Koran Jakarta | October 20 2018
No Comments

Pengalaman Tak Terlupakan Menjelajah Lima Benua

Pengalaman Tak Terlupakan Menjelajah Lima Benua
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Born to Travel

Penulis : Hendra Fu dkk

Penerbit : Gramedia

Cetakan : I, Mei 2017

Tebal : 272 halaman

ISBN : 978-602-03-3879-8

 

“Traveling adalah hak segala bangsa. Maka, perjalanan menyusuri isi dunia harus dilanjutkan” (hal xiii). Buku Born to Travel adalah kumpulan catatan 12 pelancong yang telah menjejakkan kaki ke berbagai belahan dunia. Mereka juga memanfaatkan kesempatan untuk observasi. Tiap-tiap penjelajah menuangkan kisah perjalanannya secara detail dalam buku ini.

Sebagai pembuka, Muhammad Arif Rahman berbagi pengalaman saat memasuki negara adikuasa, Amerika Serikat. Ia mendapat undangan resmi dari salah satu perusahaan alat berat karena memenangkan kompetisi blog. Kendati dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi kebebasan, faktanya Amerika Serikat malah tidak bebas membiarkan warga asing masuk ke negaranya.

Selepas tragedi WTC 9/11 tujuh belas tahun silam, AS memiliki aturan lebih ketat. Kejadian itu dihubungkan dengan teroris yang mengatasnamakan Islam. Maka pendatang dengan nama-nama Islam seperti Muhammad acapkali menjadi target pemeriksaan lanjutan sebelum mendapat izin masuk (hal 13). Setelah pengajuan visa disetujui, selanjutnya Arif harus berhadapan dengan petugas-petugas yang bersikap waspada, seolah setiap muslim patut dicurigai sebagai teroris.

Sensasi tegang terjebak badai di perairan Raja Ampat digambarkan secara baik oleh Hendra Fu. Dalam kegelapan ditambah guyuran hujan yang makin menderas, kapal yang ditumpangi terombang-ambing selama hampir satu jam. Di tengah ketegangan, terdengar alunan senandung, mirip mantra, membuat suasana horor malam itu agak mencekam. Rupanya rapalan itu berasal dari kapten kapal. “Kami tidak bermaksud buruk. Izinkan kami lewat, Kakak ...” ujar sang Kapten, bermonolog (hal 23-24).

Tidak berapa lama setelahnya ketegangan mulai mereda sebab perlahan badai berlalu. Tidak ada yang tahu apakah ini berkat mantra kapten ataukah karena doa yang dipanjatkan para penumpang. Semua kembali pada keyakinan masing-masing. Yang pasti bagi masyarakat setempat kepercayaan semacam itu masih dipertahankan.

Simak pengalaman tidak terlupakan seorang Immanuel Sembiring ketika menyambangi pulau terpencil yang menyimpan misteri. Sebuah pulau dengan peninggalan arkeologi berupa patung-patung raksasa di Pulau Paskah/Rapa Nui, Chile. Masyarakat sekitar menyebut patung itu moai.

Terletak di wilayah perbukitan Rano Raraku, patung-patung raksasa terpajang di tepi pantai—sebagian menghadap ke laut dan lebih banyak ke inland. Puluhan lainnya bertebaran di sekeliling pulau. Semua moai dibuat dari batu gunung. Mereka dipahat membentuk kepala dan separuh tubuh manusia untuk dipajang di pantai (hal 230).

Ada pula kisah Linda Bungasalu berkeliling Praha. Dia mengunjungi berbagai destinasi menarik. Salah satunya The Dancing House. Bangunan unik ini terlihat seperti dua buah yang saling menempel dan meliuk-liuk seperti dua orang yang sedang berdansa.

Buku ini memuat sederet pengalaman berkesan dan tidak terlupakan yang siap mengajak membaca bertualang bersama dan membangkitkan semangat menjelajah. Buku juga dilengkapi dengan fakta sejarah di tiap tempat dan tips-tips panduan bila hendak mengunjungi negara-negara tersebut.

Para penyusun buku ini pun membuktikan bahwa traveling bukanlah sekadar jalan-jalan atau berfoto untuk dipamerkan di media sosial. Mereka bisa dijadikan sebagai sarana menambah wawasan, mengenal keragaman budaya, juga belajar menyikapi dan menghormati kepercayaan masyarakat setempat.

Diresensi Leli Erwinda, Lulusan SMA Perintis 1 Bandar Lampung

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment