Koran Jakarta | August 20 2018
No Comments
suara daerah

Pemkab Sangihe Gandeng UGM Berdayakan Warga

Pemkab Sangihe Gandeng UGM Berdayakan Warga

Foto : koran jakarta / Eko Sugiarto Putro
A   A   A   Pengaturan Font

Kabupaten Kepulauan Sangihe terletak di po­sisi paling utara Indo­nesia dan berbatasan dengan Kepulauan Mindanao yang masuk wilayah negara Filipina. Terdiri dari sekitar seratus pulau besar dan kecil, Sangihe menawarkan pesona wisata Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang tak kalah dengan Taman Laut Bunakan di Manado dan Danau Tondano di Minahasa.

Gunung Api Bawah Laut Sangihe, misalnya, hanya disamai oleh dua gunung laut lainnya di dunia. Sangihe juga memiliki taman laut Pulau Kahakitang yang memiliki terumbu karang dan ikan yang cantik. Kabupaten Kepulauan Sangihe berasal dari pemekaran Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud pada tahun 2000.

Kabupaten ini memi­liki luas wilayah 1.012,94 km² dan berpenduduk sebanyak 129.609 jiwa (2008). Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani dan nelayan. Kemiskinan masih menjadi persoalan utama di kabupaten kepulauan ini.

Untuk mengetahui apa saja yang akan dilakukan untuk mengatasi kemiskinan di wila­yah tersebut, wartawan Koran Jakarta, Eko Sugiarto Putro, berkesempatan mewawanca­rai Bupati Kepulauan Sangihe, Jabez Ezar Gaghana, seusai menandatangani kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Dengan UGM, kerja sama apa yang akan difokuskan?

Kerja sama dengan UGM sudah berlangsung beberapa lama, yakni salah satunya pen­giriman mahasiswa KKN dan beberapa penelitian. Dengan pengetahuan dari kampus, mahasiswa KKN membantu pemerintahan kami dalam meningkatkan kapasitas warga.

Kami berharap, masyarakat makin diberdayakan. Sep­erti di bidang pertanian dan perikanan, UGM kan memiliki banyak teknologi yang sedang dikembangkan. Itu bagaimana bisa ditransfer ke penduduk yang sangat jauh dari perko­taan.

Apa harapan selanjutnya dari kerja sama dengan UGM ini?

Saya harap Sangihe bisa menjalin kerja sama yang lebih erat lagi. Karena pulau terluar Indonesia ini memerlukan pengetahuan dan teknologi dari Jawa. Apalagi ini kan mahasiswa yang memiliki pengetahuan dan energi le­bih. Ada beberapa temuan di bidang pengembangan perikanan yang semoga bisa diuji coba di Sangi­he. Seperti alat untuk tambak, itu bagus sekali.

Perikanan di Sangihe bagaimana kondisi tera­khir?

Kami sedang genjot sektor perikanan. Kami sudah me­nandatangani memorandum of understanding investasi sektor perikanan bersama Rey Gaseka, President of Gladery Fishing in Coorper­atied General Santos Filipina.

Bagaimana wujud kerja sama tersebut?

Investor Filipina akan mengelola pelabuhan perika­nan Dagho, termasuk mem­bangun pabrik pengolahan ikan. Perikanan kami maju, tangkapan bagus, nanti pabrik pengolahan ini akan menyerap hasil tangkapan nelayan kami. Sehingga nelayan Sangihe tidak perlu pergi jauh untuk menjual ikan­nya, ke Bitung, tapi cukup di Dagho. Dampak­nya banyak, jika investasi ini berhasil. Ne­layan semangat karena hasil tangkapannya pasti laku.

Apa tantangan utama Sangihe?

Tantangan utamanya ada di kualitas sumber daya manu­sia (SDM) dan infrastruktur. Sekolah terus kami perbagus. Untuk infrastruktur kami pinjam dana dari Kemenkeu, dan sudah disetujui 170 miliar rupiah. Ini program pemer­intah, daerah yang DAK-nya kurang bisa meminjam. Pin­jaman lunak. Sehingga kami bisa membangun infrastruktur, jalan, dan fasilitas perikanan.Itu yang utama.

Mengenai pendikan apa kendalanya?

Karena kami daerah kepulauan sehingga akses pendidikan memang belum merata. Ada anak-anak yang harus menyeberangi sungai, sangat berbahaya, un­tuk sekolah. Misalnya saja di Kecamatan Tabukan Selatan Tengah, saya sam­pai meneteskan air mata ketika membayangkan puluhan gen­erasi daerah ini dengan seragam sekolah melewati jembatan bambu yang mulai lapuk mengejar prestasi dengan bertaruh nyawa.

Jujur baru saat itu saya mengetahui kalau ada Jembatan Taturiang Patung ini ternyata sudah ada sejak puluhan tahun dan men­jadi saksi bisu perjuangan anak bangsa untuk menimba ilmu. Ketersediaan guru masih terus kami tambah. Guru jarang yang mau ditempatkan di daerah terpencil.

Jadi kami membuat pro­gram bagaimana mereka bisa betah. Insentif apa yang diperlukan. Kami dibantu LSM sehingga memang pemerintah dan masyarakat harus kompak untuk mengisi mana yang masih kurang.

Bagaimana dengan pen­curian ikan, apakah masih banyak terjadi?

Kami terus antisipasi. Akhir bulan lalu, operasi gabun­gan tim Eastern Fleeat Quick Response (EFQR) Pangkalan Angkatan Laut Tahuna berha­sil menangkap delapan warga negara Filipina di perairan Kabupaten Sangihe. Patrol terus digalakkan.

Apa harapan kepada pe­merintah pusat?

Kami dan DPRD sedang memperjuangkan anggaran ke pemerintah pusat untuk pembangunan talud penga­man pantai di Teluk Tahuna. DPRD sudah meminta koordi­nasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan dalam waktu dekat sudah akan diskusi. Talud ini penting untuk memecah ombak agar pantai aman dan penduduk tidak kena rob.

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment