Pemerintah Sudah Lakukan Langkah Komprehensif | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 30 2020
1 Comment
Penanganan Wabah Virus

Pemerintah Sudah Lakukan Langkah Komprehensif

Pemerintah Sudah Lakukan Langkah Komprehensif

Foto : ISTIMEWA
DISKUSI DARING | Gambar menunjukkan suasana diskusi yang digelar ILUNI UI terkait penanganan virus korona di Jakarta, Rabu (7/4).
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Pakar Resolusi Konflik, Ichsan Malik menilai sebenarnya pemerintah sudah melaksanakan  langkah  komprehensif di tengah dilema masyarakat, mengingat konflik bencana ini sama dengan konflik sosial.

“Posisi masyarakat dalam dilema terbagi menjadi tiga, apakah dia hanya jadi korban, penyintas atau pemimpin di tengah wabah,” ujar Ichsan dalam diskusi "What is to be Done? Dilema Menyelamatkan Masyarakat Dalam Menangani Wabah Corona" yang berlangsung secara daring, Rabu (8/4).

Menurut Ichsan,  masyarakat hanya jadi korban dan banyak juga jadi survivor. Kemudian yang penting dalam penyelesaian konflik adalah reaksi masyarakat, ada 3 reaksi yaitu lari/diam atau reaksi seperti meremehkan. Ada yang emosional. Yang diharapkan paling banyak itu reaksi menghadapi dan mengelola.

Kemudian Ichsan juga memberi strategi intervensi terkait kebijakan pemerintah yang terkesan bolong-bolong. Menurut dia, sudah waktunya untuk tidak tergantung kepada pemerintah pusat. Memastikan berpartisipasinya seluruh pihak dan sektor, serta kecepatan dan tepat guna adalah prinsip dalam pencegahan bencana. “Perlu pemimpin yang berani mengambil keputusan dan melihat ke depan,”katanya.

Dalam diskusi ini, Ketua Policy Center ILUNI UI, M. Jibriel Avessina mengatakan ketika keputusan PSBB tersebut sudah diambil, pemerintah mestinya sudah siap ditambah beberapa daerah sudah ada inisiatif sendiri dan tinggal bagaimana sirkulasi informasinya saja.

“Bisa juga persoalan sirkulasi informasi. Mungkin ada sesuatu yang faktual mengingat kita harus punya sistem informasi yang baik. Kan kita gatau pastinya,” ujar Jibriel

Persoalan lain ternyata terletak pada masyarakat yang masih ingin mudik. Anggota Tim Panel Sosial untuk Kebencanaan, Dicky Pelupessy, mengatakan hasil survei yang ia gelar menunjukkan 68,6 persen masyarakat akan mudik ke kampung halaman di tengah Covid-19 ini.

Sementara itu, 21,3 persen masyarakat tetap akan berpergian ke luar kota untuk keperluan lain. Dicky meminta pemerintah mengantisipasi hal ini guna mencegah penyebaran Covid-19 di daerah-daerah.

"Kami tidak melihat mudik ini sebagai kultur sosial atau tradisi. Tapi aspek kultural ini bisa menimbulkan problem ketika pandemi ini sudah sedemikian bermasalahnya," kata Dicky.

Terkait waktu mudik, Dicky menuturkan 10,3 persen masyarakat berniat pulang kampung di awal-awal bulan ini, 7,1 persen di awal Ramadan, 60,9 persen pada masa cuti bersama lebaran 2020, dan 21,7 persen setelah Idul Fitri.

Dicky menuturkan survei dilakukan secara online pada 28-31 Maret 2020 dan melibatkan 4.770 responden. Keterbatasan studi ini adalah karena dilakukan secara daring maka kecenderungan respondennya mayoritas tinggal di perkotaan dan berpendidikan tinggi.

Menurut Dicky, survei ini dilakukan saat sikap pemerintah soal mudik masih belum jelas. Saat ini, ia yakin saat ini banyak orang yang mengubah pikirannya dan membatalkan keinginan untuk mudik seiring sikap pemerintah yang mulai tegas. ang/AR-3

Klik untuk print artikel

View Comments

angelina caroline
Kamis 9/4/2020 | 16:39
Banyak Hutang ?? bingung bayar cicilan mobil ? motor?Hadir Aplikasi yang bisa membantu anda menghasilkan penghasilan sampingan dengan mudah , penasaran? ayuk klik disini http://bit,ly/aaTT4PP (tanda koma di ganti tanda titik)

Submit a Comment