Koran Jakarta | September 16 2019
No Comments

Panduan “Parenting” 10 Tahun Pertama Anak

Panduan “Parenting” 10 Tahun Pertama Anak
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Apa yang Dilakukan Orang Tua Hebat
Penulis : Erica Reischer, PhD
Penerbit : Gramedia Widiasarana Indonesia
Cetakan : 2019
Tebal : 192 halaman
ISBN : 978-602-051-687-5

Sepuluh tahun pertama menjadi tantangan tersendiri orang tua dalam mengasuh anak. Yang masih awam dan anak dalam proses perkembangan membuat pengasuhan penuh suka duka. Buku ini memberi panduan parenting masa-masa per­tumbuhan dan perkembangan anak. Parenting adalah keterampilan yang perlu dipelajari terus. Pandangan ini membantu orang tua tidak mudah menghakimi diri saat membuat kesa­lahan. Mereka harus bersikap ter­buka, mau belajar, dan terus mencari informasi baru dalam membangun keterampilan-keterampilan parenting (hal 10).

Parenting hebat itu bergantung pada kesadaran yang ditanamkan.Pendekatan yang tepat pada saat ter­tentu berbeda bagi anak lain. “Karena suasana hati dan situasi terus berubah, orang harus menyadari yang terjadi dan diperlukan,” kata Erica. Misalnya, saat orang mengalami konflik dengan rekan kerja dan tertekan, dia mesti pandai menempatkan diri di hadapan anak di rumah. Orang tua bisa berhenti sejenak, merefleksikan, dan membuat “pilihan” yang pantas dilakukan, bu­kan langsung bereaksi.

Parenting hebat berlandaskan pada riset yang berguna bagi anak. Riset yang baik membantu menjernihkan langkah yang berhasil dan gagal. Misal­nya, tentang memberi pujian. Secara intuitif, semakin banyak memberi pu­jian, anak akan semakin percaya diri.

Namun hasil riset berkata lain. Anak yang menerima pujian berlebihan, terutama bila tidak spesifik berbasis perlakukan dan kemampuan (seperti “bagus!” atau “kamu pintar sekali!”) cenderung kurang memberi percaya diri (hal vi). Pujian yang tepat bukan berbasis kemampuan, namun upaya memotivasi anak.

Satu alat tunggal paling hebat yang dimiliki semua orang tua adalah empa­ti. Empati kepada anak memberi rasa hormat pada perasaan dan realitas me­reka. Ini berbeda dengan perasaan dan realita orang dewasa. Tetapi memprak­tikkan empati tidak harus mengubah kondisi. Misalnya, ketika melihat ikat pinggang anak tidak nyaman. Orang tua bisa berempati tanpa harus me­lepaskan ikat pinggang itu.

Aspek penting parenting adalah kedisiplinan. Sedang disiplin adalah pembelajaran, bukan penghukuman. Saat orang tua marah ketika mendi­siplinkan anak, besar kemungkinan orang tua ingin memberi hukuman yang tidak sepadan dengan pelang­garan anak. Ini membuat perhatian anak justru terfokus pada sikap orang tua yang hendak menghukum (hal 66).

Selain itu, menjelaskan alasan di balik suatu aturan itu penting karena membantu anak belajar mempertim­bangkan tindakan mereka. Mamang itu tidak seketika membuat anak patuh pada aturan tersebut. Na­mun setidaknya bisa menunjukkan kepadanya, tujuan orang tua masuk akal. Ini bisa memberi contoh manfaat penggunaan alasan yang baik untuk memotivasi anak (hal 112-113).

Suatu prinsip parenting kadang mudah dipahami, namun sulit diprak­tikkan. Maka, setiap strategi di buku ini diakhiri bagian bertajuk “cobalah”, berisi ide-ide spesifik tentang cara menggunakannya. Contoh, ada pan­duan bagi orang tua ketika mengasuh setelah waktu sekolah agar mempriori­taskan opsi yang memungkinkan anak punya waktu bermain. Pakar seperti David Ekind merekomendasikan waktu kegiatan ekstrakulikuler tidak melebihi waktu untuk bermain (hal 146).

Buku ini membantu orang tua membangun landasan kokoh agar anak tumbuh pesat. Ide, pendekatan, dan contoh-contoh diarahkan untuk khusus masa 10 tahun pertama anak. Buku bermula dari berbagai permin­taan membuat ringkasan praktik-prak­tik parenting terbaik yang berorientasi pada tindakan. Buku juga melampir­kan contoh konkret dan kiat praktis penulis sebagai seorang psikolog dan pendidik orang tua. Diresensi Dessy Kurniawati,lulusan Universitas Muria Kudus

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment