Koran Jakarta | April 19 2019
No Comments
Dugaan Penyuapan

Penyuap Bupati Pakpak Bharat Jadi Tersangka

Penyuap Bupati Pakpak Bharat Jadi Tersangka

Foto : ANTARA /Hafidz Mubarak A
Jadi Tersangka - Bupati Pakpak Bharat nonaktif, Remigo Yolando Berutu (tengah) seusai diperiksa di gedung KPK, Jakarta, Selasa (11/12). Penyuap Remigo, Rijal Efendi Padang ditetapkan sebagai tersangka.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Komisi Pembe­rantasan Korupsi (KPK) mene­tapkan penyuap Bupati Pakpak Bharat, Remigo Yolando Berutu (RYB), Rijal Efendi Padang (REP) sebagai tersangka. Rijal diduga memberikan suap ke­pada Remigo terkait pelaksa­naan proyek-proyek di Dinas PUPR Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pakpak Bharat Tahun Anggaran (TA) 2018.

“Dalam pengembangan pe­nyidikan, KPK menemukan bukti-bukti terkait keterlibatan dan peran pihak lainnya dalam perkara ini yang dapat dimintai pertanggungjawaban hukum. KPK menetapkan REP pihak swasta sebagai tersangka,” kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK, Yuyuk Andriati Iskak, di Jakarta, Jumat (14/12).

Rijal yang menjabat seba­gai Direktur PT Tombang Mitra Utama (TMU) ini diduga telah memberikan hadiah atau janji ke­pada Remigo bersama-sama de­ngan David Anderson Karosekali (DAK) dan Hendriko Sembiring (HSE) yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai tersangka. Rijal adalah kontraktor yang menger­jakan pekerjaan peningkatan atau pengaspalan Jalan Simpang Kerajaan Binanga Sitelu dengan nilai kontrak 4.576.105.000 rupiah dengan menggunakan bendera PT TMU.

“Sebagai pelaksana proyek tersebut, REP diminta oleh DAK untuk memberikan sejumlah uang sebagai komitmen fee se­besar 15 persen dari nilai proyek kepada RYB selaku Bupati Ka­bupaten Pakpak Bharat melalui DAK. Diduga praktik pemberian fee seperti ini sudah menjadi ke­biasaan,” terang Yuyuk.

Serahkan Uang

Yuyuk menjelaskan Rijal me­nyerahkan uang sebesar 200 juta rupiah kepada David yang ditransfer ke rekening Hendriko. Selanjutnya, David menyerah­kan uang 150 juta rupiah kepada Remigo yang kemudian diaman­kan oleh penyidik KPK pada saat operasi tangkap tangan (OTT) pada Minggu (18/11) lalu di ke­diaman Remigo di Pasarbaru Kota Medan.

“Atas perbuatannya, REP di­sangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pa­sal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,” katanya.

Setelah menjalani pemerik­saan sebagai tersangka pada Jumat (30/11), untuk kepen­tingan penyidikan maka di­lakukan penahanan terhadap tersangka Rijal untuk 20 hari pertama mulai 30 November sampai 19 Desember 2018 di Rumah Tahanan Kelas 1 Cipi­nang Jakarta Timur.

Sebelumnya, KPK melaku­kan operasi tangkap tangan (OTT) pada hari Sabtu (17/11) hingga hari Minggu (18/11) di tiga lokasi di Kota Medan, Jakar­ta dan Bekasi. Dari keseluruhan KPK berhasil mengamankan 6 orang yaitu Remigo; David; Hen­driko; Swasta, Reza Pahlevi (RP); Ajudan Bupati Kabupaten Pak­pak Bharat, Jufri Mark Bonardo Simajuntak (JBS), dan Pegawai Honorer pada Dinas PU Kabu­paten Pakpak Bharat, Syekhani.

Adapun kronologis tangkap tangan yang dilakukan KPK yaitu pada Sabtu (17/11) sekitar pukul 23.55 WIB tim penyidik menda­patkan informasi akan ada pe­nyerahan uang kepada Bupati Remigo. Tim penyidik meng­amankan David di kediaman Re­migo di Kota Medan sesaat sete­lah penyerahan uang. Dari lokasi tim berhasil mengamankan uang senilai 150 juta rupiah yang di­masukkan dalam tas kertas.

Selanjutnya pada Minggu (18/11) sekitar pukul 01.25 WIB, tim lain mengamankan Hen­driko di kediamannya di Kota Medan. Kemudian sekitar pukul 04.00 WIB tim bergerak menuju rumah Syekhani (S) di Kota Me­dan dan mengamankannya di kediamannya. Secara paralel sekitar pukul 02.50 WIB KPK di Jakarta mengamankan Jufri di mess Pakpak Bharat di daerah Jakarta Selatan. Terakhir sekitar pukul 06.00 WIB tim mengaman­kan Reza di rumahnya di daerah Pondok Gede, Bekasi. ola/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment