Koran Jakarta | December 13 2017
No Comments
Suara Daerah

Pemkab Trenggalek Terus Berdayakan UMKM

Pemkab Trenggalek Terus Berdayakan UMKM

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu unit usaha yang memiliki peran penting sebagai pendongkrak peningkatan perekonomian negara. Saat krisis ekonomi menyebabkan usaha-usaha besar terpuruk dan tragedi PHK massal terjadi, UMKM terbukti mampu bertahan, serta menjadi tiang penyangga ekonomi negara.

Trenggalek, satu kabupa­ten di Jawa Timur (Jatim) yang sebelumnya dikenal miskin, kering, dan minim jalur akses, tengah berjuang untuk bangkit meraih kemakmuran. Komo­ditas olahan unggulan, seperti batik, bambu, keripik, cokelat, dan kopi, hanya menyumbang 14 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah yang terletak di pesisir selatan itu.

Untuk mengetahui apa saja yang telah dan akan dilaku­kan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek mening­katkan ekonomi masyarakat, wartawan Koran Jakarta, Selocahyo, berkesempatan mewawancarai Bupati Treng­galek, Emil Elestianto Dardak, di Trenggalek, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Bisa dijelaskan potensi Trenggalek?

Trenggalek hanya punya 130 ribu hektare lahan yang jika dibagi dengan jumlah pendu­duknya maka hanya ada 0,16 hektare per jiwa. Tidak semua lahan subur. Kekeringan ka­rena medan Trenggalek terdiri dua pertiga pegunungan karst, airnya masuk sungai bawah tanah. Dengan topografi se­perti itu kalau mengandalkan pertanian primer, akan sulit bersaing dengan daerah lain.

Bagaimana dengan sektor UMKM?

Realitanya secara global se­mua produk retail dikuasai be­berapa brand besar. Namun, di Jatim menjadi anomali karena didominasi oleh UMKM. Maka kami berpikir dengan yang ada ini harus dibawa ke sektor hilir. Pisang harus menjadi keripik. Ikan, kakao, dan kopi semua­nya harus diolah. Untuk bisa bersaing di rak toko, investasi brand-nya tidak murah.

Langkah yang dilaku­kan?

Bagaimana usaha kecil dengan kapital terbatas bisa branding dan survive. Maka PR kami adalah pemasaran, kedua modal, lalu harus dipikirkan daya saingnya. Apakah bisa bersaing se­cara harga, sementara akses pasar banyak yang diblokir oleh pemain besar.

Kami membuat communal brand­ing (merek bersama) karena pelaku UMKM tidak akan mampu membuat citra brand sendiri karena terlalu mahal. Contoh batik khas Trenggalek, bercorak turonggo yakso de­ngan teknik pewarnaannya yang khas. Kami datang ke Sarinah Department Store, di Jakarta, dan membuat corner untuk batik Trenggalek, “Te­rang Galih”, dari nama Treng­galek yang artinya terang di hati.

Brand Terang Galih ini me­nampung semua produk para perajin binaan Dekranasda Kabupaten Trenggalek. Kami mewadahi produk mereka da­lam brand utama, yang nanti ada sub-brand sesuai ciri khas masing-masing perajin.

Hasilnya luar biasa, kami mendapat prestasi, Batik Trenggalek membuat Jatim juara di tingkat dekranas nasioal. Bah­kan, Duta Besar Kolombia me­milih Terang Galih untuk diperagakan Miss Colom­bia dalam forum negara-negara sahabatnya.

Bagaimana soal kualitas?

Semua upaya kami lakukan untuk mendukung Terang Ga­lih. Tidak semua perajin boleh menggunakan brand ini di Sar­inah karena khawatir standar kualitasnya tidak sama. Dari Pemkab ada kurator yang akan menilai. Selama produknya memenuhi syarat maka berhak menggunakan brand ini. Inilah bentuk kehadiran negara un­tuk membantu UMKM.

Bagaimana strategi untuk komoditas lain?

Memang kami bagi untuk kerajinan dan agro. Kerajinan sementara ini kami fokus pada batik dan kerajinan bambu. Sementara agro pada susu, kopi, dan cokelat. Ada kopi dan kakao yang kami coba menggunakan market­ing gimmick dengan brand bersama. Kebun kakao rakyat Trenggalek cukup luas, 4.300 hektare, tetapi orang tahunya di Trenggalek hanya ga­plek. Sayangnya gaplek tidak menjual karena diasumsikan makanan orang miskin.

Sudah ada yang diekspor produk cokelat?

Sekarang bagaimana kami mendorong Trenggalek punya nilai jual yang tinggi. Kami melihat kakao dan kopi cukup punya potensi. Sekarang ada Rumah Cokelat (kakao), kami produksi cokelat yang kandungannya lebih mur­ni, fermentasi kakaonya ber­beda. Memang tidak senikmat cokelat biasanya, tapi punya peluang pasar bagi penggemar cokelat. Sekarang sudah me­nembus ekspor ke Jepang.

Begitu juga dengan kopi. Kebun kopi di Trenggalek ada sejak zaman Belanda dengan mesin penggilingan kopi se­besar rumah, bertenaga air. Kami buatkan brand Kopi Van Dilem. Untuk memenuhi membeludaknya pesanan, kebun kopi diperluas dengan target 1000 hektare pada ta­hun depan agar Gunung Wilis bisa menjadi sabuk kopi, dan memberi multiple effects bagi daerah sekitarnya.

Kami berniat memperluas strategi communal brand. Tahun ini, kami test case dulu, apakah konsep ini bisa berjalan lancar. Tahun depan akan diperluas cakupannya tiga kali lipat, dengan bera­gam item yang akan didorong. Contohnya kerja sama me­ngembangkan produk camilan tempe keripik khas Trenggalek. Ternyata sekarang mulai tidak konsisten kualitasnya, mengu­rangi bumbunya, kedelainya atau penggunaan minyak gorengnya yang lebih berulang-ulang. Ini berbahaya bisa me­rusak citra produk Trenggalek.

Program communal brand ini sesungguhnya menginduk pada program besar Trenggalek Gemilang, yakni gerakan mutu industri cemerlang. n N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment