Koran Jakarta | September 22 2018
No Comments
Lingkungan Hidup

Pemda Bali Bisa Tiru Cara Pemprov DKI Jakarta Tangani Sampah

Pemda Bali Bisa Tiru Cara Pemprov DKI Jakarta Tangani Sampah

Foto : ANTARA/SIGID KURNIAWAN
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, mengimbau Pemda Bali dapat mencontoh apa yang sudah diterapkan di Jakarta untuk meminimalisir sampah yang terjadi di Bali. Menurutnya, upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menangani sampah sudah dilakukan dengan baik.

“Caranya mungkin polapola di DKI ada yang baik, ada yang bisa ditiru, misalnya dikenakan denda dipatroli terus-terusan,” kata Siti usai melakukan rapat koordinasi penanganan sampah di Bali, di Kantor Kementerian Koordinasi Bidang Kemaritiman, Jakarta, Selasa, (13/3). Pulau Dewata, Bali kembali menjadi perbincangan hangat.

Setelah bencana erupsi Gunung Agung menyita perhatian masyarakat internasional, baru-baru ini sebuah video yang diunggah oleh seorang traveler asal Inggris mendadak viral di berbagai media sosial. Dalam video singkat yang diunggah oleh Rich Horner melalui akun YouTube-nya, terlihat jelas sampah plastik dan bungkus makanan berwarna kuning memenuhi perairan laut Bali yang selama ini dikenal akan keindahannya.

Horner menemukan pemandangan mengejutkan tersebut di kawasan Manta Point, Nusa Penida, Bali. Upaya untuk menangani sampah yang ada di Bali dapat dilakukan tidak hanya mengikuti pola seperti di DKI Jakarta. Namun di daerah-daerah seperti Bandung dan Surabaya juga bisa diterapkan agar bisa lebih efektif.

“Di Surabaya maupun di Bandung cara-cara yang bagus itu bisa ditiru. Kalau di Bandung, anak-anak sekolah setiap hari Senin sampai Rabu mungut sampah dia. Jadi, sebetulnya anak-anak diajarin seperti itu. Jadi, prinsipnya mengurangi sampahnya, manfaatkan sampahnya,” terang dia.

Sementara, kata Siti, menurut catatan kepala daerah di Bali, terdapat 52 tempat pembuangan sampah yang belum terkelola dengan baik. Karena itu peran pemerintah daerah harus lebih optimal lagi. “Yang dibuang saja gitu oleh masyarakat itu ada 52 spot. Nah, itu harus ditangani. Dan memang pemerintah harus mendukung pusat-pusat daur ulang yang sederhana di tempat- tempat sampah.

Yang terjadi pusat daur ulang ditaruh begitu saja karena buat daerah sampah itu kan cost center yah. Dia susah,” ujarnya. Kemudian, untuk mengurangi timbunan sampahnya, mengelola sampah-sampah yang sudah ada, harus dilakukan pemanfaatan. Misalnya dibuat untuk biodiesel, dari sampah menjadi energi. “Semua itu bergantung pada kesiapan pemda untuk itu,” tandasnya. 

 

sur/Ant/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment