Koran Jakarta | October 18 2019
No Comments
Pemerataan Pembangunan I Dorong Investasi Properti

Pembangunan Ibu Kota Baru Bisa Tangkal Resesi

Pembangunan Ibu Kota Baru Bisa Tangkal Resesi

Foto : ANTARA/FAKHRI HERMANSYAH
A   A   A   Pengaturan Font
Bambang yakin pembangunan ibu kota baru akan mendatangkan banyak investasi, khususnya di sektor properti.

 

JAKARTA – Menteri Per­encanaan Pembangunan Na­sional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Bambang Brod­jonegoro, menyatakan pem­bangunan ibu kota baru di Provinsi Kalimantan Timur bisa menangkal risiko resesi yang kini sedang dihadapi oleh sejumlah negara saat ini.

“Kami coba mengarahkan pembangunan ibu kota baru adalah countercyclical (pe­nyangga) untuk menghadapi resesi tahun depan,” ucap Bam­bang, di Jakarta, Rabu (18/9).

Resesi ekonomi adalah kondisi di mana perekonomian yang tecermin dari Produk Do­mestik Bruto (PDB) menurun dan pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Bambang yakin pembangunan ibu kota baru akan mendatangkan banyak investa­si, khususnya di sektor properti. Dari investasi inilah, Bambang berharap dapat membantu mendorong ekonomi nasional.

“Kebetulan ibu kota baru bukan banyak di sektor manufaktur, tapi properti. Bicara properti bukan sekadar sektor kekinian, pengusaha properti berpikir jauh,” jelasnya.

Dalam simulasi yang di­lakukan oleh Bappenas, pem­bangunan ibu kota baru di Ka­limantan Timur (Kaltim) bisa mendorong investasi hingga 47,7 persen di kawasan itu. Sementara, di Pulau Kaliman­tan sendiri akan menambah sekitar 34,5 persen dan untuk Indonesia 4,7 persen.

“(Ibu kota baru) ini dibangun untuk 1,5 juta orang. Nah, otomatis pembangunan ibu kota baru menjadi salah satu kota terbesar di Kaliman­tan Timur, sehingga wajar ka­lau investasi riil naik hampir 50 persen,” ujar Bambang.

Menurutnya, beberapa provinsi lain yang akan kecipratan investasi langsung dari pemin­dahan ibu kota adalah Sulawe­si Selatan, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Tengah, Indonesia bagian timur, dan DKI Jakarta.

“Sulawesi Selatan paling be­sar (kecipratan investasi lang­sung), lalu Sulawesi Tenggara,” imbuhnya.

Khusus di Sulawesi Selatan,, diprediksi terjadi peningkatan investasi di sektor semen, per­tambangan, dan peternakan. Sementara itu, sektor usaha yang akan dilirik investor di Kaltim, antara lain konstruksi, kesehatan, dan restoran.

Dalam jangka pendek, in­vestasi itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi Kaltim sebesar 7,3 persen, Pulau Ka­limantan 4,7 persen, dan In­donesia 0,6 persen. Sementara jangka menengah dan panjang bisa mendorong ekonomi Kal­tim sebesar 6,8 persen, Pulau Kalimantan 4,3 persen, dan nasional 0,02 persen.

Pemerintah akan memasang beberapa skema pendanaan un­tuk membangun ibu kota baru. Total dana yang dibutuhkan un­tuk memindahkan ibu kota baru sekitar 466 triliun rupiah.

Bambang menargetkan se­banyak 253,4 triliun rupiah atau 54,4 persen dari total dana yang dibutuhkan akan dipenuhi me­lalui skema kerja sama pemerintah dan badan usaha. Lalu, khusus swasta sebesar 123,2 triliun rupiah atau 26,4 persen dan APBN hanya 89,4 triliun rupiah atau 19,2 persen. bud/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment