Koran Jakarta | October 23 2018
No Comments

Pendidikan yang Menghargai Kemanusiaan Universal

Pendidikan yang Menghargai Kemanusiaan Universal
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Pendidikan Karakter Berbasis Kultur Sekolah

Penulis : Doni Koesoema A

Penerbit : Kanisius

Cetakan : 2018

Tebal : 196 halaman

ISBN : 978-979-21-5471-9

 

 

Membangun karakter dan watak bangsa melalui pendidikan perlu dilakukan secara kontinu. Sebab, pendidikan merupakan tumpuan awal guna melahirkan kehidupan bermartabat di masa mendatang. Tetapi, ada kultur destruksif di lingkup pendidikan yang perlu segera dibenahi, seperti ketidakjujuran, ketidakpercayaan, dan kekerasan.

Ketidakjujuran menjadi akar persoalan kehidupan berbangsa. Dampaknya, ketidakadilan dan pemangkasan hak-hak warga. Ketidakpercayaan berimbas pada individu di dalam proses pendidikan sehingga melunturkan rasa bangga dan percaya diri. Kemudian, kekerasan mengindikasikan betapa lingkup pendidikan belum secara sadar menghayati arti penting menghargai martabat kemanusiaan (hlm 64).

Maka, perlu mendesain kembali ekosistem moral pendidikan. Mendesain kembali membutuhkan kemampuan evaluasi, refleksi, dan sikap kritis. Sementara itu, mendesain hal baru memerlukan imajinasi, kreativitas, dan kesediaan untuk berpikir berbeda dari biasa (hlm 80).

Untuk mendesain mesti memiliki level guna memetakan posisi program pendidikan karakter tersebut, seperti norma, regulasi, dan peraturan. Jika ketiganya terintegrasi secara utuh, seluruh kegiatan pendidikan akan sangat efektif bagi pembentukan katekter individu.

Contoh, sekolah memiliki persoalan terhadap peserta didik yang tak jujur karena mencontek saat ulangan harian atau ujian. Solusinya, bisa dibuatkan aturan yang memberi sanksi sosial dengan cara membubuhi pin bertuliskan “Saya hari ini mencontek” atau “Saya hari ini tidak jujur” di dada pelaku.

Bahkan, aturan bisa lebih tegas. Pelaku dikeluarkan dari sekolah. Namun, tentu aturan itu harus dikomukasikan lebih dulu dengan orang tua, guru, dan pemangku kepentingan lainnya. Menanamkan nilai-nilai kejujuran semata-mata agar siswa taat pada norma, sehingga sanksi sosiallah yang ditimpakan (hlm 94–95).

Implikasinya, jika ingin melahirkan pemimpin jujur dan bertanggung jawab, nilai-nilai itu harus ditanamkan dalam lingkup pendidikan sejak dini melalui pelatihan dan sanksi tegas. Sebab, ketidakjujuran sejatinya merusak semangat belajar yang autentik bagi peserta didik.

Yang tak kalah penting, pendidikan karakter dapat pula memanfaatkan momen-momen temporal lingkungan sekitar. Caranya, bersimpati kepada mereka yang membutuhkan bantuan dan pertolongan. Bencana, kerusakan, terkikisnya habitat binatang, dan ancaman kepunahan spesies tertentu, bisa menjadi bahan diskusi. Pendidik dan siswa selanjutnya mengadakan aksi nyata.

Buku ini menyuguhkan beberapa contoh sekolah yang mempraktikkannya, di antaranya Sekolah Al-Azhar Surabaya mengampanyekan edukasi tentang kutu Tomcat. Siswa SD Wonosari, Gunung Kidul, menyisihkan uang jajan untuk korban gempa Aceh. SMU Kolese de Britto, Yogyakarta, menggelar pertunjukan seni. Hasil penjualan tiket disalurkan untuk korban bencana Gunung Merapi. Lalu, SMAN Rembang turun ke jalan menggalang dana untuk korban banjir bandang (hlm 176–179).

Secara garis besar, visi utama pendidikan karakter buku ini berupaya menghadirkan kultur moral di lingkup pendidikan sebagai tahap membentuk manusia utuh. Ini tentu tanpa mengeliminasi keunikan dan kekhasan tiap individu. Dari situ diharapkan tercipta sebuah proses pendidikan yang menghargai martabat kemanusiaan secara universal. 

 

Diresensi Ratna Saidah, Dosen IAIN Kediri, Mahasiswa Program Doktoral

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment