dilakukan KPU dan parpol kepada masyarakat sangat gencar akan semakin membuat partisipasi meningkat pada Pemilu nanti.


Nah, terkait sosok atau figur, perkiraan Anda yang tampil dalam Pemilu 2019 dan Pilkada serentak 2018?


Pada masa sekarang ini, sosok/figur calon pemimpin itu tidak mesti melulu berasal dari kader parpol, bisa saja kandidat yang berasal dari masyarakat independen pun banyak yang berkompeten.

Namun, peran partai parpol dalam kontestasi pemilu sangatlah besar. Apalagi parpol-parpol tersebut sudah mempunyai basis dukungan di daerah-daerah tertentu. Jadi, intinya figur dari parpol masih sangat besar mendominasi dalam kontestasi pemilu.


Kemunculan figur terkait juga dengan mahar politik. Nah, bagaimana menurut Anda?


Memang mahar politik ini sudah menjadi rahasia umum dalam setiap kontestasi pemilu. Tentu ini merusak citra pemilu yang demokratis dan akan menurunkan tingkat kepercayaan publik kepada partai.

Persoalan dana memang menjadi hal genting dalam perekrutan calon kandidat. Ini menjadi tugas rumah parpol untuk mencari siasat agar mencari dana, tetapi tidak melalui dari calon kandidat. rama agusta/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment