Koran Jakarta | July 19 2018
No Comments

Peran Nalar terhadap Perilaku Manusia

Peran Nalar terhadap Perilaku Manusia
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Batas Nalar

Penulis : Donald B Calne

Penerbit : Gramedia

Cetakan : April 2018

Tebal : xv + 324 halaman

ISBN : 978-602-424-330-2

 

Semenjak homo sapiens muncul dalam bentuk purba sekitar 400.000 tahun silam dan dalam bentuk modern sekitar 200.000 tahun lalu (hlm 61), nalar berpikirnya terus berkembang dari waktu ke waktu, seiring ukuran otaknya yang semakin membesar. Akan tetapi, besar-kecil ukuran otak manusia, tidak menjamin daya nalarnya lebih tajam dari lainnya.

Buku ini membahas tentang sejarah perkembangan nalar semenjak ditemukannya peradaban manusia pada ratusan ribu tahun lalu dari masyarakat pemburu pengumpul, era zaman batu, revolusi pertanian sampai zaman modern sekarang. Bagaimanapun, Donal B Calne yang merupakan ahli neorologi di The University of British Colombia, mengatakan nalar tetap bersifat netral secara moral. Sebab, nalar dapat digunakan sama hebatnya untuk mempertahankan hidup lewat apa saja, di antaranya lewat ilmu kesehatan, peningkatan mutu pangan, atau penyedian bahan bakar.

Nalar tidak pandang bulu terhadap apa pun. Ia digunakan siapa saja yang dapat menguasainya (hlm 72). Ia hanya memenuhi tugasnya untuk melakukan hipotesis-hipotesis dan menganalisis suatu keadaan.

Dalam masa perang, contohnya, nalar dikerahkan untuk merencanakan taktik-taktik dan merancang senjata lebih hebat (hlm 77). Sebelum ditemukan senjata-senjata canggih pembunuh massal, perang hanya terjadi di komunitas tertentu yang melibatkan paling banyak ratusan orang. Akan tetapi, dengan kemampuan nalar luar biasa, usaha-usaha untuk memenangkan sebuah peperangan terus dikembangkan, termasuk alat-alat perang.

Homo sapiens dalam perilaku sosial menyerupai berbagai kawanan hewan, seperti harimau, kera, semut, atau simpanse. Hewan-hewan itu hidup dalam sebuah komunitas saling melindungi, memburu, menetap, dan berkembang biak dalam sebuah komunitas bersolidaritas tinggi.

Namun, dari beberapa hewan yang berhasil ditelusuri Donal, simpanse adalah gerombolan hewan lebih menyerupai homo sapiens secara sosial. Para simpanse akan memberikan sinyal bahaya terhadap kawanannya bila salah satu atau sebagian simpanse mendeteksi adanya bahaya. Dengan begitu, para simpanse lain akan merespons dengan mengambil tindakan seharusnya.

Mereka mempunyai bahasa atau perilaku tersendiri untuk berkomunikasi dengan teman-temannya ,entah pertanda aman atau bahaya. Tidak heran, bila 2.000 tahun lalu, Seneca, orang Romawi jago pidato, menulis bahwa “manusia adalah binatang bernalar” (hal 52). Itu didukung dengan penemuan-penemuan para peneliti modern atas kesamaan-kesamaan perilaku antara binatang dan manusia.

Hampir dalam setiap pembahasan subjudul buku, di dibuka sejarah yang bersangkut tentang sejarah peradaban purba untuk ditarik inti pembahasan baik tentang etika, niaga, maupun perilaku sosial. Sebagai seorang ahli neorologi, tentunya batasan-batasan nalar dilihat dari sudut pandang seorang neorog.

Kekuatan nalar manusia terus berkembang seiring berjalannya waktu serta mengkhayalkan sebuah kemungkinan-kemungkinan masa depan. Sebagaimana ditulis Betrand Russell yang dikutip, “Orang yang bernalar menerima hipotesis paling mungkin untuk sementara, sambil terus mencari fakta baru yang tidak cocok dengan hipotesis tersebut” (hlm 299).

 

Diresensi Moh Tamimi, Mahasiswa Instika

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment