Koran Jakarta | April 20 2019
No Comments

Penipu Kecil, Penipu Raksasa

Penipu Kecil, Penipu Raksasa

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

Penipu melaku­kan kegiatan tidak terpuji karena memiliki informasi lebih, kesem­patan, juga kerakusan yang tak dimiliki yang menjadi korban. Penipu sadar yang dilakukan tidak baik, mencedarai, merusak, merugikan korban, tapi tetap dilakukan. Diulang pada korban yang lain. Sampai mungkin sekali, ketika per­buatannya, terbongkar. Bisa juga tetap melakukan dengan pendekatan berbeda.

Yang pernah ramai di masyarakat apa yang kita kenal dengan istilah “Mama Minta Pulsa”, yaitu munculnya sandek (pesan pendek atau sms) yang isinya seorang “Ibu kita” dalam sekarat dan minta dikirimi pulsa. “Ibu kita” tadi dalam keadaan gawat, sedang di kantor polisi karena ditangkap, atau di rumah sakit tak bisa keluar, atau sejenis dengan itu. Korbannya bisa siapa saja yang terg­erak rasa iba, rasa ingin membantu.

Jenis “pulsa” ini masih berseliweran melalui telepon, atau WA dengan berbagai variannya. Intinya sama, penipu mengakali korban. Caranya bisa macam-macam: pura-pura memberi hadiah uang, tak tahunya saldo korban terkuras. Bisa juga mengaku saudara—atau teman, sedang ditangkap polisi karena tak membawa surat kendaraan. Atau mengaku teman, menemukan dompet berisi jutaan rupiah. Atau bisa apa saja, kenal atau tidak. Mereka ini dengan meyakinkan. minta dibantu, atau kembali ke kasus klasik, keluarga tersandera di rumah sakit, kecela­kaan. Atau menawari barang mewah murah, termasuk mobil, motor yang bisa dibayar 10 persen saja, dan sisanya bisa dicicil suka-suka.

Melalui YouTube, kita bisa melihat ratusan—atau ribuan, contoh penipuan, baik dari tayangan tahun-tahun lalu, atau yang baru terjadi. Umumnya justru penipu yang tertipu. Karena korban pura-pura mengikuti instruksi, dan di menit terakhir muncul “punch line”, pukulan yang mematikan. Saat diminta segera transfer—atau mengambil duit, korban menjawab seenaknya: maaf tak bisa lagi “begituan”, atau ada yang minta dikawin saja, atau sejak awal memper­mainkan penipu dengan mengatakan sedang berada di luar negeri, mengajak bicara bahasa asing, atau mengaku poli­si dan sudah melacak nomor penipu.

Saya masih selalu nonton di ponsel, setiap kali jalan macet—atau tak macet. Merasa lucu, menertawai penipu yang dipermainkan habis, sampai termehek-mehek, termasuk minta ampun dan rela menyerahkan pacar. Asyik, lucu, haru, dan kalau tak salah ada ada satu orang yang khusus menjebak dan me­layani segala jenis penipuan.

Puas, lega, senang melihat para penipu menggelepar, dan seolah KO mutlak. Namun sesungguhnya penipu-penipu kecil ini pastilah pernah mem­peroleh kesuksesan. Berhasil menipu, mengingat korbannya begitu luas dan mudah diiming-imingi, digoda, dengan hadiah duit langsung. Tak semua mengetahui liku-liku hadiah, liku-liku perbankan, liku-liku transfer, liku-liku hal-hal yang tak diketahui sebelumnya.

Sesungguhnya mereka inilah korban penipu kecil dan atau penipu raksasa. Karena kurang informasi, tak memiliki akses dan pengetahuan, serbagodaan materi yang seketika, maka mereka ini yang menjadi korban beramai-ramai. Termasuk mereka yang menabung uangnya untuk bisa menunaikan ibadah haji, ternyata ditelantarkan, tanpa ada kepastian. Atau mereka yang diberi ke­mudahan pinjam, jumlah dana tertentu, dan ketika mencicil pengembalian, serbaseram karena tagihan, dan jumlah yang tak disadari—karena memang tak mengerti liku-liku dan perjanjian yang tak mungkin dibaca persyaratannya.

Sesungguhnya masih lebih banyak lagi yang terjebak, termakan, kegiatan yang tak diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan, OJK, yang sekarang hidup di masyarakat. Dengan segtala perangkatnya.

Di sini, korban dibikin sengsara berkepanjangan. Bukan seperti pe­nipu yang remuk redam ditelanjangi. Di sini korban-korban ketidaktahuan ini masih terus berjatuhan, dan belum ada upaya penjelasan yang menyeluruh untuk menyelamatkan korban.

Yang mungkin sekali dilupakan. Tulisan ini inghin mengingatkan masih banyak korban-korban yang sebenarnya bisa diselamatkan.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment