Koran Jakarta | January 18 2018
No Comments
Suara Daerah

Pemkab Terus Bantu Tingkatkan UMKM di Kudus

Pemkab Terus Bantu Tingkatkan UMKM di Kudus

Foto : koran jakarta / Henri Pelupessy
A   A   A   Pengaturan Font

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus terus meningkatkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Pengembangan UMKM dilakukan agar produknya bisa naik kelas me­nembus pasar internasional. Sejumlah program diluncur­kan untuk mendukung usaha tersebut, di antaranya pening­katan Sumber Daya Manusia (SDM), fasilitasi permodalan, dan pameran produk.

Tiga program tersebut telah dilakukan menjelang akhir tahun ini. Seperti pelaku usaha magang di beberapa wilayah yang memiliki keunggulan produk selama 10 hari. Mereka diikutkan workshop dan difasili­tasi menggarap pasar ekspor ke sejumlah negara,salah satunya dengan memfasilitasi peningka­tan kualitas produk mereka.

Yang tidak kalah penting­nya adalah membuka jaringan ke sejumlah kota/kabupaten dengan tujuan memasarkan produk asli dari Kabupaten Kudus. Beberapa produk khas daerah ini, yakni jenang kudus maupun handicraft menjadi peluang emas menyasar pasar ekspor.

Untuk mengetahui lebih lanjut apa yang dilakukan Pemkab Kudus, untuk mening­katkan kualitas produk UMKM di wilayah ini, wartawan Koran Jakarta, Henri Pelupessy berkesempatan mewawanca­rai Bupati Kudus, Musthofa, di Kudus, beberapa waktu lalu. Berikut petika selengkapnya.

Apa yang membuat Anda sangat konsen dengan pengembangan UMKM di Kabupaten Kudus?

Ya, kami memang terus berupaya meningkatkan UMKM untuk memacu terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Sejumlah program diluncurkan untuk mensuport jenis usaha tersebut, antara lain peningkatan SDM, fasili­tasi permodalan, dan pameran produk. Tiga program tersebut telah dilakukan semua menje­lang akhir tahun ini.

Dilakukan upaya magang?

Sebanyak 40 pelaku UMKM dari Kudus magang di beberapa wilayah yang memiliki keunggulan produk selama 10 hari. Ada yang magang di produsen tas di Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim). Un­tuk pelaku usaha batik magang di Pekalongan, pelaku usaha bordir magang di Tasikmalaya, dan pelaku usaha logam di Pasuruan, Jatim.

Bagaimana dengan usaha permodalan bagi UMKM?

Fasilitasi permoda­lan yang dilakukan Pemkab Kudus, berupa pemberian kredit usaha pro­duktif (KUP). Saat ini, realisasi program ini mencapai 1.400 pelaku UMKM. Kami mem­fasilitasi pelaku UMKM meng­garap pasar ekspor di tengah serbuan barang impor akibat perdagangan bebas ASEAN. Perdagangan bebas se-ASEAN yang berlaku awal Januari 2016 lalu, tidak menjadi halangan bagi pelaku pedagang ke­cil untuk mengembangkan produknya.

Kami mendorong produk UKM/UMKM dari Kudus bisa mengekspor ke sejumlah negara. Masyarakat Ekonomi ASEAN bukan hal yang perlu ditakuti. Hanya, pelaku UKM butuh penyesuaian secara cepat, baik dari kemasan maupun kualitas produk. Kami mem­bantu mem­buka jaringan ke se­jumlah kota/kabupaten dengan tujuan memasarkan produk asli dari Kudus. Beberapa produk khas kami yakni jenang kudus maupun handicraft menjadi peluang emas menyasar pasar ekspor.

Bagaimana membantu UMKM bisa menembus pasar internasional?

Pengembangan UMKM ber­basis teknologi informasi perlu dilakukan agar produk yang dihasilkan bisa mendunia. Kita bisa lihat kain batik yang dipakai para peserta pemi­lihan miss universe di Filipina beberapa waktu lalu berasal dari Kudus. Melalui teknologi informasi, kami serius meng­garap potensi daerah di bidang pariwisata, perdagangan, dan industri termasuk yang berba­sis kerakyatan.

Kami melakukan kerja sama dengan para desainer tingkat nasional untuk mengangkat dan memperkenalkan produk UMKM, terutama fashion. Hal ini menuntut konsekue­nsi dari para pelaku UMKM untuk menghasilkan produk bermutu tinggi agar mampu bersaing. Satu hal prinsip yang saya tekankan kepada para pelaku UMKM, pasti untung ikut program saya. Syaratnya hanya satu, buat produk yang bermutu tinggi.

Upaya pembinaan UMKM lainnya?

Tidak hanya mengem­bangkan UMKM di Kudus saja, kami juga mendorong pemerintah kabupaten dan kota di Jateng bersama de­ngan Bank Jateng di setiap cabang untuk mengembang­kan KUP. Sebagai pembina Forum UMKM Jateng, saya mendorong pemerintah kabupaten dan kota di Jateng untuk mengembangkan KUP yang dijalankan bersama Bank Jateng. Ini sangat membantu UMKM dari segi permodalan.

Anda berhasil meraih gelar doktor di Undip Sema­rang, dengan objek peneli­tian usaha bordir. Apa yang membuat Anda terus belajar?

Usaha bordir di Kudus sangat potensial, namun kalah dengan buatan Tasikmalaya. Sebenar­nya ini penelitian yang menarik bagi saya, terutama untuk me­nemukan sebuah konsep baru bagaimana para pelaku bisnis UKM ini bisa meningkatkan produksinya dengan baik.

Keberanian untuk berino­vasi sudah kami lakukan, dengan menggandeng para desainer dan hasilnya saat ini bisa lebih baik. Sebab itu, bukan hanya bordir yang mengaplikasikan kebaruan ini. Semua bidang usaha lain tentunya bisa menerapkan ini untuk peningkatan pendapa­tan bagi kesejahteraan. n N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment