Koran Jakarta | May 28 2018
No Comments
Mata Uang - Bankir Yakin BI Naikkan Suku Bunga 0,25 Persen

Pasar Nantikan Realisasi Kenaikan Bunga Acuan BI

Pasar Nantikan Realisasi Kenaikan Bunga Acuan BI

Foto : Sumber: Bloomberg – Litbang KJ/and
A   A   A   Pengaturan Font

>>Kurs rupiah sempat menyentuh level terlemah sejak pertengahan Desember 2015.

>>Rangkaian aksi terorisme dinilai semakin meningkatkan ketidakpastian pasar Indonesia.

 

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus tertekan, bahkan sempat menembus level 14.100 rupiah per dollar AS pada Rabu (16/5) siang.

Pelaku pasar mengatakan tekanan depresiasi rupiah itu lebih banyak dipicu faktor dalam negeri, seperti kerawanan keamanan menyusul serangkaian aksi terorisme di sejumlah kota, dan defisit neraca perdagangan yang memburuk.

Selain itu, pelaku pasar juga menantikan kepastian kenaikan suku bunga acuan, BI-7 Day Reverse Repo Rate, yang akan diputuskan pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) hari ini.

Di sisi lain, melambungnya kembali imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS yang menyentuh level 3,07 persen juga ikut menekan posisi rupiah.

Kenaikan imbal hasil US Treasury itu juga berpotensi mendorong kenaikan yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun hingga kembali naik ke atas level 7 persen.

Kurs rupiah pada perdagangan di pasar spot, Rabu, sempat menyentuh 14.108 rupiah, atau posisi terlemah sejak 16 Desember 2015 di level 14.123 rupiah per dollar AS.

Di akhir perdagangan, mata uang RI itu melemah 60 poin (0,43 persen) dibandingkan penutupan hari sebelumnya, menjadi 14.097 rupiah per dollar AS. Secara year to date (ytd) per 16 Mei 2018, rupiah terdepresiasi empat persen.

Depresiasi rupiah itu dinilai menambah tekanan pada Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan BI-7 Day Repo Rate dari posisi 4,25 persen saat ini, guna meredam pelemahan rupiah lebih lanjut.

“Sentimen investor telah lemah sejak awal, dan sekarang ada serangkaian serangan bom dan berbagai laporan tentang ketakutan teror lainnya.

Semua ini telah meningkatkan ketidakpastian pasar Indonesia lebih jauh,” ujar John Teja, Direktur PT Ciptadana Sekuritas Asia, seperti dikutip Bloomberg, Rabu.

Ekonom Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, menambahkan merosotnya kurs rupiah karena gelombang keluarnya dana di pasar uang sangat besar.

“Jadi, karena memang ada capital outflow, ekspektasi kenaikan Fed Fund Rate, serta market yang mengharapkan sinyal kenaikan bunga acuan BI segera diwujudkan,” kata Telisa.

Menurut dia, meskipun BI sudah memberikan sinyal kuat kenaikan bunga, tapi pasar masih menunggu kepastian.

Telisa mengatakan BI memang menghadapi dilema dalam kebijakan suku bunga. Di satu sisi, kenaikan bunga diharapkan meredam capital outflow dan tekanan depresiasi rupiah.

“Tapi di sisi lain, ekonomi kita perlu stimulus juga. Kalau bunga acuan naik, dikhawatirkan suku bunga kredit akan naik sehingga berpeluang menghambat pertumbuhan,” jelas dia.

Makanya, kata Telisa, agar sektor riil tetap tumbuh, dan BI bisa melakukan pengetatan moneter maka kebijakan sisi makro prudensialnya perlu dijaga. “Dari sisi bunga naik, tapi makro prudensialnya dilonggarkan. Atau fiskalnya dilonggarkan walaupun sekarang sudah sempit juga,” tutur dia.

Tekanan Global

Kalangan bankir bank-bank besar meyakini BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,5 persen pada RDG 16–17 Mei 2018 ini.

“Tekanan global ini akan mendorong kemungkinan BI menaikkan bunga acuannya sekitar 0,25 persen,” ujar Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BRI), Suprajarto.

“Kalau suku bunga BI naik, ya otomatis (suku bunga simpanan) naik,” imbuh dia. Meski demikian, kata Supra, BRI tidak akan langsung menaikkan suku bunga kredit untuk mengompensasi biaya dana karena suku bunga simpanan yang meningkat.

Dia menyatakan akan meningkatkan efisiensi agar beban operasional tidak meningkat. “Suku bunga kredit, saya berusaha untuk tidak naik. Cost of fund bisa ditutup dengan yang lain,” ungkap dia.

Kalangan bankir juga melihat urgensi bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga, karena arus modal keluar yang semakin menekan nilai tukar rupiah.

Direktur Utama PT Bank Mandiri Persero Tbk, Kartika Wirjoatmodjo, mengemukakan BI tidak perlu terlalu khawatir perbankan akan merespons kenaikan suku bunga acuan dengan langsung menaikkan suku bunga kredit.

Pasalnya, permintaan kredit saat ini juga belum begitu pulih. Jika suku bunga kredit ikut naik, dikhawatirkan akan semakin menggerus permintaan kredit. “Perlu ada respons kebijakan dari BI ketika pasar sudah bergejolak,” kata Kartika. ahm/Ant/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment