Koran Jakarta | September 19 2019
No Comments
Hipertensi

Penyakit yang Memicu Terjadinya Komplikasi

Penyakit yang Memicu Terjadinya Komplikasi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Hipertensi merupakan penyakit yang dapat menyebabkan komplikasi seperti stroke, penyakit jantung koroner dan gagal ginjal.

Hipertensi masih belum dianggap sebagai kondisi ke­sehatan yang membahaya­kan oleh sebagian orang, padahal melalui kondisi itulah pintu masuk berbagai penyakit ‘mematikan’ menghampiri Anda. Bahkan ber­dasarkan catatan komplikasi penyakit dari hipertensi sepeti stroke, jantung koroner dan gagal ginjal berdasarkan catatan BPJS Kesehatan, merupakan penyakit teratas yang biaya terbesar di sepanjang semester 1/2017, yaitu menelan dana sekitar 12,7 triliun ru­piah.

Dr. Tunggul D. Situmorang SpPD-KGH, Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia atau Indonesian Society of Hypertension (InaSH) dalam gelaran ‘Tingkatkan Kesadaran Akan Hipertensi Melalui Pengukuran Te­kanan Darah Secara Rutin Di Rumah’ yang diinisiasi oleh Omron Healthcare Indonesia dan InaSH menjelaskan bahwa hipertensi merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh yang mempunyai pembu­luh darah, antara lain jantung, ginjal dan otak.

“Sifat penyakit ini ialah silent killer, sehingga diperlukan upaya bersama secara berkelanjutan dalam rangka semakin meningkatkan kesadaran ma­syarakat terhadap bahaya hipertensi,” jelas dokter Tunggul.

Berdasarkan data InaSH bersama PT Omron Healthcare Indonesia dalam program mengukur tekanan darah pada kampanye May Measurement Month 2017, mencatat 1 dari 3 orang dewasa dengan rentang usia 41 tahun meng­alami peningkatan tekanan darah, dan 1 dari 6 orang sudah mengkonsumsi obat penurun tekanan darah.

Sedangkan dari sisi ‘kesadaran’, ter­nyata 1 dari 10 orang baru pertama kali mengetahui bahwa tekanan darahnya itu di atas normal. Hal penting lainnya yang menarik untuk diperhatian adalah sebanyak 7,7 persen dari penderita hipertensi sudah pernah mengalami stroke, 15,7 persen juga menderita penyakit jantung koroner, dengan lebih dari 19 persen masih merokok aktif dan 16,2 persen dari penderita hipertensi juga menderita diabetes.

Data ini diambil selama Mei 2017 dan melibatkan tak kurang dari 70.000 masyarakat Indonesia. “Survei ini juga menunjukkan bahwa hipertensi ter­bukti meningkatkan risiko stroke 11 kali lebih tinggi dan risiko serangan jantung koroner 8 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang tekanan darahnya normal,” terang dokter Bambang Widyantoro, Sp.JP, PhD, Ketua Panitia May Measure­ment Month 2017 dan 2018.

Sedangkan un­tuk May Measurement Month 2018 juga telah di­lakukan, dan melibatkan lebih banyak lagi peserta yang berpartisi­pasi yaitu lebih dari 120.000 orang di 27 provinsi. “Saat ini InaSH masih meng­analisis hasilnya. Program pengukur­an tekanan darah akan terus berlanjut untuk menjangkau lebih banyak lagi masyarakat un­tuk berpartisipasi,” lanjutnya.

Seyogianya Pantau Sendiri

Untuk mengendalikan risiko penyakit dari komplikasi hipertensi, diharapkan orang dewasa, terutama penderita hipertensi mulai aktif me­lakukan pengukuran tekanan darah secara rutin sendiri di rumah dan selalu berkonsultasi dengan dokter agar dapat menurunkan risiko komplikasi akibat hipertensi.

“Pengukuran tekanan darah secara berkala di rumah sangatlah penting. Dianjurkan pengukuran pagi hari saat bangun tidur dan malam hari sebe­lum tidur dengan 2-3 kali pengukuran selang 1 menit pada masing-masing waktu,” terang dokter Bambang.

Setelah itu meskipun obat penurun tekanan darah menjadi pilihan sebagi­an besar orang. Perlu Anda ketahui obat hipertensi bukan solusi epic, yang bisa terus Anda andalkan untuk mengontrol tekanan darah. Bambang menghimbau agar pemilih hipertensi, ataupun orang dewasa sudah seharusnya memodi­fikasi pola hidupnya. Kemudian, stop merokok. “Jangan lupa pola makan sehat, atasi stres atau memanajemen stres, dan olahraga teratur atau rutin melakukan aktivitas fisik,” katanya.

Kemudian yang juga tidak kalah pen­ting, bagi mereka yang memang sudah hipertensi perlu diperhatikan konsumsi garam. “Kalau sudah dirasa asin jangan dimakan, kemudian daging kambing menyebabkan hipertensi itu tidak benar. Yang pasti itu adalah kon­sumsi garam jadi pastikan bijak lah konsumsi garam, jangan lagi bilang kalau tidak asin Anda tidak bisa makan,” sambung Tunggul yang juga dokter spesialis penyakit dalam di RS PGI Cikini. ima/R-1

Perhatikan Caranya

Dalam pengukuran hipertensi secara mandiri, secara teknik sebelumnya harus di kuasai. “Yang dianjurkan adalah pengukuran pagi hari saat bangun tidur dan malam hari sebelum tidur, dengan 2 hingga 3 kali pengukuran selang 1 menit pada masing-masing waktu. Sebaiknya dilakukan dalam posisi duduk bersandar, posisi lengan atas sejajar dada, dengan pemasangan kain lengan (cuff) yang tepat di lengan atas,” kata dokter Bambang.

Pentingnya dilakukan pengukur­an berulang dengan jeda 1 menit di antara pengukuran adalah karena sangat mungkin pada pengukur­an pertama, pasien masih dalam kondisi tegang, sehingga hasil pe­ngukuran pertama tidak akurat dan tidak mencerminkan data sebenar­nya. Sementara itu, pada pengukur­an kedua dan ketiga rata-rata bisa mencerminkan tekanan darah akurat.

Hal ini dipengaruhi berbagai fak­tor seperti rasa letih sehabis berjalan, rasa khawatir atau cemas, dan makanan yang baru saja dikonsumsi. Sebelum melakukan pemeriksaan tekanan darah seseorang harus beristirahat terlebih dahulu paling tidak 5-15 menit. Selain itu, dirinya juga tidak boleh me­ngonsumsi kopi, rokok, dan alkohol.

Selain persiapan, posisi saat pemeriksaan juga menentukan besar tekanan darah. Peme­riksaan tekanan darah sebaiknya dilakukan dalam posisi duduk yang nyaman, lengan diletakkan di atas meja dengan ketinggian sama dengan posisi jantung, posisi kaki tidak menyilang dan telapak kaki rata menyentuh lantai, serta tidak bergerak dan berbicara. “Bahkan melihat monitor pun untuk mengetahui nilai tekanan darahnya tidak diperbolehkan, karena ini bisa berpengaruh ke hasilnya. Ini bisa didorong karena rasa takut atau stres itu dalam diri seseorang yang memiliki hiper­tensi itu,” pungkas­nya.  ima/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment