Koran Jakarta | September 16 2019
No Comments
PERADA

Pelajaran Integritas dari Orang-orang Sederhana

Pelajaran Integritas dari Orang-orang Sederhana

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Orang-orang Biasa
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : Februari 2019
Tebal : 368 halaman
ISBN : 978-602-291-524-9

 

 

 

Kehidupan orang-orang Melayu rupanya tak habis-habisnya mengilhami Andrea Hirata. Kehidupan biasa-biasa saja disuguhkan secara menarik. Orang-Orang Biasa adalah novel yang terinspirasi dari kekecewaan besar akan kegagalan memperjuangkan seorang anak miskin yang pintar masuk Fakultas Kedokteran Universitas Bengkulu.

Meski telah diterima, anak tersebut tak dapat kuliah karena tak mampu membayar uang muka. Semua koperasi dan bank tak ada yang mau memberi pinjaman lantaran tak ada jaminan sama sekali. Pekerjaan pun tidak pasti. Cerita novel ini menghadirkan 10 orang biasa.

Mereka adalah Debut yang membuka toko buku di tengah masyarakat yang tak suka membaca. Salud, pekerja serabutan yang mengandalkan tenaga. Rusip, pemilik perusahaan cleaning service yang terancam gulung tikar. Nihe dan Junilah pegawai CV milik Rusip. Kemudian, Sobri, sopir tangki septic. Honorun, guru honor. Tohirin, kacung pelabuhan. Handai yang terobsesi menjadi pembicara motivasi, dan Dinah, penjual mainan anak-anak yang sering dikejar hansip.

Kehidupan para tokohnya memang menyedihkan. Namun, mereka menyimpan hati emas. Siapa sangka mereka yang semasa sekolah sangat memprihatinkan, memiliki pemikiran luar biasa. Mereka siap membantu Dinah menyekolahkan anaknya, Aini. Ketika kemiskinan begitu membelit, tebertik perampokan.

“Di mana semua uang di dunia ini berada? Semua uang di dunia ini ada di bank. Anakmu harus masuk Fakultas Kedokteran itu! Apa pun yang terjadi! Seorang ibu rela memotong tangan demi anaknya! Hapus air matamu, Dinah! Siapkan dirimu! Siapkan dirimu baik-baik! Karena kita akan merampok bank itu!” (hlm 79). Apakah rencana mereka berjalan dengan baik? “Kini, mereka merasakan sendiri bahwa merampok memang mustahil dapat dilakukan orang-orang awam yang tak berjiwa penjahat (hlm 189).

Sementara itu, seorang Inspektur Abdul Rojali dan polisi muda, Sersan P Arbi dilanda paradoks tanggung jawab. Mereka lesu bertugas karena minimnya angka kriminalitas. Daerah kerja mereka, kota Belantik, hampir tak ada kejahatan.

Sering kali keduanya hanya membuat surat kelakuan baik dan menekennya. Padahal, mereka berdua ingin melakukan hal-hal heroik sebagaimana Shah Rukh Khan dalam film-filmnya. “Menelaah papan tulis statistik kejahatan itu, yang demikian minim angkanya, sehingga tak bisa dijadikan diagram batang, diagram cucur atau diagram naik-naik ke puncak bukit. Barangkali tak ada yang keberatan jika dikatakan Belantik adalah kota ukuran sedang paling aman dan paling naif di seluruh dunia. Suatu kota di pinggir laut yang penduduknya telah lupa cara berbuat jahat,” (hlm 5).

Kedua abdi negara itu tak tersentuh, tak bisa disogok, tapi berdedikasi. “Dunia ini rusak gara-gara banyak bawahan yang suka melapor asal atasan senang, Sersan! Bawahan semacam itu para penjilat! Kalau melaporkan apa pun pada saya, apa adanya, Sersan! Jangan dikurang-kurangi. Jangan ditambah-tambahi!” (hlm 48).

Ketika anaknya tidak keterima mendaftar sekolah perawat, kepala sekolah memberikan keistimewaan bagi anak-anak pejabat. Tetapi inspektur menjawab bahwa anaknya tidak lulus tes. Dia merasa bukan pejabat. Lalu ketika ditawari beasiswa dia menjawab, besiswa hanya untuk orang-orang tak mampu, bukan orang pekerja sepertinya (hal 64–65).

“Maaf, kawan, uang korupsi, uang haram, sesen pun aku tak mau menyekolahkan anakku dengan uang ini. Mendengar penuturan Dinah, teman-temannya menjawab,

“Kami sudah sepakat untuk mengumpulkan uang. Menjual apa saja yang bisa dijual. Meminjam dari mana saja. Berdemo, mogok makan, apa saja asal anakmu dapat masuk Fakultas Kedokteranitu, Dinah. Kami pun tak mau uang itu,” (hlm 224). 

 

Diresensi Yeti Islamawati, lulusan UNY

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment